Mereka sampai di pasar setelah menaiki 2 angkutan umum dengan tujuan yang berbeda. Pengalaman Kahaya bertahun-tahun dari menjual tisu, membuat dia mengetahui sudut-sudut jalanan, dan dengan apa saja dia bisa sampai ke tujuannya.
Sebelum dia mengetahui rumah makan Bu Mustofa, Kahaya lebih sering berada di stasiun kereta api, karna disana ada lebih banyak orang yang menunggu, dan ada alasan dimana mereka membutuhkan tisu. Kadang dia juga akan pergi ke terminal Bus, jika tisu nya masih belum habis.
Pekerjaan ibunya cukup mencakup wilayah itu saja. Dia akan membuat bermacam-macam aksesoris yang akan dibawakan pada Kahaya untuk di jual keliling, karena rumah mereka berada di lingkungan di jalan yang cukup kecil, bukan jalan pusat, itu menjadikan ibunya kesulitan jika membuka toko dirumah.
Pasar masih sangat ramai karena ini masih pagi, kebanyakan orang membeli bahan-bahan memasak pada waktu ini, Kahaya tidak cukup kahwatir bahwa dia akan mengantri, karna pertama-tama hal yang ingin dia beli adalah sepatu, maka dia membawa Bara ke toko sepatu dimana terlihat bervariasinya sepatu yang bisa dipilih.
Melihat perkumpulan sepatu yang ditata berserakan di atas tikar, dan ada yang ditempatkan didinding, Kahaya melihat perbandingan kualitas bahan mereka, dan bentuknya dengan seksama.
Sepatu yang diletakan di lantai terdapat tulisan 'obral' yang jelas di atas kertas pemberitahuannya, semua itu dihargai sama yaitu 55.000, setelah melihat-lihat, dan tidak ada yang dia sukai, Kahaya berjalan ke arah sepatu yang dipajang di dinding-dinding toko.
Ada segelintir orang yang berada di toko ini, yang Kahaya tahu, bahwa jika ini saat siang hari, dia pasti akan berdesak-desakkan memilih sepatu di toko ini.
Bara mengikutinya, kemanapun Kahaya berjalan, karna tidak seperti sebelumnya, sekarang Kahaya akan secara tidak sadar mengeratkan genggaman tangan mereka saat dia berjalan kearah manapun.
Sebelumnya Kahaya tanpa sadar akan melepaskannya, karna mungkin belum terbiasa. Maka dari itu, saat sekarang Kahaya berjalan dua langkah, Bara akan berjalan dua langkah, saat dia berhenti, Bara juga akan berhenti, hampir disamakan dengan kelabang bertubuh dua.
Kahaya menggapai salah satu sepatu yang menurutnya cocok bagi Bara, warna hitam, merk Adidas, yang disana tercantum harga 90.000 di rak sepatunya.
Menoleh kearah Bara, dia menyondorkan sepatu itu padanya. "Bara, ayo kita coba ini"
Bara duduk, dia memasang sepatu itu di kakinya, Kahaya membantu dia memasang perekat sepatu, dan menyuruhnya berdiri.
"Apakah terlalu besar, atau terlalu kecil?"
Bara merasakan, dan merasakan, lalu dia berkata dengan jujur. "Ini sedikit kecil"
Kahaya menggangguk, dan berkata. "Baiklah, kita akan meminta ukuran yang sedikit lebih besar dari ini"
Mereka membawa sepatu itu ke salah satu karyawan wanita toko, dan menunggu sebentar, setelah menunggu 15 menit sambil melihat-lihat sepatu, karyawan itu akhirnya kembali dari gudang dengan membawa 1 kotak sepatu yang didalamnya terdapat sepatu jenis yang sama, dengan ukuran yang berbeda dari yang awal dipilih Kahaya tadi.
Bara mencoba, dan akhirnya mengatakan bahwa ukuran ini sangat nyaman.
Kahaya meminta penjaga toko wanita itu membungkus sepatu itu, dan menyerahkan satu lagi sepatu pilihannya, yang baru dipilih sambil menunggu barusan.
