bab 41 : Perayaan kenaikan kelas

5.8K 692 46
                                        

Kahaya menatap kosong pada orang orang yang bermain basket didepannya, dan berbicara pada orang disampingnya, "Kau bisa bermain kan bara? Kenapa kau tidak bergabung dengan mereka?"

Bara yang sudah menatap kahaya sedari tadi, berbicara dengan kepala menunduk, "tidak ada kebutuhan untuk melakukan itu"

Tidak mengerti, kahaya menyuarakan, "Kenapa? kau selalu terlihat seperti senang menikmati dirimu sendiri saat memainkannya disekolah"

Ada banyak orang disekeliling mereka saat ini, tetapi sedang melakukan kesibukan masing masing, seperti menyantap makanan dan minuman, atau menonton banyak anak laki laki yang sedang bermain basket didepan seperti dia.

Hari ini adalah perayaan pesta yang diadakan oleh Anggun, teman sekelasnya, karena waktunya siang hari, waktu libur setelah ujian semester, dan pekerjaan kahaya, Bara juga di sore hari, jadi kahaya memutuskan untuk datang.

“Basket tidak terlalu menyenangkan kahaya. Mereka kadang mengajak ku untuk bergabung dan aku melakukan itu supaya bisa menjadi dekat dengan rombongan itu. Mereka sulit diatur dan tidak mendengar siapapun disekolah termasuk guru, tetapi mereka menghormati teman. Sekarang aku telah akrab dengan mereka, sehingga itu tidak perlu dilakukan lagi" Bara menerangkan dengan kepolosannya yang biasa.

Kahaya terkejut dengan jawaban panjang Bara yang tidak memfasilitasi. Dia telah membayangkan selama ini bahwa Bara bermain karena dia menikmatinya.

Ternyata sebagai anggota osis yang perlu mendisiplinkan orang orang, sehingga dia melakukan sebuah kegiatan bernama pertemanan?

Difikir fikir semenjak kejadian itu, Bara menjadi sangat sangat terbuka dengan fikiran gelap yang dia miliki, perbuatannya, dan apapun yang akan dia lakukan.

Atau mungkin Bara tidak tau bahwa kelakuannya sangat sangat tidak normal?

"Tapi bukankah itu membuatmu stres, melakukan hal-hal yang bertentangan dengan keinginanmu Bara?" Kahaya menatap wajah Bara.

"Apa itu stres?" memiringkan kepalanya, Bara bertanya dengan wajah datar. 

Kahaya kehilangan kata-kata. Terkadang Bara memang seperti ini. Seperti tidak ada emosi. Dan tidak tau apapun tentang jalannya Dunia. Layaknya anak kecil.

Kahaya tidak tau apakah Bara memang tidak tau atau berpura pura tidak tau saat bertanya tentang hal yang manusia normal pasti tau seperti kata 'stress itu apa'

"Kau tahu, seperti ketika hal-hal tidak berjalan seperti yang kau inginkan, atau ketika begitu banyak hal buruk terjadi berturut-turut sehingga kau merasa tidak stabil." Kahaya menjelaskannya dengan perlahan.

"Aku banyak mendengar kata itu Kahaya, tetapi memahami rasanya begitu sulit" Bara memiringkan kepalanya dengan bingung.
“Aku merasa tidak stabil hanya ketika kau berkata akan meninggalkanku, saat kau marah padaku, mengabaikanku, dekat dengan orang lain selain aku, atau saat aku tidak bisa melihatmu untuk beberapa saat saja"

Kahaya merasakan hatinya tertusuk duri, ingin menangis, tetapi kahaya masih harus terus mengajari Bara tentang bagaimana manusia normal rasakan, "aku tidak akan meninggalkanmu Bara, tetapi setiap orang pasti akan pergi..."

"Jangan mulai kahaya" Bara menoleh menatapnya dengan gigi terkatup, "jangan memulainya. Kita tidak akan pernah berpisah. Tidak akan pernah. Kecuali jika kau ingin aku mati. Kenapa kau selalu ingin membicarakan hal ini denganku?"

"Itu tidak benar," kata kahaya. "Kau tidak memberikan kebaikan dan pertimbangan untuk mendapatkan kata-kata sebagai balasannya, kau hanya terus mengancam. kita perlu membicarakan ini secara pribadi Bara, tetapi kau selalu menghindarinya saat kita sedang berdua saja, atau dengan banyak orang lain disekitar. Masalah yang tidak tuntas itu membuatku membicarakan topik ini berulang ulang kali, dan disemua tempat dimana kita bisa berbicara"

Mata Bara menyipit, "aku tidak pernah mengancammu kahaya. Aku akan melakukan apa yang aku katakan"

Menangkap tangan Bara yang akan beranjak dari kursi, kahaya panik, " tidak, maafkan aku, aku salah, duduk lagi, aku salah"

Setelah melihatnya duduk lagi, menyampingkan matanya, kahaya hanya fokus melihat orang orang bermain basket. Diam.

Bara menatap kahaya dan menarik napas,
"Jangan marah, Itu membuatku tidak stabil. Membuatku merasa tidak aman"

Kahaya melihat pemuda didepannya dengan seksama, berpikir tentang pria macam apa Bara itu. 

Jelas bahwa cara berpikirnya lebih dari sedikit abnormal, tetapi anehnya, kahaya tidak mau meninggalkan Bara, karena dia tau, akhir Bara jika dia meninggalkannya. Itu bukan sekedar ancaman.

Kahaya bahkan melihat semacam kepolosan pada pemuda ini ketika dia memikirkan bagaimana Bara dan kahaya tumbuh dari kecil bersama. Mereka telah bersama selama bertahun tahun. Mustahil untuk tidak ada ikatan diantara mereka berdua.

Ketika anak-anak pertama kali berpikir untuk melakukan perbuatan baik kepada seseorang, mungkin itu adalah sesuatu yang sederhana seperti keinginan untuk dipuji atau untuk membuat seseorang bahagia. 

Anak anak cenderung akan menangis, dan memikirkan cara apapun untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan. Seperti mainan. Anak anak akan sangat bergantung pada orang tua mereka.

Jika kahaya menganggap proses berpikir Bara seperti anak-anak, dia merasa bisa memahaminya dengan lebih baik

Tetapi satu-satunya masalah adalah Bara memiliki keinginan berlebihan, ketergantungan berlebihan pada hanya satu orang

Cara mendapatkan apa yang dia inginkan dan gantungi terlalu ekstrim dan membahayakan

Dan itu semua dilimpahkan padanya.

“Bara, tolong. Kau bersikap seperti ini hanya membuatku… ” kahaya berhenti, membuat suaranya lebih kecil lagi, “merasa tercekik"

“Mencekik?” Bisik Bara, terkejut.

“Ya. Kau harus menghentikan ini. Aku tidak suka saat kau berbicara tentang kematianmu terus menerus Bara. Itu membuatku takut" kahaya menoleh, dan kebetulan melihat anggun yang sekarang berjalan kearah mereka duduk, membuat kahaya menoleh pada bara untuk menjeda perkataan balasannya, "kita akan membicarakan topik ini nanti"

“kahaya, aku tidak ingin mencekikmu,” kata Bara dengan tenang, hampir gemetar.

“Yah, itulah kau. Kita akan membicarakan ini nanti” kahaya langsung beranjak dari tempat duduknya dan menghampiri Anggun yang sudah setengah jalan akan sampai ditempat Bara dan kahaya duduk tadi.

Leave me, and I die (complete)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang