Pada jam 3 sore Kahaya terbangun setelah tidur hanya sebentar, dia membuat dirinya sadar, karna arwahnya belum sepenuhnya kembali.
Keluar dari kamar dengan membawa handuk, dia mencuci mukanya.
Ada sepasang sepatu yang tergeletak tidak teratur di tangga, orang yang meletakannya pasti terlalu malas hanya untuk menaruhnya di rak tepat di sebelah tangga.
Kahaya membungkuk dan meletakkan sepatu Ratna, anak kedua Bu Mustafa itu ke dalam rak dengan rapi.
Setelah menggantung handuknya sendiri di pintu kamar, Kahaya tidak menyusun barang-barang yang Kahaya dan Bara beli tadi pagi, dia mengalihkan perhatian utamanya pada membersihkan rumah ini, dengan betapa keluarga ini telah menerima dia sebagai karyawan, dia tidak berani untuk tidak melaksanakan tugasnya semaksimal mungkin.
Sapu tergantung didinding di sebelah mesin cuci, di depan kamar mandi, Kahaya mengambilnya, dan mendatangi tempat yang paling sulit.
Dengan ketukan, dan suara remaja perempuan keluar sebagai kalimat persetujuan, Kahaya masuk ke dalam kamar Ratna.
Ratna hanya melihat sekilas, sebelum melanjutkan bermain dengan handphonenya lagi di atas kasur, sambil berbaring. Ketidakpeduliannya terlihat jelas, sedangkan Kahaya merasa sangat canggung.
Di hadapkan dengan anak Bu Mustofa yang kedua ini Kahaya selalu merasa tidak nyaman, dia bisa mendekati orang dan mengetahui kemauan orang lain, tetapi masalahnya anak Bu Mustofa sangat tidak tertarik untuk dia mendekati nya, disandingkan seperti itu, jika dia bersikeras mendekatinya mungkin itu malah membuat anak Bu Mustofa menjadi jijik dengannya, maka dari itu selama setahun ini, dia sangat jarang, malah tidak pernah sama sekali berbicara dengan anak Bu Mustofa.
Terkadang dia juga samar-samar melihat ketidaksukaan Ratna padanya.
Dia keluar lagi untuk mengambil kain basah, membersihkan meja belajar anak Bu Mustofa, dan etalase makeup nya, lalu menyapu, dan mengepel kamarnya dengan bersih.
Ini memang salahnya, seharusnya dia tidak tertidur, dan membersihkan rumah terlebih dahulu agar lebih leluasa membersihkan kamar-kamar mereka. Karena dia terlalu lelah, maka hasilnya akan seperti ini, biasanya dia akan bisa membersihkan ranjang anak Bu Mustofa dan menatanya dengan rapi. Kahaya sepertinya sudah sangat teledor.
Kahaya keluar, lalu menutup pintu pelan-pelan. Hal selanjutnya adalah menyapu kamar Bu Mustofa. Kamar Bu Mustofa lebih luas dari kamar anak-anaknya, Kahaya membersihkannya dengan leluasa, karna Bu Mustofa dan Pak Suroto sedang keluar.
Jarang Kahaya melihat ibu Mustofa dan suaminya tidak keluar, mereka akan selalu keluar saat siang hari entah untuk berkumpul dengan kerabat lain, atau teman-temannya.
Kamar anak pertama Bu Mustofa, Shansa, terdapat di paling depan, di samping balkon tempat Kahaya biasa menjemur pakaian. Daripada Ratna, anak perempuan Bu Mustofa yang bernama Shansa lebih dekat dengannya, bersama kakak perempuan itu sangat nyaman, Kahaya juga sering mendengarkan tentang cerita nya, sekarang kak Shansa sudah bekerja diluar kota, dan tinggal disana.
Setelah kak Shansa pindah keluar kota, Kahaya tidak mendapat kabar apapun lagi tentangnya, karna tidak ada alat komunikasi apapun, Kahaya hanya sering mendengar Bu Mustofa mengatakan bahwa anaknya sangat membanggakan, dan telah bekerja di perusaan besar,
juga berencana akan melanjutkan mengambil kuliah S2 disana.
Pembersihan rumah selesai, Kahaya mencuci sapu lantai, dan kain pel, mengantungkannya kembali ke atas gantungan di sebelah mesin cuci.
Kembali ke kamarnya, dia meraih jam tangan di atas lemari. Melihat itu sudah waktunya membuka rumah makan, Kahaya kembali memasuki kamar mandi dengan handuknya.
Setelah turun kebawah dia mencuci kangkung, kemangi, yang sudah dipetik di dalam bak hitam besar, dan meletakkan mereka ke wadah lain yang bersih.
Ada ayam yang masih utuh di wadah besar samping Kahaya, akan tetapi itu bukan tugasnya. Bu Mustofa, sudah membagi-bagi semua pekerjaan, dan semuanya sangat terorganisir.
Kahaya melihat keluar, karyawan laki-laki lainnya sedang memotong ikan, mereka mengeluarkan ususnya, dan juga kotoran yang ada didalam tubuh ikan itu lalu dimasukan ke dalam wadah lainnya untuk dicuci.
Kahaya berjalan ke samping, meletakkkan kangkung dan kemangi di atas meja, lalu hanya membawa kemangi, dan diletakkannya di samping timun dan kol, yang telah dia potong-potong, lalu dia masukan kemangi, timun, dan kol itu ke dalam plastik kecil, dan diikat dengan kencang.
Dia mengulangi itu sampai bungkusan plastik lalapan memenuhi 1 wadah besar.
Lalu Kahaya berdiri, dan membawa sambal dari dapur, dan diletakkannya diatas meja, dia membungkus sambal-sambal itu juga, sama dengan lalapan.
Melihat bungkusan-bungkusan sambal, dan lalapan yang telah siap di dalam bak, dia keluar, dimana tenda sudah dibuka, dan mengeluarkan mereka untuk diletakkannya dimeja pembungkusan. Berjalan kedalam lagi, dia membawa kertas nasi, dan dua plastik kecil diatasnya.
Meja-meja belum semua ditata, akan tetapi sudah ada 3 orang yang menunggu warung terbuka.
Terkadang dia mendengar mereka bertanya pada para karyawan yang lewat. "Ini masih lama ya?"
Rasanya Kahaya ingin meneriakan pada mereka bahwa. Kami baru saja buka! gorengan belum siap, bakaran juga, tidak bisakah kalian melihat!
Tetapi kembali lagi, itu hanyalah sesuatu yang hanya bisa dia bayangkan, orang-orang seperti itu, terlihat dari betapa mudanya mereka, dan mobil yang tepat di sebelah warung, jika mereka diteriaki oleh seorang anak kecil seperti dia, hidupnya akan tidak terselamatkan.
Dia tidak ingin membuat masalah bagi Bu Mustofa, lagipula dalam satu tahun ini dia sudah menghadapi segala macam karakter pelanggan, dari mulai yang sabar menunggu pesanan, sampai pelanggan yang sangat menyebalkan.
Pukul 5 sore, para karyawan wanita telah tiba bertepatan dengan tibanya Bu Mustofa dan Suaminya. Mereka bertiga terlihat malu, sedangkan Bu Mustofa terlihat sangat tidak menyukai kemalasan mereka. Mungkin dia sedang berfikir untuk memecat ketiganya nanti setelah mendapat karyawan laki-laki yang baru.
Tepat pukul 6 sore, semuanya telah siap, Kahaya tidak mampu berfikir lagi, dia disibukkan oleh para orang-orang yang berdatangan.
Melihat jam dari waktu kewaktu, dia tidak pernah melakukan ini, tetapi sekarang dia melakukannya.
Saat telah tengah malam, dia berbalik ke belakang, dimana kak Ridwan sudah dipanggil untuk pembagian harian, diikuti oleh nama-nama lainnya.
Dia membungkus ikan, tempe, tahu, nasi, untuk dua porsi seperti biasa.
"Kahaya"
"Iya bu.."
Mustofa memberikan uang 20 ribu padanya. Dia melihat kantong plastik yang ada di genggaman gadis kecil itu, tetapi tidak mengatakan apa-apa.
Setelah itu, Kahaya melakukan tugas nya, membereskan tempat pembungkusan dan meletakkan semuanya kedalam, dia membongkar 2 rak lalapan itu terlipat, dan mencucinya, lalu 2 wadah sambal dan lalapannya, membersihkan, dan membuat tempat kerjanya beres.
Dia naik keatas setelah melakukan itu semua.
Melihat-lihat isi kamarnya yang berantakan akan barang-barang yang dibelinya, Kahaya meraih salah satu plastik, membukanya, dan mengeluarkan dua buah kotak handphone disana.
Dia membuka kotak handphone itu, dan melihat semuanya sangat terisi lengkap, saat ini Kahaya merasa bahwa Pak Gio sangat baik hati.
Kahaya pernah melihat kak Doko, salah satu karyawan, yang membeli handphone bekas ditempatnya, tetapi didalam kotak itu, Pak Gio bahkan tidak memberikan pengisi daya, atau headset di dalamnya.
Perbedaannya sangat jelas sekarang.
Kahaya memasukan 2 headseat, 2 handphone, dan 2 pengisi daya itu ke dalam tas nya.