Sepatu yang dipilih Kahaya sendiri berbeda dari Bara, itu merk Nike, dengan warna hitam, tetapi dengan gaya tinggi keatas, terdapat satu garis putih diatas kerah sepatunya.
Kahaya memilihkan dengan cermat, tidak ingin memilih warna yang berwarna-warni, karna itu pasti akan disita oleh guru, dan tentu saja tidak diperbolehkan di peraturan SMP 26. Melihat terlalu ketatnya peraturan SMP 26 untuk segala jenis penampilan.
Tali sekolah tidak boleh berwarna selain hitam, rambut tidak boleh panjang, harus selalu memakai dasi, rapi, dan lain-lain peraturan yang sudah umum bagi setiap sekolah.
Setelah menyerahkan kedua sepatu itu, Kahaya berjalan ke kasir untuk membayar, harga sepatunya 99.000 dan sepatu Bara hanya 90.000, dia mengeluarkan uang 200 ribu dan menunggu kembalian.
Keluar dari toko sepatu dengan Bara yang membawa satu kantong plastik berisi 2 kotak sepatu miliknya dan Bara, Kahaya menggiringnya untuk berjalan ke arah toko tas di pasar.
Masuk ke toko, matanya langsung tertarik pada tas sekolah berwarna hitam, dengan gaya dua saku di samping, dan dua risleting lebar.
Kahaya langsung tahu bahwa itu cocok pada Bara, tetapi masih bertanya untuk meminta pendapatnya, Kahaya menunjuk, dan berkata. "Bara, bagaimana dengan ini?"
Bara mengangguk. "Itu bagus"
Kahaya telah menebak jawaban yang tidak asing ini, setiap kali Kahaya meminta pendapat Bara tentang apapun, dia akan selalu menyetujui, dan mengangguk. Baik-baik saja, itu bagus, baiklah, adalah kata-kata yang paling sering Kahaya dengar.
Terkadang dia merasa kewalahan dengan betapa patuhnya Bara.
Rasa ingin mengoda entah kenapa timbul, Kahaya menggelengkan kepalanya dan berkata dengan cemberut, " tidak, ini sepertinya tidak cocok. Ayo kita melihat yang lain"
Kahaya memutari, dan melihat-lihat hampir setiap tas, dan membolak-baliknya, setiap kali dia menyetuh tas yang ada, dia akan selalu bertanya pada Bara, dan Bara akan mengangguk, dan menjawab itu bagus untuk yang kesekian kalinya.
Kahaya tersenyum, dan membawa mereka kembali ke tas pertama yang dipilihnya dari awal dan berkata. "Sepertinya ini masih yang terbaik, bukan begitu?"
Dan untuk pertama kalinya, Kahaya samar-samar bisa mendengar Bara menghela nafas, ketidakberdayaan Bara terlihat jelas, tetapi Bara masih tetap mengangguk, dan menjawabnya dengan jawaban yang sama. "Itu bagus"
Sikap Bara sangat kaku, terkadang Kahaya sendiri merasa lucu saat dia mengatakan sesuatu sebagai candaan tetapi ditanggapi oleh Bara dengan sangat serius.
Kahaya memilih 1 tas untuk Bara, dan 1 tas lainnya untuk dirinya sendiri. Kahaya ingin awal baru disekolah ini dengan barang-barang yang bagus. Tas yang dipakainya memang masih baik, tetapi dia sangat ingin suasana baru, dia berfikir untuk tidak apa-apa memanjakan dirinya sekali-kali.
Dia mengajak Bara ke toko buku. Karna para murid sekolah baru, ada banyak kata obral, dibuku-buku itu, yang sangat menguntungkan bagi Kahaya.
Karna ada 12 mata pelajaran bagi mereka, Kahaya membutuhkan 24 buku untuk satu orang, ditambah Bara itu akan menjadi 48 buku.
