Pertemuan kelompok yang terdapat untuk persiapan MOS dilakukan 2 hari sebelum MOS itu sendiri.
Kahaya datang ke tempat pertemuan dengan membawa sepeda dengan Bara yang memboncengnya didepan, mereka sedang latihan praktik untuk saat ini, tetapi Kahaya merasa Bara memang bakat sejati yang telah dibuat oleh surga
Hanya sekali dia mengajarinya menggoes tadi pagi pukul 3, dan lihatlah, betapa lancarnya dia membonceng Kahaya sekarang
Kahaya tau nama-nama Jalan di kota yang besar dan ramai ini, dia memberi Bara arahan, setelah melihat rumah yang cukup besar berlantai satu, berpagar hijau, barulah dia menepuk Bara, dan menunjuk ke sana untuk berhenti
Pertemuan dilakukan di salah satu rumah orang dalam kelompok yang bersedia menyumbangkan rumah mereka sebagai tempat untuk pengerjaan
Dan ketua kelompok yang aktif adalah yang bersedia menyumbangkan rumahnya sebagai tempat berkumpul, sehingga semua kelompok Kahaya dengan senang hati menyetujuinya.
Kelompok dibagi menjadi 15, dengan beberapa nama gugus
Nama kelompok Kahaya sendiri adalah gugus pink, sedangkan kelompok Bara adalah gugus biru. Baru sehari kemarin dia dan Bara di undang untuk bergabung dengan grub
Pertemuan kelompok Kahaya di putuskan di pagi hari, hari ini, sedangkan Bara ada disiang hari, karena shift pekerjaan Bara telah normal, dan itu pukul 6 sore sampai jam 3 pagi. Sehingga mereka tidak terburu untuk waktu.
Kahaya tidak tega meninggalkan Bara sendirian di rumahnya, karena dia mendengarkan pertengkaran dengan barang-barang pecah terakhir kali.
Walaupun pertengkaran orang-orang itu tidak melibatkan Bara, hanya mendengarnya saja dia sendiri sudah menjadi sakit hati.
Sudah ada beberapa sepeda yang terparkir didepan, itu menandakan bahwa orang-orang dari kelompoknya sudah banyak yang berdatangan.
Kahaya masuk lewat pintu depan, dan melakukan salam, "halo"
Beberapa pasang mata melihatnya, lalu mereka melihat seseorang dibelakang Kahaya, berfikir bahwa mereka berdua adalah kelompok, mereka mengirim anggukan, sedangkan yang lainnya menjawab salam Kahaya dengan ramah.
"Halo, aku ketua kelasnya, namaku Riri, duduklah, dan kerjakan ini, seperti ini"
Tuan rumah sepertinya tidak terlalu memperhatikan, karena sedang sibuk, dia menggunting kertas karton, menjadi bentuk, dan menunjukkan pembuatannya pada Kahaya.
Mereka sedang mengerjakan name tag yang nanti akan mereka pakai, seperti namanya gugus pink, karton itu juga bewarna pink, sebenarnya pertemuan ini, hanya untuk membuat name tag masing-masing.
Setelah membuat bagian Kahaya sendiri, mereka diperbolehkan untuk pulang, tetapi ada banyak orang yang ingin mengenal, dan diusia mereka yang sangat cenderung aktif ini, mereka memilih untuk tinggal sampai akhir, membantu membersihkan sisa-sisa guntingan kertas karton yang bececeran di atas lantai.
Sebagai orang yang ingin membuat kesan baik, Kahaya membantu juga sampai selesai.
Ada 20 orang dikelompok ini, karena sikap Kahaya yang peduli, dan auranya yang baik, dia mendapat banyak teman
"Laki laki itu, apakah dia salah satu dari kelompok kita? Aku menghitung laki laki dikelompok kita hanya ada 10 orang, jadi.. siapa dia?"
Zahra, teman baru Kahaya bertanya.
"Bukan, dia--- sepupuku" memikirkan betapa tidak miripnya mereka, untuk mengalihkan perhatian agar topik ini tidak berlarut-larut, Kahaya mengambil topik lain, "kenapa bentuk nya harus unicorn?"
Gadis bernama Zahra itu mengangkat bahunya, menunjuk pada ketua kelas wanita yang mencalonkan dirinya di grub, "dia memilihnya, sebenarnya aku tidak terlalu menyukainya, bukankah ini terlalu aneh? Bagaimana laki-laki ingin memakai ini?"
Kahaya dapat merasakan nada ketidak setujuannya, dia diam-diam menyesuaikan kata-kata yang dikeluarkan, " yah, sebenarnya para osis sekolah SMP 26 yang mengatur ini, lagipula kegiatan ini juga dibentuk untuk hiburan"
Kahaya tidak ingin bernada menyalahkan, mereka masih SMP, diusia seperti itu, mereka tidak ragu-ragu untuk menyatakan ketidaksukaannya.
Setelah menyapu lantai, Kahaya menyuruh Bara untuk mengambilkan plastik sampah
Kahaya melihat Bara yang berwajah datar, tetapi jika ada yang bertanya padanya, Bara masih menunjukkan senyum dan menjawab, senyuman Bara sangat polos tidak bengkok dan kaku lagi seperti dulu, itu membuat orang sangat nyaman saat dia tersenyum pada orang lain, apalagi wajah Bara yang tampan, dan pakaiannya yang bersih, potongan rambut yang rapi, membuatnya begitu menonjol.
Kahaya melihat Bara menjawab pertanyaan orang lain dengan lembut, dan pengertian.
Baiklah, apa dia mengcopy cara Kahaya dalam berperilaku?
Caranya dalam memperlakukan orang terlihat sama persis dengannya.
Tetapi saat pertanyaan yang datang itu tidak sudah-sudah, Kahaya dapat melihat ketidaksabaran di wajah Bara.
Orang lain mungkin tidak tau, tetapi Kahaya tau hanya dengan melihat sekilas, mereka sering bersama, jadi dia bisa merasakan.
Awalnya karena senyum Bara yang agak bengkok, seperti orang yang baru belajar tersenyum, terlihat sangat canggung, dan aneh, lalu seiring berjalannya waktu Bara seperti mencontoh kelakuannya.
Kahaya sering tersenyum pada orang-orang, dia sendiri tau bahwa dia adalah anak yang ramah, dia tau bagaimana cara memperlakukan orang lain semestinya, sesuai kesukaan mereka, maka dari itulah banyak orang yang nyaman disekitarnya, dia akan dengan sabar mendengarkan cerita orang dewasa, anak-anak seumuran mereka, atau yang lebih tua sekalipun.
Bara selalu melihat gerak-geriknya, saat Kahaya bergerak sedikit saja, Bara akan langsung menoleh padanya, seperti sekarang, saat dia bermaksud mengambil kertas karton disampingnya, Bara melihat itu, mengedepankan badannya, dan dengan respon cepat mengambil kertas karton di lokasi tersebut untuk Kahaya.
Zahra melihat hal itu karena dia duduk disebelahnya, dia menyenggol Kahaya dan berkata. "Sepupumu sangat perhatian"
Kahaya menoleh padanya dan membalas kalimatnya dengan senyuman.
Mungkin Bara belajar darinya untuk memperlakukan orang lain.
Tetapi Bara masih kurang dalam kesabaran.
Itu sangat melegakan bahwa Bara tidak dijauhi lagi oleh anak-anak seumurannya seperti di sekolah dasar Bara dulu.
Awalnya Kahaya khawatir, tetapi karena Bara sudah bisa beradaptasi, itu membuat Kahaya membuang semuanya, dan bernafas lega.
Melihat Bara berjalan dengan senyuman, bertanya pada ketua kelompok, dimana tempat plastik sampah, Kahaya semakin mengangguk setuju.
Hal-hal yang harus dilakukan sudah dilakukan, Kahaya mengucapkan selamat tinggal pada kelompok yang duduk di sofa, atau yang telah menaiki sepeda mereka masing-masing untuk pulang.
Meletakkan name tag itu di dalam tasnya dengan hati-hati, Kahaya duduk di belakang Bara sambil merasakan angin bertiup.
Bara mengayuh dengan stabil, jika ada gundukan, dia akan memperlambat agar tidak terlalu terbanting saat mereka duduk diatasnya.
Name tag ini, harus di kliping dengan plastik di warnet, itu sangat mudah, karena Bara yang bekerja di warnet saat ini ada untuknya, dia hanya akan menyerahkan tugas kliping name tag untuk MOS ini pada Bara.
Pertemuan kelompok Bara sendiri pada pukul 12 siang, dan ini masih 11.20, jadi masih ada waktu untuk mereka makan siang.
Mereka telah sarapan saat pagi hari tadi sebelum pertemuan kelompok Kahaya diadakan.
Mereka memakirkan sepeda di tempat duduk pinggir jalan, Kahaya mengambil kunci dari dalam tasnya, dan membuka gembok penutup keranjang untuk mengeluarkan 2 kotak makan siang, dan 2 botol minum mereka.
Ada dua kotak kecil kosong di keranjang, itu adalah kotak sarapan mereka yang biasanya Kahaya isi dengan roti panggang, lauk mereka untuk sarapan, dia juga menambahkan 2 kotak susu sekarang untuk mereka minum.
Saat mereka makan, ada beberapa pejalan kaki, dan juga sepeda yang lewat.