Lalu ada satu lagi, dia berencana hanya untuk mengajari Bara cara bermain handphone, tetapi dia melihat kartu paket didalam kotak juga, dan bukan main-main, Pak Gio sudah mengisi 2 handphone Kahaya dengan masing masing paket berisi 2 GB.
Dia merasa sangat berterimakasih. Kahaya berfikir, mungkin lain kali jika dia kesana, dia harus membawakan Pak Gio sesuatu.
Kahaya memasukkan mereka semua, dan berjalan kebawah lagi.
Cukup lama dia berada diatas, dia melihat tenda sudah di bongkar, dan telah dimasukkan. Sebagian para karyawan telah naik dan beristirahat, hanya ada 3 orang yang masih mengobrol dimeja kasir.
Melihat Kahaya turun kebawah lagi, para karyawan menatapnya dengan pertanyaan.
Reza, salah satu karyawan yang bertugas sebagai pelayan bertanya pada gadis yang berada ditangga. "Kahaya, mau pergi kemana?"
Kahaya menuruni anak tangga terakhir, menoleh untuk menjawabnya, "Menemui teman kak"
Yang lainnya ikut bertanya dengan heran. "tengah malam begini, siapa temanmu?"
Kahaya menatap mata para karyawan yang bertubuh tinggi itu, dia memberitahu dengan terus terang. "Bara, kami akan makan bersama"
Reza bertanya dengan heran. " Bara, siapa Bara?"
Sebelum ada yang bertanya lagi, kak Sugito memukul belakang kepala Reza dengan ringan, dan mulai berkata. "Kenapa kau begitu banyak tanya"
Reza memeggangi kepalanya dan mengeluh. "Aku hanya khawatir, apa yang salah dengan itu.."
Sugito tidak memperdulikannya, dia berkata pada Kahaya yang sedang tersenyum di depan tangga dan berkata, "Pergilah, jangan pulang terlalu pagi"
Kahaya mengangguk dan membuka pintu ruko yang telah dikunci, lalu menguncinya lagi dari luar.
Melihat Kahaya telah pergi, 3 karyawan itu naik ke atas.
Dilantai 3, Reza masih mengeluh pada Sugito. "Kenapa kau memukulku kak?"
Sugito, "Kau ingat dulu pada anak kecil yang sering memakan sisa makanan orang di wadah cucian piring?"
Reza belum menjawab, sebelum Toni, yang bertugas sebagai pencuci piring diwarung berseru. "Aku ingat! anak kecil itu sangat lusuh dan bau, aku juga merasa kasihan.. kadang-kadang aku akan menyisihkan sisa makanan yang masih utuh untuknya. Tapi, kenapa dengan dia?"
Sugito berkata dengan ringan. "Itu teman Kahaya, yang bernama Bara"
"Apa?! Ini gawat, kenapa Kahaya berteman dengan anak seperti itu--"
Sugito mengerutkan kening dan memotongnya. "Kenapa begitu berlebihan? Bukankah anak kecil itu juga manusia? Biarkan saja Kahaya melakukan apapun yang diinginkannya. Apakah dia mengganggumu atau apa? Lagipula Kahaya adalah anak yang pintar, dia sangat cerdas, dan tau apa yang ingin dia lakukan. Jadi jangan mencampuri urusannya"
Reza, dan Toni terdiam. Diantara para karyawan, Sugito adalah yang paling lama bekerja dengan Bu Mustofa, umurnya lebih tua dari mereka, dan sikapnya juga sangat ringan. Dia bisa diajak bercanda, tetapi jika dia bekerja, dia akan sangat serius dan tidak menerima candaan apapun. Semua orang menghormatinya disini.
Para karyawan lain tidak terlalu memikirkannya, dan memilih untuk tidur, sesudah bekerja, mereka akan sangat lelah untuk berbicara panjang lebar, ditambah lagi, di siang hari mereka juga harus melakukan pekerjaan sampingan yang mereka ambil diluar.
Kahaya duduk ditengah lapangan dengan Bara, sambil memegangi salah satu handphonenya.
Dia menjelaskan detail-detail penggunaan tombol-tombol pada Bara.
"Lihat, tombol ini, untuk kembali, lalu ini untuk panggilan, kita juga bisa menyimpan kontak kita disini, aku sudah mendownload Whatsapp.. jadi Bara, saat ada nada panggil coba angkat dan geser keatas"
Kahaya berdiri, lalu Bara melihatnya dengan pertanyaan.
"Aku akan berdiri di ujung lapangan, lalu Bara, kau juga berjalanlah diujung lapangan yang berlawanan"
Bara mengangguk dan melakukannya.
Sesampainya mereka dari ujung ke ujung, Bara menatap Kahaya yang berada jauh darinya, mereka seperti terpisah, dan Bara tidak bisa menggapai tangannya seperti biasa.
Bara tidak tahan, dan mulai berjalan kembali ke tempat gadis itu, tetapi Kahaya menghentikannya, memberi isyarat dengan tangannya agar dia tetap diam disana.
Ada bunyi suara di handphone, dan dia melihat benda ini bergetar ditangannya.
Mematuhi intruksi gadis itu, dia menggeser gambar dengan tampilan telephone bewarna hijau itu keatas.
Lalu dia mendengar suara.
"Bara.. tes, apa kau mendengarku?"
Diam diujung telephone, membuat Kahaya panik jika handphone ini rusak. Tetapi tidak lama kemudian, suara Bara terdengar dari ujung. "... aku mendengarmu"
Kahaya tersenyum lega. Bara melihat Kahaya melompat dan melambai padanya diujung lapangan.
"Nah, ini dia, saat Bara sendirian atau ingin bertemu denganku, kita bisa menggunakan ini untuk berbicara atau mendiskusikan pertemuan"
Kahaya mengatakan semuanya dengan serba ada, dari mulai jika Bara sendirian di kamarnya, jika dia lapar, jika dia kekurangan sabun mandi, odol, atau yang lainnya.
Bara terdiam lama, dan mendengarkan suara gadis itu, yang terdengar sangat nyaman dan lembut. Tiba-tiba dia memiliki sebuah dorongan hati untuk memanggilnya, dan Bara melakukannya.
"Kahaya.."
" ? "
"Kahaya.. "
"Iya, apa?"
Tidak ada jawaban, Kahaya bertanya lagi. "Ada apa Bara?"
"Tidak, aku hanya senang mendengar suaramu"
Kahaya menjawab dengan perasaan yang sama, tanpa tahu apa yang salah. "Ya, aku juga senang"
Setelah itu Kahaya terus menjelaskan semuanya secara langsung pada Bara, bagaimana penggunaan ini dan penggunaan itu.
Dia memang tidak pernah memiliki handphone, akan tetapi, dia akan selalu mempelajarinya dari handphone Bu Mustofa. Saat mengganti kartu Bu Mustofa akan selalu menyuruhnya, dan teman-teman disekitarnya juga sedikit banyak satu dua orang yang memilikinya, sehingga dia banyak tau tentang hal ini.
Dan disinilah peran yang penting harus berfungsi. Ini sudah hari ketiga yang dijalani Bara dan Kahaya dalam mempersiapkan sekolah baru mereka. Dia ingin semaksimal mungkin. Dia tidak ingin mengikuti MOS tahun depan bersama para junior, atau peserta didik baru yang bukan angkatannya.
Pak Gio memilihkan kartu XL untuknya dan Bara, diisi dengan 2 GB kuota.
Kahaya menekankan bahwa Bara tidak boleh menggunakan kuota itu untuk apapun selain menghubunginya, karna dia takut kuota paket itu akan habis jika terlalu banyak digunakan.
Setelah mengatakan itu semua, Kahaya pulang.
Masuk kekamar, dia menggantungkan tasnya lagi di belakang pintu. Dengan ekspresi wajah yang lelah, dia mengambil handuk dan memasuki kamar mandi.
Sekarang masih pukul 1 pagi, tidak ada hal yang mampu dipikirkannya lagi, dia hanya ingin tidur.
Kahaya berbaring di kasur kecilnya dan menatap langit-langit kamar.
Menghipnotis alam bawah sadarnya sendiri untuk bangun di jam yang dia inginkan.
Keesokan harinya, Kahaya bangun lebih awal, dan itu tepat pukul 5.30, dia memasuki kamar mandi untuk hanya mencuci muka, dan menyikat gigi.
Air yang ada dikamar mandi mengalir seperti pancuran, masih gelap diluar, air yang keluar dari pancuran menuju ke dalam bak sangat dingin, tetapi juga menyegarkan.
Kahaya keluar, dan menutup pintu kamarnya sebelum menggantungkan handuk itu kembali ketempatnya. Melihat-lihat barang yang ada diplastik, dia mengeluarkan mereka satu persatu untuk ditata.
KAMU SEDANG MEMBACA
Leave me, and I die (complete)
Romance"Ibu kahaya sebagai pasangan yang dari kecil telah bersama, Apa kebiasaan bapak Bara yang membuat anda takut?" Kahaya merenung, dan memikirkan, lalu membuka mulutnya. " ini. Cara dia menatapku. Tatapannya terkadang membuatku sedikit takut. Sebenarny...
