bab 26 : kepemilikan

6.3K 679 39
                                        

Walau bagaimana pun Kahaya mencoba mengorganisir hal-hal, kesalahan pasti akan tetap ditemukan saat kita masih menjadi karyawan, apa lagi dengan bertumpuk-tumpuk hafalan yang harus dia ingat, latihan untuk soal matematika, dan lain sebagainya.
 
Pak Suroto adalah orang yang sangat mencintai kebersihan, apalagi dia sendiri adalah pemilik usaha makanan yang bisa dibilang cukup sukses dalam bidangnya.

Menggaji 23 karyawan, pendapatan yang akan Pak Suroto dapatkan dalam sehari pasti mencapai 10 juta lebih, atau 15 juta jika termasuk uang kotor.
 
‘’Kamar mandi. Bapak sudah mengatakan berulang-ulang kali, sebelum semuanya dilakukan, kamar mandi adalah hal utama yang harus kalian perhatikan, sudah dibersihkan atau belum, kotak sampah didalam sudah dicuci atau belum, air di dalam sudah dikuras atau belum. Prioritas yang terpenting sebelum mempersiapkan semuanya adalah itu’’
 
‘’Ini rumah makan, jika kamar mandi kotor seperti itu bagaimana orang bisa tega melihat makanan mereka lagi, mereka akan kehilangan nafsu makan! Siapa yang biasa membersihkan kamar mandi, kenapa kamar mandi bisa sampai sekotor ini?!’’
 
Pak Suroto menunjuk pada kotak sampah yang dia keluarkan sendiri dari dalam kamar mandi, memang ada beberapa lalat disana karna Kahaya lupa beberapa hari ini membersihkannya saat turun sebelum mencuci kangkung, membungkus sambal, dan lalapan.
 
Benar-benar bodoh, bagaimana bisa dia melupakan ini.
 
Salah satu karyawan wanita yang dari mereka bertiga menjawab dengan gumaman, "Kahaya pak.."
 
"Kahaya, Kahaya, Kahaya terus yang kalian salahkan, bapak tau siapa yang rajin dan siapa yang tidak, dan Kahaya adalah karyawan paling lama dan paling rajin yang bapak miliki, kamu, kamu tidak cukup lama di sini, belum ada 2 tahun dan bapak melihat pekerjaanmu juga biasa-biasa saja"
 
Menunjuk pada karyawan wanita itu Pak Suroto juga terlihat memasang wajah marah,
’’Bapak tidak pernah melarang kalian untuk mewarnai rambut, tetapi tolong, kuncir rambut kalian itu, karna bukan tidak mungkin rambut kalian yang banyak itu akan rontok di nasi atau makanan orang. Lalu bisakah kalian ini sedikit kompak, saat ada orang masuk, harusnya langsung diberi menu, tidak usah diteriak-teriakki dulu sebelum kalian semua bergerak’’
 
‘’Kahaya masih sekolah, tidak pernah dia libur satu haripun selama dia bekerja di tempat Bapak, jadi jangan ada yang memusuhi anak sekecil ini, kau yang berusia lebih tua beberapa tahun darinya seharusnya lebih tahu diri"
 
Menoleh pada Kahaya, Pak Suroto berkata, "Kahaya, besok buatkan jadwal piket untuk pembersihan kamar mandi" melihat lagi pada segerombolan karyawan yang saat ini berkumpul didepannya pak suroto menekankan, "mulai besok, kamar mandi akan ada jadwal piketnya, siapapun yang tidak menuruti itu, kalian tidak akan diberi uang harian, dan. Bapak. Tekankan. Jika ada orang masuk saat yang bertugas melayani sedang sibuk karna ramai, kalian para wanita pembungkus saat menganggur harus ikut membantu, jangan hanya duduk dan diam saja. Menu dan makanan itu tidak bisa berjalan sendiri, mereka butuh kaki dan tangan manusia untuk mengantarnya, kalian mengerti?"
 