Isi satu paket buku tulis adalah 10 buku, Kahaya memilih lembaran yang cukup tebal, yang mencapai 58 lembar perbukunya.
Kahaya membeli 5 paket buku, yang menghabiskan 175 ribu uangnya. Harga 1 paket bukunya sendiri adalah 35 ribu.
Kahaya meraih kotak sepatu, dan membantu Bara membawa barang itu.
Mereka pergi ke arah konter.
Dia mengenal bapak pemilik konter, dengan sikap santun Kahaya menyapanya.
"Pagi pak Gio~"
Bapak Gio memiliki tubuh gemuk, yang menurut banyak orang itu sudah terlalu keterlaluan, dia mengenal Pak Gio setelah setiap saat Bu Mustofa akan selalu membeli handphone, atau paket kuota disini, singkatnya ini adalah langganan keluarga Bu Mustofa saat membeli paket kuota, kartu, handphone, dan lain sebagainya.
Pak Gio yang hanya mempunyai 2 karyawan, akan selalu turun tangan untuk menangani pelanggannya. Melihat gadis kecil yang tidak asing lagi, dia balik menyapa dengan sangat hangat, "Oh, Kahaya, selamat pagi, apakah Mustofa menyuruhmu membeli kartu paket lagi?"
Kahaya menggelengkan kepalanya. "Tidak, tidak, Kahaya ingin membeli handphone disini"
"Handphone? Merk apa yang Kahaya cari? Baru atau yang bekas? Segala macam merk ada disini, coba Kahaya sebutkan"
Mendengar nada antusiasnya, Kahaya menjawabnya dengan kata-kata terus terang. "Ini, Kahaya ingin mencari handphone bekas, seharga 500 ribu an, merknya terserah bapak, carikan Kahaya yang menurut bapak bagus untuk harga ini"
Pak Gio mengangguk-angguk tanpa memandang rendah, dia memanggil salah satu karyawan yang masih berbicara pada pelanggan lain, dan menyuruhnya mengambil handphone di pilihan etalase toko belakang.
Pak Gio menunjuk 3 handphone yang ada di sana, karyawan itu pergi dan mengambilkannya, setelah itu dengan cepat menyerahkannya kepada Pak Gio, dan kembali melayani pelanggannya sendiri.
Seperti yang Kahaya katakan tadi, Pak Gio, memiliki tubuh yang besar, itu sangat tidak nyaman baginya untuk berganti posisi atau sekedar berjalan-jalan, maka dari itu, para karyawan sangat dibutuhkan disini.
Pak Gio meletakkan 3 handphone dengan merk berbeda, harganya pun tidak sama, Kahaya mendengarkan penjelasan Pak Gio dengan anggukan, dan dalam fikirannya membandingkan-
nya.
Lalu dia memilih salah satu dengan harga terendah disana, yaitu 550.000, merk Samsung, dua lainnya memang memiliki tampilan yang lebih baik, tetapi harganya yang membuat Kahaya tidak bisa mengikuti, ketiga nya memiliki harga yang cukup jauh berbeda bagi Kahaya.
Yang paling kanan seharga 750, dan sebelah kiri adalah 800, secara jujur Pak Gio menjelaskan bahwa handphone bekas disini paling murah adalah 750, akan tetapi karna ini adalah Kahaya, maka dari itu Pak Gio menurunkan harganya.
Dia tidak tahu, apakah Pak Gio mengatakan yang sebenarnya atau tidak padanya, tetapi memang dia sangat tidak mengerti tentang masalah handphone, dan saat melihat bahwa handphone yang dipilihnya lengkap, tidak ada cacat, dia sangat puas. Kahaya meminta 1 lagi handphone dengan merk yang sama untuk Bara dengan Pak Gio.
Saat itulah lelaki paruh baya dengan tubuh besar itu memperhatikan dengan seksama bocah laki-laki yang duduk di sebelah gadis kecil itu, dia tidak mampu untuk tidak bertanya, "Siapa ini Kahaya?"
"Ah, ini temanku Pak Gio, namanya Bara"
Kahaya membuat isyarat pada Bara untuk membuat salam.
Bara melakukannya, dan memberikan salam dengan sopan, "halo pak Gio"
Pak Gio tersenyum, lalu sedikit mengeluh dengan bercanda. "Anak muda zaman sekarang, sangat tampan dan cantik, terkadang bapak sendiri bertanya-tanya kenapa bapak menjadi seperti ini, apakah dulu bapak terlambat saat mengantri untuk berebut penampilan?"
Kahaya ikut serta dalam candaannya, dan membalas dengan kejutan pura-pura. "Jangan bercanda Pak Gio, wajah yang paling tampan yang dimiliki bapak pasti bisa meruntuhkan dunia jika disiarkan di televisi"
Pak Gio tertawa, dan tangannya langsung menggosok puncak kepala gadis yang lucu itu. Kalimatnya sangat menyenangkan, orang tidak bisa tidak menyukainya.
Bara melihat tangan orang lain dikepala Kahaya, dan merasakan perasaan aneh merayapi hatinya.
Kahaya dan Pak Gio berbicara sebentar sebelum karyawannya datang membawa 2 handphone yang telah dimasukkan di kotak, dan dibungkus plastik.
Tawa sering keluar dari Pak Gio setiap kali Kahaya melantunkan pujian.
"Baiklah, baiklah, belajarlah yang pintar kalian berdua, perutku sangat sakit sekarang karna terus tertawa, hati-hati dijalan, lihat mobil dan motor itu sebelum menyebrang"
Kahaya tersenyum dan mengangguk. Dia melambai, dan berkata. "Sampai jumpa lagi Pak Gio"
Mereka pergi dan keluar dari gerbang pasar.
Hanya Kahaya yang mengetahui betapa tertekannya dia saat berbicara dengan Pak Gio.
Pak Gio, terkenal sebagai orang yang sangat pelit, dia kerap kali memberikan pinjaman pada orang lain di pasar, tetapi harus dengan bunga disetiap pengembalian, dilain sisi, kehidupan rumah tangganya sangat berantakan. Pak Gio bercerai dengan istrinya, dan kedua anaknya lebih memilih mengikuti ibunya.
Pak Gio ditinggalkan sendirian, kerapkali karena kesepian, dia akan bercerita soal kehidupannya, tetapi mungkin karna Bara tepat ada disebelahnya, dan Pak Gio tidak menganggap Bara sebagai orang yang cukup akrab dalam mendengarkan, dia tidak bercerita tentang kehidupannya seperti hari-hari sebelumnya pada Kahaya.
Meskipun dia hanya anak kecil, Pak Gio mungkin melihat betapa bersungguh-sungguhnya Kahaya dalam mendengarkan curahan hatinya, dan tanpa sadar, dirinya sendiri sudah menumpahkan semua keluh kesahnya.
Kahaya akan selalu seperti itu, semua teman sekelasnya mungkin sudah membuat dia sebagai tempat curhat yang nyaman, sehingga Kahaya bisa mengetahui semua kehidupan mereka, dan apa yang terjadi, terkadang insiden-insiden dikelas juga dilerai olehnya.
Hanya ada beberapa lagi sisa uang yang cukup di dompet kecil Kahaya, dia menarik lengan Bara dan menuntunnya ke toko pinggir jalan yang terpisah dari pasar.
Toko ini cukup besar, yang terdiri dari dua lantai ruko bangunan, tetapi jika dibandingkan dengan ruko yang dimiliki Bu Mustofa, ini hanya bisa dihitung setengah bangunannya.
Banyak aksesoris serta baju-baju yang ada di dalam toko, tetapi harga yang ada disana sedikit lebih mahal daripada yang berada dipasar, Kahaya naik kelantai dua dimana terdapat lebih banyak orang daripada yang ada dilantai pertama.