Di jalanan ada pohon-pohon berjejer berbunga merah yang mekar, yang sengaja di tanam untuk pemandangan, membuat semuanya terasa sejuk dan menyegarkan.
Kelopak demi kelopak bunga merah yang gugur berjatuhan di kepala Bara dan kepala Kahaya sendiri, di kotak makannya juga ada beberapa kelopak yang jatuh, membuat mereka merasa geli melihatnya
Kahaya memandang Bara, Bara juga memandangnya, melihat penampilan mereka masing-masing dan merasa lucu, lalu mereka tertawa karna harus memakan bunga.
Pada tanggal 20 juli, MOS untuk murid SMP N 26 dilaksanakan, malam hari Kahaya memperhatikan barang-barang yang wajib mereka bawa, sudah 4 kali dia mengeceknya, tetapi Kahaya adalah orang yang sangat khawatir akan ketinggalan, Dia akan terus menerus melihat agar tidak ada satupun kesalahan.
MOS dilaksanakan hanya 2 hari, satu hari untuk perkenalan, dan hari kedua untuk pelatihan militer.
Hari pertama adalah penyambutan untuk osis, mereka menyuruh semua kelompok untuk membuat yel-yel regu mereka.
"Aku lihat kesini
Aku lihat kesana
Disini disana ada teman baru
Semua semua semua
Sangat baik dan ramah
Ingin jadi dekat dengan mereka semua
La la la~ aku senang sekali ... disini banyak teman baru"
Gerakan serempak mereka lakukan dari satu senior ke senior lain, buku yang awal mula kosong mulai terisi dengan banyak tanda tangan.
Kahaya mulai berlari mengejar satu demi satu senior untuk tanda tangan bersama dengan kelompoknya, rambutnya di kuncir kuda, dengan topi hitam di kepala mereka masing-masing, berlarian, seperti anak ayam yang mengejar induknya.
Dia tau lagu yel-yel milik Bara, dan itu lucu saat dia memperhatikan Bara ikut bergoyang dan menari bersama kelompoknya.
Entah itu karena firasat atau apa, tetapi setiap kali Kahaya memandang Bara yang jauh disana, Bara pasti akan merasakannya, Kahaya melihat Bara yang menoleh padanya, mata mereka bertemu, dan mereka saling tersenyum dengan kelucuan gerakan yang mereka buat secara berbeda.
Hari kedua MOS, adalah pelatihan militer, dibawah sengatan matahari, dengan membuat gerakan yang dilatih dari beberapa tentara yang bersuara besar dan tegas, mereka melakukan olahraga yang sebagian tidak pernah mereka lakukan, sehingga saat malam hari datang, kaki mereka menjadi pegal, dan badan mereka menjadi semakin sakit hanya untuk bergerak.
Kahaya tidak mengambil libur, meski dia tau bahwa dia sangat lelah saat ini, tetapi jika tidak sakit parah, Kahaya tidak akan pernah mengambil hari libur dari pekerjaannya di rumah makan.
Dua hari kemudian, adalah hari masuknya mereka ke SMP 26, 300 murid baru yang diterima di SMP 26 berbaris dengan rapi di barisannya, sebelah kanan barisan yang sedikit, diisi oleh guru-guru yang berpakaian rapi
Mereka mengenakan pakaian yang telah diberikan sekolah dengan serempak.
Kemaja putih berlengan pendek, dengan rok biru dongker, dasi biru dongker, lengkap dengan topi upacara.
Kahaya dan Bara berbaris didepan.
Ada sekitar 20 murid yang berbaris didepan, disebelah mereka terdapat podium yang sangat kecil hanya muat untuk satu orang, diatasnya berdiri kepala sekolah, yang berbicara dengan panjang lebar.
Semua motivasi, gerakan perjuangan dikeluarkannya, mulai dari kelebihan sekolah ini, perkembangan sekolah ini, Kahaya melihat itu dan mulai merasa bahwa kepala sekolah SMP 26 terlalu-- bersemangat.
"Sudah cukup lama aku tidak berdiri seperti ini, tepatnya pada hari senin, berkibarnya bendera merah putih ditiang, tertiup angin, dibawah panas terik matahari, ditambah dengan ocehan, lalu keringat yang mengepung, orang-orang yang mengeluh, lalu beberapa yang berpura-pura pingsan dan dilarikan ke UKS, dan--"
Saat seseorang menepuk belakang kepalanya dengan peringatan, barulah siswa itu terdiam.
"Puisi mu itu yang lebih menyesakkan disini, inilah sebabnya aku selalu menyuruhmu untuk berhenti berdebat tentang nilai Bahasa denganku" siswa yang menepuk kepala temannya dengan keras itu menggerutu.
Kahaya berdiri di barisan paling depan kedua, bukan karena tinggi badannya, tetapi karena nilainya yang tertinggi disini, selain Bara, dan 4 lainnya, ada 20 siswa yang dibariskan didepan, menghadap sisa dari 300 murid lainnya, menjadi siswa jalur undangan, yang menjadi pusat perhatian.
Bara berdiri di barisan paling depan, pertama. Nilainya melebihi Kahaya beberapa puluh poin, tidak bisa dipungkiri lagi bahwa Bara merupakan juaranya di jalur undangan ini.
"Selamat datang bagi semua siswa baru jalur undangan maupun jalur umum, saya selaku kepala sekolah menyambut kalian semua dengan tangan terbuka, dismp 26 ini kalian akan diberi fasilitas yang memadai, tugas kalian adalah belajar, dan bagi guru-guru adalah mengajar, prestasi adalah yang nomor satu, peraturan adalah yang harus dipatuhi.."
Kahaya mendengarkan kata-kata sambutan dari kepala sekolah dengan seksama, melihat kesampingnya, Bara berdiri disebelahnya dengan menunduk, Kahaya tersenyum, tau bahwa Bara sedang bosan.
Setelah upacara selesai, dan barisan dibubarkan, mereka kembali ke kelas mereka masing-masing, dimana mereka telah meletakkan tas, dan barang-barang mereka di meja kelas tersebut.
Kahaya dan Bara datang pagi-pagi sekali, mereka mengambil meja acak, karena pengaturan tempat duduk yang belum disahkan oleh wali kelas.
"Hey, boleh aku duduk disini?"
Kahaya mengangguk pada wanita itu, dengan senyuman, " silakan"
"Namaku Lili"
"Aku Kahaya"
"Aku berada di gugus merah, kau?"
Menggaruk lehernya yang tidak gatal, Kahaya menjawab dengan sabar, "gugus pink"
Seolah teringat akan sesuatu, Lili mengangguk-angguk, "ah.. name tag yang berbentuk unicorn? Sangat baik, aku sangat menyukai bentuk name tag kalian, itu sangat cocok dengan warnanya"
Kahaya mengangguk setuju, mereka berbicara lama, seolah tidak mengerti waktu, Lili sepertinya sangat menyukai Kahaya dari pandangan pertama, dia lengkap menceritakan apa saja padanya, dari waktu mengapa dia memilih sekolah ini, atau mengapa dia tertarik dengan sekolah ini
"Oi, Lili, kau telat lagi?"
Orang yang berada tepat didepan, menyela ucapan Lili.
Seperti baru menyadari kehadiran Kahaya, wanita yang baru datang itu menoleh kearahnya, untuk memperkenalkan diri, " hallo, namaku Fifa, satu sekolah dasar dengan Lili, aku duduk tepat didepanmu"
"..Kahaya" dia menatap Lili, dan Fifa dengan tidak mengerti, "lalu kenapa kalian duduk terpisah?"
Fifa melihat kearah lain, malu-malu dalam berkata, "ada satu lagi teman yang sama dari satu sekolahku yang kebetulan sekelas, jadi-- aku memilih duduk dengannya"
Lili yang dari tadi diam, tiba-tiba membisikkan suara kecilnya dengan keluhan, "aku dibiarkan sendirian olehnya"
Suaranya tidak pelan, walaupun dia berbisik-bisik, Fifa ada tepat didepan mereka, jelas dia mendengarnya juga, mulut Fifa berkedut karna itu.
Memukulnya dengan keras, Fifa menegur, "apa kata-kata yang kau katakan ini, dasar anak nakal, bukannya aku yang membuat keputusan, sudah jelas kau kalah dalam permainan batu gunting kertas. Duduk sendirian adalah pilihanmu sendiri karna kalah"
"Jadi mana temanmu yang satunya lagi?"tanya Kahaya pada mereka.
"Dia pergi keruang guru" jawab Fifa.
Memiringkan kepalanya karena terkejut, Kahaya berkata, "kenapa? bukankah ini baru awal sekolah, apa dia mendapat masalah?"
Melambai lambaikan tangan, Fifa berbisik pada Kahaya, "kau tau, dia anak kepala sekolah SMP ini, bu Maryati, yang tadi memberikan pidato pada saat upacara, dia adalah ibunya"
"Ah.. begitu" Kahaya mengangguk dengan pengertian.
Tepatnya pada saat guru memasuki kelas, dan mereka semua menjadi diam.
KAMU SEDANG MEMBACA
Leave me, and I die (complete)
Roman d'amour"Ibu kahaya sebagai pasangan yang dari kecil telah bersama, Apa kebiasaan bapak Bara yang membuat anda takut?" Kahaya merenung, dan memikirkan, lalu membuka mulutnya. " ini. Cara dia menatapku. Tatapannya terkadang membuatku sedikit takut. Sebenarny...