Walaupun Pak Suroto tidak menoleh kepada mereka bertiga, orang yang memiliki otak setengah jika dipanggil para pembungkus wanita juga akan mengerti bahwa Bos mereka sedang menyinggung secara tidak langsung pada mereka, Kahaya melihat para wanita itu menggaguk dengan gugup, dan ada yang menjawab 'ya' dengan lirih.
 
Pergi tanpa kata-kata lagi, Pak Suroto berhenti sejenak, untuk kalimat, "Kahaya, ikut bapak, bapak ingin berbicara padamu"
 
"Deg" Kahaya dapat mendengar suara jantungnya berdegup.
 
Selama Kahaya bekerja disini, dia selalu berusaha untuk melakukan semaksimal mungkin, maka tidak pernah sekalipun Pak Suroto dan Bu Mustofa memarahinya, itu karna menurut Kahaya bekerja disini sudah merupakan berkah baginya, dia ingin mempertahankan pekerjaan ini bagaimanapun caranya.
 
Semua fikiran melayang di kepala Kahaya tentang kesalahan apa yang parah yang dia buat.
 
Kahaya menaiki tangga dengan gugup mengikuti Pak Suroto dibelakang.
 
Warung makan sudah tutup, ini pukul 12 malam lewat, makanan yang dibungkus Kahaya untuk dimakannya dan Bara tertinggal dibawah.
Tetapi Kahaya sekarang tidak mengkhawatirkan hal itu, ini seperti dia dipanggil keruang BK karna membuat masalah, meskipun Kahaya tidak pernah sekalipun memasuki ruangan itu.
 
Melihat wajah gugup gadis kecil, yang lebih muda beberapa tahun dari putrinya itu Pak Suroto membuat ekspresi melembut, "duduk disini Kahaya, bapak tidak sedang memarahimu, bapak hanya ingin membicarakan tentang gajimu"
 
Bernafas lega karna ini bukan tentang pemecatan, Kahaya duduk disana dengan canggung.
 
Pak Suroto masuk kedalam kamar, mengambil buku, dan tidak beberapa lama Bu Mustofa yang ada di kamar mandi lantai 2 sebelumnya keluar, dan bertemu dengannya yang duduk di depan pintu kamar.
 
"Kau sudah disini Kahaya, tunggu sebentar, Bapak sedang mengambil buku catatan" Bu Mustofa berkata sambil duduk disebelahnya.
 
Terakhir kali kejadian ini terjadi adalah saat pertama kali Kahaya memohon-mohon pada mereka untuk mempekerjakannya disini, entah apa yang akan mereka bicarakan tetapi dia sudah sangat gugup, jantungnya berdetak dug dug dug karena penasaran dan rasa takut.
 
Pak Suroto keluar dengan membawa buku tebal lengkap dengan pena di tangan kanannya, sebelum duduk di kursi depan yang tidak memiliki meja itu dengan cermat melihat lembaran buku, ‘’kau sudah bekerja disini sangat lama Kahaya, karyawan bapak paling lama yang mengikuti adalah Sugito, dan yang lainnya adalah kau nak, bapak sempat berfikir bahwa tidak akan berhasil padamu tetapi bapak salah, pekerjaanmu lebih berat daripada mereka semua, semua pasti memiliki keberatan dalam pekerjaan yang mereka jalani masing-masing, bapak paling tidak suka dengan karyawan yang iri-irian, malas-malasan, suka mengeluh, dan lain sebagainya, dan kau tidak melakukan itu semua’’
 
"Bapak dan Bu Mustofa sudah berdiskusi untuk menyamakan gajimu dengan Sugito, dia bertugas memasak, dan menyambal, kau juga masih mencuci pakaian, melipat baju, menyetrika, dan membersihkan seluruh rumah setelah pekerjaan’’
 
‘’Menurut bapak itu perlu karna kau masih harus bekerja sedangkan mereka sudah beristirahat, kak Sugito bapak berikan gaji 1.500 ribu perbulannya, jadi 800 ribu perbulanmu itu bapak naikkan 700 ribu, bapak harap kau bisa bekerja lebih giat lagi, dan harap merahasiakan hal ini dari karyawan lain"
 
1.500?
 
1.500?!
 
Kahaya tidak pernah bermimpi untuk dinaikkan gaji sebesar itu, dengan sangat serius Kahaya mengucapkan terimakasihnya, bahkan matanya pun berkaca-kaca untuk gaji yang sebesar itu diumurnya yang sekecil ini, Bapak Suroto dan Bu mustofa menasihatinya untuk menyimpan uang itu di bank saja, karna jika di letakkan didalam kamar itu tidak akan aman, melihat banyaknya orang yang keluar masuk di ruko ini.
 
Kahaya dengan jujur berbicara bahwa dia sudah memiliki rekening di bank, dan lain sebagainya yang dengan aman akan menjaga uang setiap bulannya itu dengan benar.
 
Mereka bertanya tentang bagaimana sekolahnya, Kahaya juga dengan jujur memberitahu mereka bahwa dia tidak perlu membayar uang bulanan karna dia juara 2 umum, dan mendapat beasiswa, jadi mereka tidak perlu khawatir.
 
Kahaya dapat melihat segala ekspresi mereka, dari terkejut menjadi lebih kagum padanya, Pak Suroto membelai puncak kepalanya, seperti saat dia membelai puncak kepala Bara setiap kali Bara melakukan hal yang menurutnya baik.
 
"Berapa uang bangunan di SMP 26 Kahaya?" Bu Mustofa bertanya.
 
"Jika harga normal untuk jalur tes adalah 4.500 ribu bu, tetapi beruntungnya Kahaya mendapat kuota jalur undangan di gelombang 1, sehingga dapat potongan dengan setengah harga, Kahaya hanya membayar 2.500 ribu untuk biaya pendaftaran dan pembangunan"
Kahaya menjawab dengan berhati-hati.
 
Pak Suroto membuat suara kagum, dan untuk sekian kalinya membelai kepalanya, "Wahh nak, bagaimana kau bisa menjadi begitu luar biasa, nanti, jika butuh apapun, tolong hubungi bapak, kau adalah karyawan bapak, jangan sungkan untuk meminta pertolongan jika sedang dalam keadaan susah, dengar Kahaya?"
 
"Iya pak" Kahaya mengangguk dan menjawab.
 
Dengan itu kata-kata selesai, dan Bu Mustofa menyuruhnya untuk beristirahat, tetapi karna jarak yang tidak begitu jauh, Kahaya masih dapat mendengar pembicaraan mereka.
 
"Betapa kasihannya, aku berfikir untuk mengadopsinya selalu setiap hari" suara Bu Mustofa berbicara.
 
Walaupun tidak melihat, tetapi Kahaya tahu bahwa Pak Suroto sedang menggelengkan kepalanya dan berbicara setelah merenung, "tidak, kau tahu sendiri sifat putri kita, dia akan merasa tersisih, sudahlah, cukup bantu semampu kita saja, aku yakin Kahaya juga memiliki pilihannya sendiri, jika kita mengajukan pengadopsian, jika dia menolak, dia akan merasa canggung pada kita nanti"
 
Setelah itu Kahaya tidak mendengar suara mereka lagi karena dia telah memasuki kamar dan menutup pintu.
 
Melihat kecermin, dia tersenyum.
 
Tidak apa-apa Kahaya, tidak apa-apa, kau sudah melakukan yang terbaik, kau adalah anak yang baik yang akan tumbuh dengan tidak dikasihani lagi dimasa depan, tidak apa-apa Kahaya.. semua akan baik-baik saja.. percayalah.
 
Karna pembicaraan dengan Bu Mustofa dan Pak Suroto tadi Kahaya dapat datang ke lapangan hanya pukul 12 tengah malam lewat 43 menit.
 
Bara sedang menunggunya di depan pintu ruko sebelah, ini agar para karyawan tidak melihat Bara, karna Kahaya tidak ingin mereka bertanya-tanya.
 
Sekarang Bara mengantar jemputnya, karena sepeda dia yang membawa, Kahaya tidak ingin ditanya-tanyai bagaimana tentang pembelian sepedanya, makadari itu Kahaya menyuruh Bara saja yang membawa sepeda selama ini.
 