Dia mendapati bagian aksesoris yang banyak di tampilkan penuh di lantai ini. Kahaya berjalan ke arah tempat gelang dan kalung di etalase toko, disamping etalase digantung kaus kaki sepasang yang tersusun rapi di dinding, Kahaya melihat-lihat, dan mengambil 4 kaos kaki putih, lalu 2 kaos kaki bewarna hitam, untuk stok sekolah.
Seperti di sekolah dasar nya, kaos kaki hitam ini diperuntukan pemakaiannya dengan seragam pramuka.
Setelah mengambil 6 kaos kaki itu, Kahaya tidak ingin berlama-lama dan langsung berjalan ke meja kasir untuk membayar.
Toko ini memang mahal dituntut dengan baju, akan tetapi kaos kaki di sini sangat murah dari yang dijual dipasar, Kahaya mengetahui toko ini saat melawatinya dan tidak sengaja melihat-lihat, bukan hanya toko ini lengkap dalam baju, disini juga terkenal dengan aksesorisnya, pernak pernik yang bermacam-macam.
Setelah membayar, Kahaya dan Bara dengan lancar pulang dengan membawa barang-barang itu, mereka telah sarapan di jalan dengan roti yang tersisa dikamar Kahaya tadi pagi.
Membuka pintu ruko, Kahaya naik dan meletakkan barang-barang itu semua ke kamarnya, melihat waktu dijam tangannya, dia melepaskan tas punggungnya dan memasukan kertas soal-soal itu kedalam tas nya, lalu dengan cepat turun kebawah lagi, untuk menemui Bara yang menunggunya.
Pintu ruko masih terbuka, Kahaya melihat Bara duduk di pot besar yang berada di tengah halaman ruko yang bersemen, menatap kosong kebawah kakinya sendiri.
Kahaya menatapnya sebentar sebelum berbalik untuk menutup pintu.
Saat berbalik lagi, Bara telah berdiri dan menghampiri. Terdapat kehidupan dimatanya, sangat berbeda dari mata kosong yang dilihat Kahaya barusan.
Kahaya dengan ringan mengunci pintu, dan meletakan kunci nya di kotak pensil seperti biasa.
Setelah itu dia mengambil inisiatif untuk menggenggam tangan Bara, untuk menegaskan keberadaan dirinya, bahwa dia tidak sendirian.
Orang terkadang tidak mengetahui, untuk menegaskan keberadaan orang lain, dan menghibur seseorang, tidak perlu banyak kata-kata yang harus dilontarkan.
Tetapi hanya dengan sentuhan fisik, seperti yang dilakukan Kahaya saat ini, atau memeluk. Itu bisa membuat orang menyadari keberadaan, dan merasa terhibur.
Oh, ternyata dia tidak sendiri, ternyata masih ada orang yang menungguku, masih ada orang yang perduli padaku.
Saat melihat tatapan kosong Bara barusan, Kahaya merasa Bara terlihat sangat kesepian, seperti terpisah dari dunia.
Dia berkata saat melihat Bara tersenyum. "Aku lapar, ayo kita makan"
Setelah memakan makanan mereka di warung kecil dipinggir jalan, yang dipilih Kahaya secara acak, mereka kembali lagi ke lapangan, dan belajar di tempat penonton yang berada di lokasi atas lapangan.
Mereka berada disana sampai pukul 1 siang, dan kembali lagi ke ruko.
Mereka berpisah saat Kahaya memasuki pintu ruko, di celah menutup pintu Kahaya masih bisa melihat Bara menatapnya.
Berkeliling di pasar sangat melelahkan tubuhnya, dia langsung ambruk setelah mencapai kamarnya, tetapi tidak lupa untuk bergumam di alam bawah sadarnya untuk menjadi alarm nantinya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Leave me, and I die (complete)
Romantizm"Ibu kahaya sebagai pasangan yang dari kecil telah bersama, Apa kebiasaan bapak Bara yang membuat anda takut?" Kahaya merenung, dan memikirkan, lalu membuka mulutnya. " ini. Cara dia menatapku. Tatapannya terkadang membuatku sedikit takut. Sebenarny...
