Bara berada diruangan kosong, sangat gelap disini, tetapi dia tidak merasakan apapun, dia hanya diam, ditempat yang sama, bergabung dengan kegelapan itu sendiri.
Sampai sesosok putih jatuh kelengannya seperti kupu-kupu.
Dia mendongak kaget, dan melihat kahaya mengawasinya sambil tersenyum, ''Bara, apa kau sangat menyukaiku?''
Bara menatap kosong. Dia tidak bisa menahan diri untuk tidak menyentuh wajahnya.
Sungguh wajah yang sangat patuh, begitu adil, dan cantik.
Ini adalah kahaya nya, kekasihnya.
Miliknya.
Bara tidak bisa membantu tetapi menganggukkan kepalanya, ''ya, aku sangat menyukaimu kahaya''
Mendengar respon seperti itu darinya, Kahaya, kekasihnya, dengan lembut menyandarkan kepala didadanya.
Lalu memanjat keatas, bertatap mata dengannya sambil menyungingkan senyum manisnya.
Bara melihat bibir tipis, merekah merah, yang selalu mengundang.
Dengan kesurupan, dia maju mendekat, tetapi gadis itu malah menutupi mulutnya dengan tangan putih lembutnya, sambil berkata dengan pelan, ''kau boleh menciumku, tapi.. Ada syaratnya''
''katakan Kahaya, apa yang bisa kulakukan. Apapun'' dia berbicara sambil mengelus, bibir gadis itu.
Bara melihat kekasihnya itu mengeluarkan sebuah pisau yang datang entah dari mana, dan memberikan padanya sambil tersenyum, ''lukai dirimu sendiri, setiap kau menusukkan pisau ini ketubuhmu, aku akan memberikan 1 kali ciuman''
Bara tersenyum dan tanpa ragu menancapkan pisau itu ke lengannya, ruangan gelap ini begitu tidak terlihat, tetapi kekasihnya, gadisnya, miliknya, begitu bersinar sehingga memabukkan.
Bara bahkan bisa mendengar setiap tetes darahnya yang tumpah, tetapi dia tidak merasakan apapun, yang dia perdulikan hanya senyuman gadis dipangkuannya ini, yang bahkan dia rela masuk ke jurang kematian untuknya.
Saat nafasnya tersenggal, dan sedikit demi sedikit berkurang, Bara mengatakan pada gadis itu, ''30 kali, beri aku ciuman.. sekarang.. aku mohon.. Kahaya..''
Kahaya melihat darah yang memenuhi, dan naik keatasnya, sambil tersenyum, dia mendekati, mengatakan kalimat, ''dengan senang hati, Bara ku tersayang''
Bibir mereka bersentuhan.
Berlama-lama dan hangat.
Ciuman ini membuat dia merasa tenggelam dalam kegembiraan.
Bara terbangun dengan senyuman di bibirnya.
Kahaya yang baru masuk kekamar utuk membangunkan Bara, melihat senyum itu, dan menyapa, ''selamat pagi, sepertinya kau bermimpi indah Bara?''
Bara menanggapi Kahaya dengan senyum yang lebih cemerlang lagi, ''ya, mimpi yang sangat indah''
Untuk pertama kalinya. Kau tidak meninggalkanku, didalam mimpi. Kahaya.
Merasa senang juga untuknya, kahaya mendekat untuk merapikan rambut Bara yang berantakan karena bangun tidur, dan berkata dengan ajakan, ''bagus untukmu. Baiklah, sekarang sudah pukul 6 pagi, ayo sarapan dulu''
Hari ini adalah hari minggu, baru 2 minggu juga mereka pindah, dan memulai perkuliahan. Mereka berusaha untuk tau lebih banyak tentang kota ini, dan mulai membiasakan diri dengan lingkungan baru.
Karena rumah penyewaan ini yang lebih murah dari tempat sewa yang lainnya, dan lagipula berada di pusat kota, dan juga dekat dengan universitas binata, kebanyakan penyewa di gedung yang tinggi ini adalah mahasiswa, jadi saat di lift, dia dapat ingat wajah wajah siapa saja yang tidak asing, yang mungkin pernah dia temui di kampus.
KAMU SEDANG MEMBACA
Leave me, and I die (complete)
Romance"Ibu kahaya sebagai pasangan yang dari kecil telah bersama, Apa kebiasaan bapak Bara yang membuat anda takut?" Kahaya merenung, dan memikirkan, lalu membuka mulutnya. " ini. Cara dia menatapku. Tatapannya terkadang membuatku sedikit takut. Sebenarny...