Sesampainya mereka dilapangan, melihat rumput belukar yang telah meninggi sekarang sampai ke leher Bara, Kahaya menghela nafas menyesal.
 
Kahaya menggosok puncak kepala Bara, "aku ingin mengganti tempat pertemuan kita, tetapi aku bingung ingin menggantinya kemana, apa kau punya tempat rekomendasi untuk ini Bara?"
 
2 gawang yang tidak terlihat lagi juga membuat Kahaya bertanya-tanya, bagaimana tempat ini sangat tidak terurus sejak mereka menemukannya, jika bukan karna lampu-lampu yang masih hidup, maka tempat ini mungkin sudah menjadi tempat yang sangat suram.
 
"Bagaimana dengan warnet?" Bara berpendapat.
 
Mengangguk-angguk, Kahaya mempertimbangkan.
 
"Tidak akan hujan disana, ada atap, kau bisa membawa baju sekolah dan mandi disana, juga.. tidur disana" Bara melanjutkan
 
Kahaya tertawa, "bilang saja itu agar kita tidak berpisah terlalu lama, kau sangat penuh rencana sekarang Bara"
 
Bara datang dan memeluknya, "itu memang benar, ada dua sofa di gudang, sudah kubersihkan, cukup untuk kita tidur.. tidak bisakah kau tidur di warnet saja Kahaya, kita bisa berangkat bersama dari sana"
 
Orang dipelukkannya meringkuk begitu dekat, Kahaya dapat merasakan tarikan dan hembusan nafasnya dikulit lehernya, menghela nafas Kahaya berbicara, "baiklah-baiklah, kita akan merencanakan ini nanti"
 
Rice cooker ada di dalam kamarnya, bahan-bahan juga ada disana, pemanggang roti juga, dia tidak akan bisa memasak jika dia pindah dan tidur ditempat Bara.
 
Tetapi karena Bara sangat menginginkannya, mungkin sekali-kali, Kahaya akan menginap disana.
 
Mengganti topik, Kahaya berbicara padanya. "Sudah menghafal semuanya?"
 
Bara mengangguk dan mereka membicarakan tentang soal-soal sebelum makan malam.
 
Ingat tentang sesuatu Kahaya menyuarakan, "Oh benar, bagaimana dengan anggota kelompok kita yang lainnya?"
 
Bara, "dia teman sekelasku, kami sudah membicarakannya dan dia sudah setuju untuk bergabung"
 
Bara menyelesaikan makannya pertama, Kahaya merapikan kotak-kotak itu dan memasukkannya kedalam bungkus plastik untuk diletakkan dikeranjang sepeda, sambil berkata, "Peringkat berapa dia dikelas?"
 
"Dia dibawah kita Kahaya, juara umum 3, namanya Rahayu" Bara menjelaskan.
 
"Ah.. aku tau dia" Kahaya mengangguk, memikirkan betapa cemerlangnya gadis itu, terkenal karena anak ketua yayasan disekolah lain, dan betapa cantik dan pintarnya dia.
 
Lili banyak membicarakan tentangnya juga.
 
"Gajiku naik Bara, menjadi 1.500, jika kuhitung untuk 1 tahun aku bisa mendapatkan 18 juta, ditambah dengan gajimu 650 dalam setahun yang bisa kita dapatkan adalah 25.800.000. Itu belum ditambah dengan uang harian, uang yang kita dapatkan setiap 2 bulan dari bantuan sekolah, belum juga uang dari lomba-lomba yang kita menangkan. Saat aku memikirkan berapa banyak uang yang kita miliki, aku menjadi sangat bersemangat"

Melihat Bara dengan bersungguh-
sungguh, Kahaya berkata,
"karena itu hasil jerih payah kita sendiri, kita mendapatkan itu dari hasil keringat kita sendiri Bara, betapa menakjubkannya itu. Itu milik kita"
 
Melihat binar mata, gadis di depannya, Bara mengangguk dengan gumaman dia menjawab. "En, itu milik kita Kahaya. Kita berdua"
 
Dia sangat menyukai kata-kata ini. Hanya mereka berdua. Betapa baiknya itu.

Leave me, and I die (complete)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang