Saat Kahaya memasuki gerbang taman, dia sudah melihat Bara seperti biasa, tertidur di atas rumput, dengan mata yang tertutup.
Gambarannya terlihat begitu damai, kadang dia berfikir, kehidupan yang seperti kami jalani saat ini, apakah orang-orang mempunyai kisah yang lebih menyedihkan darinya atau Bara. Kahaya percaya, bahwa mereka masih cukup beruntung karna masih bisa menompang hidup dan menjadi mandiri.
Mungkin diluar sana, masih ada orang yang tidak cukup beruntung, lebih dari Kahaya atau Bara. Pikiran itu membuatnya lebih baik.
Mendengar gemerisik tapak kaki yang tidak asing lagi di telinganya, Bara duduk, dan menoleh ke belakang, melihat orang yang ditunggunya sudah datang, dia tersenyum dan berlari ke arah gadis itu.
Setiap langkah kaki menghampiri gadis itu, sangat tak tertahankan.
Bara menggenggam telapak tangan itu lagi.
Hangat..
Bara telah sangat merindukan perasaan ini, rasanya menyakitkan, tetapi dia juga sangat nyaman.
Itu seperti hatinya tercekik saat berada di ruangan kosong, tanpa orang apapun, suara-suara ibu dan ayahnya yang selalu terdengar ditelinga setiap harinya membuat telinganya berdengung dan kepalanya sakit, tetapi saat dia bertemu gadis ini, perasaan sakit itu, yang biasa bisa dia toleransi, menjadi terus mengusiknya dan dia seperti tidak tahan lagi.
Dia ingin menumpahkan semuanya.
Hanya setelah menggenggam tangannya, dunia rasanya menjadi sangat damai, semua terasa sangat nyaman.
Bara selalu menerima apa yang orang berikan, selalu mematuhi semua aturan, tidak pernah bertanya apapun, itu semua seperti kebiasaan, dan dia tidak pernah mempunyai keingintahuan apapun, kadang saat dia menjadi sesak, atau salah paham dengan kata-katanya, gadis itu tidak akan marah, dia akan selalu menenangkannya dengan suaranya yang lembut.
Karna itu, perasaan tercekik, atau sesak itu akan hilang, digantikan dengan kenyamanan, dan rasa ingin tahu. Seperti, keyakinan bahwa walaupun dia banyak bertanya, atau melakukan hal lainnya, gadis di sampingnya ini tidak akan pernah marah padanya, tidak akan memukulnya seperti ayah yang memukul ibunya, atau mengabaikannya seperti orang-orang lain lakukan. Itu membuatnya sangat tenang, dan memiliki rasa aman.
Kahaya dan Bara duduk diatas rumput hijau, ditengah-tengah lapangan.
Rumputnya sangat lembut, lapangannya sangat bersih dan tidak ada sampah, karena Kahaya dan Bara di sela-sela waktu mereka akan membersihkan tempat ini.
Dia tidak tahu, siapa pemilik lapangan ini. Lapangan ini sendiri sangat menyedihkan, dan tidak terawat. Jika dia melihat besi gawang dari dekat, mereka jelas telah tua dan berkarat.
Membuka bungkus makanan satu demi satu, Kahaya menempatkan makanan itu di depan Bara, dan di depannya sendiri. Lalu Kahaya mengeluarkan dua pasang sendok dari dalam plastik nya.
Semua karyawan ditempat Bu Mustofa hanya bisa memiliki menu sederhana, seperti ikan, kangkung, tahu, tempe. Sedangkan sejenis ayam, udang, kepiting, cumi, dll makanan yang harganya lebih mahal, tidak diizinkan sebagai makanan mereka.
Terkadang dia tidak sengaja mendengar para kakak laki-laki disana mengeluh tentang betapa Bu Mustofa begitu pelit. Akan tetapi dia seperti bisa melihat hal lain dari peraturan Bu Mustofa, karyawan Bu Mustofa bukan hanya satu orang, itu bisa dikatakan banyak, jika semua orang memakan makanan yang harganya mahal, maka pendapatan Bu Mustofa pasti akan berkurang, terkadang dia ingin mengatakan itu pada mereka, tetapi berhenti saat dia tidak ingin mendapat masalah atau hal lainnya yang menyulitkan.
Ada kamar mandi di kursi penonton lapangan, yang hanya ada satu bilik. Tetapi air yang keluar dari kamar mandi itu sangat sedikit. Dan.. terlalu kotor untuk Kahaya rela membuang air kecil, atau besar disana.
Mereka makan dalam diam. Bara tidak suka diganggu saat sedang makan, Kahaya mengetahui itu walaupun Bara tidak mengatakannya, dia selalu terasa sangat menikmati setiap makanan yang diberikan Kahaya untuknya, sehingga Kahaya tidak ingin mengganggunya.
Setelah selesai mengisi perut mereka, Kahaya membereskan bungkus-bungkus makanan itu, dan memasukkannya ke dalam plastik.
Melihat telapak tangannya digenggam sekali lagi, Kahaya hanya tersenyum.
Bara bermain dengan tangannya, dan sesekali membolak-balik telapak tangan gadis itu. Melihat garis-garis ditelapak tangan Kahaya yang melengkung-lengkung. Bara telah menghitungnya, ada 4 garis.
Bara menelusuri garis-garis tangan itu, dia membandingkannya dengan telapak tangannya sendiri, garis nya tidak sama. Rasa keingintahuannya seperti tidak ditekan saat dihadapkan dengan gadis itu, yang membuat Bara bertanya. "Apa maksud dari ini? Ini.. tidak sama dengan ku"
Bara menyandingkan telapak tangan mereka, alisnya berkerut saat melihat banyak perbandingan diantara garis tangannya dan gadis itu.
Kahaya tersenyum tak berdaya, inilah salah satu hal yang tidak dia mengerti dari sikap Bara. Bara kerapkali menanyakan pertanyaan yang tidak terduga. Dia tidak pernah menanyakan tentang soal yang tidak dia mengerti di bidang mata pelajaran, malah Bara yang akan mengajarinya tentang soal-soal tersebut, Bara hanya kurang mampu di pelajaran Bahasa inggris. Pertanyaan yang paling sering Bara lontarkan padanya adalah hal-hal sederhana, yang seorang anak kecil pun seharusnya juga tau akan jawabannya.
Pernah suatu hari, Bara bertanya kenapa dia tidak memiliki lesung pipi seperti yang dimiliki Kahaya, lalu, esoknya dia bertanya lagi saat Kahaya tidak sengaja menabrak orang, kenapa dia mengucapkan kalimat maaf, dan kenapa harus berterima kasih, dan lain sebagainya.
Lalu Kahaya mulai memahami, Mungkin, orang-orang sebelumnya tidak pernah mengajari hal dasar seperti itu pada Bara. Semua itu membuat Kahaya bertekad untuk menjawab semua pertanyaan Bara sesempurna mungkin.
"Setiap orang memiliki garis tangan yang berbeda-beda Bara. Aku juga pernah mendengar, bahwa dari garis tangan, kita bisa melihat nasib orang itu, serta karakter orang lain"
Bara melihat telapak tangannya sendiri, dan bergumam. "Lalu, bagaimana kita bisa melihat nasib kita dari ini?"
Kahaya menepuk kepalanya dengan suara penyesalan. "Sayang sekali aku tidak mengetahuinya, itu biasa dilakukan oleh peramal... atau, kita bisa melihat di internet besok"
Berbicara tentang nasib atau masa depan, Bara tidak pernah memikirkan tentang hal itu, hidup atau tidaknya dia, sangat tidak penting untuk dirinya sendiri.
Tetapi sekarang dia sangat ingin mengetahuinya. Dimasa depan, apakah gadis ini akan selalu bersamanya? Jika tidak, bagaimana Bara bisa membuat dia untuk tidak akan pernah meninggalkannya?
Kadang dia berfikir tentang bagaimana jika gadis ini meninggalkannya, bukankah semuanya tidak akan berarti, bukankah lebih baik dia menghilang, dia tidak tahu, jika gadis ini meninggalkannya mungkin dia lebih baik..
Kahaya menoleh melihat Bara yang termenung, sambil masih menelusuri garis tangannya.
Saat itulah dia teringat sesuatu, "Bara, apakah sabun mandi yang kita beli terakhir kali masih ada?"
Bara langsung menjawab. "Masih"
Kahaya, "Bagaimana dengan shampoo?"
Bara mengangguk, "itu juga masih"
Saat sering melakukan pertanyaan tentang kebutuhan dasar hidup di rumah Bara, Kahaya mengetahui bahwa ayah Bara jarang keluar dari kamarnya, dari keterangan Bara, ayahnya akan selalu hanya menonton televisi di ruang tamu, dan minum-minuman keras di dalam kamar. Dan ibu Bara yang mencari uang untuk membeli banyak minuman-minuman keras yang ayahnya minum tersebut. Betapa orang bisa menjadi sebajingan itu.
Kahaya yakin, bahwa hal-hal semacam sabun atau shampoo yang tidak di pentingkan oleh orang tua Bara, sudah diluar pikiran mereka. Ibu Bara sendiri, dia hanya pulang setiap hari hanya untuk membawa minuman keras itu, dan memberikannya pada suaminya yang hanya menganggur dikamar, lalu bertengkar lagi, dan ibu Bara akan keluar lagi setelah itu, lalu kembali lagi, dan pergi lagi, lalu kembali lagi membawa minuman keras, serta begitulah seterusnya.
Kahaya tidak mengerti, kenapa mereka tidak berpisah saja, daripada terus bersama tetapi hanya bertengkar?
Fikiran orang dewasa, memang sangat sulit untuk diterka.
Menunduk ke bawah, Kahaya meraih salah satu tangan yang bermain dengan jari-jarinya.
"Kukumu sudah sedikit panjang Bara. Memotongnya?"
Bara mengangguk.
Kahaya melepaskannya, lalu dia mengambil tas punggung yang diletakkannya di atas rumput, mencari kotak pensil, dan mengeluarkan pemotong kuku disana, yang tergantung bersama kunci cadangan ruko Bu Mustofa.
Kahaya meraih tangannya lagi, dan berkata. "Ayo mulai kita bersihkan"
Bara menggeser tempatnya lebih dekat dengan Kahaya.
Disela-sela memotong kuku, Kahaya mengatakan. "Memotong kuku harusnya seminggu sekali, ini sudah lewat, dan aku baru mengingatnya. Kadang aku pelupa, kalau Bara ingat, Bara harus mengingatkan Kahaya, mengerti?"
Bara mengangguk, masih menundukkan kepalanya melihat puncak kepala Kahaya yang menunduk, sangat berhati-hati dengan jari-jarinya.
Setelah selesai dengan kuku-kuku jari Bara, Kahaya menepuk pahanya sendiri.
Bara dengan senyum, mengerti apa yang dimaksud, dan meletakkan kepalanya disana, dengan posisi tidur, dan memiringkan tubuhnya.
Kahaya membungkuk, dan mencium wangi rambut Bara. "Bagus, rambut Bara kita menjadi lebih wangi"
Setelah memuji, dia memasukkan cotton bud di telinga Bara, Kahaya berkonsentrasi membersihkannya.
Perasaan ini, seperti mengenang ibunya dulu memperlakukannya, betapa bagusnya kalau ibu masih ada.
Daerah itu sunyi, Bara memejamkan matanya, menajamkan hembusan nafas yang di rasakannya dari gadis itu di telinganya.
Perasaan selalu ingin menghilang saat dia kembali kerumah, tidak dia rasakan lagi saat dia bersama gadis ini.
Perasaan ingin mengakhiri semuanya...
Pikirannya mulai mengembara, dan sangat nyaman, sehingga dia ingin tertidur. Tetapi dia tidak mau, waktu serasa berjalan begitu cepat, saat dia bersama Kahaya.
Tetapi seperti matanya tidak ingin bekerja sama, dia setengah tertidur tepat saat Kahaya memanggilnya.
"Bara, berputar"
Bara merubah posisinya, Kahaya membersihkan telinga Bara yang lain.
Setelah Kahaya selesai membersihkan semuanya, dia melihat Bara yang tertidur di pangkuannya.
Tidak terbayangkan bahwa anak lelaki ini, adalah anak yang sama di masalalu nya. Kahaya sangat mengingat raut wajah dan mata itu, saat pertama kali mereka bertemu, dia seperti kucing liar yang akan mencakar semua orang yang mendekatinya, dan sekarang kucing itu meringkuk dipangkuannya, seperti telah dijinakkan, dan telah menemukan tempat aman.
Meraih tas nya, Kahaya meletakkan pemotong kuku itu kembali ke tempatnya, dan melihat jam dipergelangan tangannya.
Ini masih pukul 00.30
Kahaya tidak tega untuk membangunkannya saat ini, tanpa bertanya pada Bara pun, keadaan di rumah Bara yang kacau, pasti membuat dia tidak nyenyak untuk tidur. Membayangkan iringan pertengkaran kedua orang tuanya sendiri sebagai pengantar tidur bagi Bara, Kahaya tidak bisa berkata-kata.
Dia mengelus rambut Bara, ingin membuatnya lebih nyaman. Melihat langit, dan memandangi bintang-bintang yang tidak akan bisa dihitung untuk mengetahui berapa jumlahnya.
Waktu berlalu, dan matanya makin berat. Pahanya sedikit mati rasa karena posisi nya yang terlalu lama tidak digerakkan.
Dia merubah posisinya perlahan-lahan, membuatnya seminimal mungkin, tetapi mata Bara telah terbuka saat itu.
Bara duduk, meraih pergelangan tangan kahaya dengan gerakan yang sangat alami, seperti telah melakukannya berkali-kali.
Melihat jam disana, Bara sadar bahwa dia telah tertidur cukup lama. Dia merasa sangat bersalah. "Maaf.."
Pertemuan mereka di tengah malam, seharusnya hanya berlangsung 1 jam, Bara menundukkan kepalanya saat melihat mata Kahaya yang kelelahan. Diwaktu-waktu, dia selalu ingin setiap hari hanya bersamanya, tetapi dia juga mengetahui bahwa itu tidak mungkin.
Bara akan selalu melihatnya sebelum berjalan ke lapangan, pemandangan yang selalu dia lihat, adalah Kahaya sangat sibuk dengan pekerjaannya melayani orang.
Menyadari bahwa Bara merasa bersalah, Kahaya tertegun, sebelum kembali ke akal sehatnya. Dia menepuk kepala Bara, dan berkata. "Itu tidak apa-apa, lagipula besok libur, kita hanya akan mengundurkan waktu pertemuan untuk belajar bersama pagi ini"
Bara dan Kahaya berada dilapangan sampai jam dua pagi, mata Kahaya sudah sangat berat. Meskipun dia sendiri sudah terbiasa tidur sampi pagi, itupun saat dia memaksakan untuk bangun saat sedang mengerjakan tugas, atau belajar.
Sudah ke tiga kalinya dia menoleh ke belakang, tetapi Bara masih terus berdiri di depan gerbang lapangan, seperti terpaku padanya, dan Kahaya bisa merasakan tatapan matanya yang terus mengikutinya. Jika itu dilakukan oleh orang tidak dikenal, pasti itu akan sangat menakutkan. Akan tetapi, dia tahu tindakan Bara itu dilakukan karena Bara enggan berpisah dengannya.
Kahaya membawa plastik-plastik itu bersamanya, sambil terus berjalan kembali, dia tidak lupa mengingatkan Bara tentang pertemuan kita pagi ini untuk belajar tadi, dan membeli barang di pasar saat siang nanti.
Setelah memasuki pintu ruko, Kahaya mengunci pintu dari dalam, dan meletakkan kuncinya di etalase toko, di sebelah meja kasir. Itu agar, para karyawan yang pulang tidak kesusahan mencari kunci, atau dia akan terganggu dalam tidurnya saat mereka mengetuk pintu kamarnya sekedar menanyakan tentang keberadaan sebuah kunci.
Meletakkan tas di gantungan pintu kamar, Kahaya membawa handuk, dan memasuki kamar mandi.
Segar, sehabis mencuci muka, dan menyikat gigi, Kahaya terbaring dalam kasurnya, dan terlelap.
5 jam.. 5 jam.. aku akan tidur, selama 5 jam.
Esoknya Kahaya bangun tepat pukul 8 seperti yang dia inginkan, dengan itu dia langsung bersiap-siap pergi ke kamar mandi.
Sehabis berpakaian dan menyisir rambutnya, Kahaya mengeluarkan uang yang telah disimpannya dengan baik dan menyisihkan 2 juta dari sana.
Kahaya menghela nafas. "Sisa uang tinggal 11 juta"
Betapa cepatnya untuk menghabiskan uang. Dan betapa lamanya untuk mengumpulkan itu.
1 juta adalah uang Bara yang diambilnya, dan Kahaya menambahkan 1 juta lagi.
Melihat 3 celengen yang masih belum dibuangnya di lantai, Kahaya memasukkan mereka
ke dalam kantong plastik.
Dia juga perlu membeli celengan baru, untuk uang tabungannya nanti.
Uang harian yang didapatkannya tadi malam Kahaya letakkan di bawah baju di lemari. Itu sangat tidak terorganisir.
Sebenarnya, dia sangat ingin membuat rekening sendiri. Tetapi rekening junior, yang banyak diperbincangkan karna program tabungan baru untuk anak kecil, yang masih belum cukup umur itu harus dibuat didampingi dengan orang tua, atau wali, Kahaya masih memikirkan bagaimana jalan keluarnya.
Bu mustofa..
Kahaya menggelengkan kepalanya.
Tidak, dia tidak ingin menyusahkan orang lain.
Memikirkan tentang program seperti itu, Kahaya teringat tentang kartu KIP.
Program yang menyediakan bantuan untuk anak yang tidak mampu.
Di SMP 26, banyak anak yang sangat berkecukupan, mungkin hanya dia dan Bara yang memiliki situasi seperti ini. Dia tidak perlu lagi berebut program wajib itu dengan murid lain.
Atau mungkin para murid lainnya akan malu, dengan program bantuan ini, sehingga mereka tidak ingin terlihat mendapatkan bantuan.
Kahaya bisa memanfaatkan program kartu KIP ini.
SD/ paket A, mendapat 450.000 setiap 2 bulan dalam setahun.
SMP/ paket B, mendapat 750.000 setiap 2 bulan dalam setahun.
SMA/ paket C, mendapat 1.000.000 setiap 2 bulan dalam setahun.
Dulu saat program ini baru dilaksanakan, entah berapa ribu murid yang berebut mendapatkannya, dan kuota pendapatannya juga sedikit. Guru-guru memilih dengan sangat berhati-hati, sampai-sampai para guru itu mendatangi rumah para muridnya.
Kahaya juga salah satu pengaju, tetapi dia masih mempunyai ibu, dan rumah yang disewa ibunya masih sangat layak jika dilihat.
Guru-guru menimbang, dari murid dengan rumah yang lebih buruk darinya, sehingga dia tidak mendapatkan bantuan itu.
Dimasa depan, tanpa mengecek rumahnya, guru-guru SMP 26 pasti menimbang faktor lain.
Yaitu.. kedua orang tuanya. Yah, program pemerintah kartu KIP, memang akan sangat membantu di kehidupnya Kahaya nanti jika dia berhasil terdaftar.
750 ribu.. per 2 bulan.
Itu banyak, dan lebih dari cukup untuk pengeluaran sehari-harinya.
Tetapi jika dia memang membandingkan program itu dengan bekerja di Bu Mustofa, itu akan sangat tidak signifikan.
Bekerja ditempat Bu Mustofa lebih segalanya.
Satu, dia mendapat tempat tinggal, sehingga tidak perlu mengeluarkan uang untuk menyewa tempat.
Di salah satu kota yang maju dinegara ini, rumah sewa, sangat mahal.
Dua, selain uang gaji bulanan 800 ribu, Kahaya juga mendapat uang harian sebesar 20 ribu.
Tiga, dia tidak perlu membayar air, listrik, dan bisa memakainya secara gratis.
Dan masih banyak lagi.
Terlalu tidak tahu malu jika dia membandingkannya. Tetapi disisi lain masalahnya disini adalah Bara. Bara masih memiliki orang tua. lalu, setelah Kahaya mengurusnya, Bara telihat sangat terurus, dan bersih.
Ah! Tempat tinggal.
Siapa dikota ini yang tidak tahu daerah kumuh?
Apalagi para guru.
Daerah pinggir sungai sudah sejak dulu diberi julukan sebagai daerah kumuh, karena betapa banyak pengemis, pemulung, dan tunawisma berada disana.
Baiklah dia tidak usah mengkhawatirkan tentang hal ini lagi, dia dan Bara hanya tinggal mengisi formulir, dan mengajukannya.
Kahaya mengambil tas nya, dan mengunci pintu kamarnya.
Melihat dua kamar di sampingnya masih tertutup, Kahaya menganggap bahwa Bu Mustofa, Pak Suroto, dan Ratna anak perempuan mereka, masih belum bangun.
Karena itu, dia memikirkan waktu siang harinya dia akan pulang dan membersihkan rumah ini nanti saja.
Saat Bu Mustofa dan keluarganya masih didalam kamar, Kahaya jarang memberanikan diri untuk menyapu, atau membersihkan rumah, takut itu akan mengganggu apapun yang dilakukan mereka.
Sedangkan untuk mencuci baju dan menjemur, Kahaya hanya melakukan itu dua hari sekali. Kemarin, dia sudah melakukannya.
Turun lewat tangga, Kahaya melewati gas-gas dan kompor yang berserakan.
Ini merupakan pemandangan yang biasa.
Di ruko ini, tidak ada dapur. Salah, dibelakang ada dapur, tetapi itu hanya untuk memasak sambal, merebus ayam, dan lainnya.
Dapur rumah tangga biasa, tidak ada disini. Kompor yang dipakai juga berat, itu memakai gas besar yang seharga 75 ribu, dengan wajan yang besar juga. Sehingga susah jika seseorang ingin memasak untuk sarapan, makan siang, atau yang lainnya disana.
Maka dari itu Bu Mustofa, dan keluarganya tidak pernah memasak, walaupun masakan Bu Mustofa, dan suaminya sendiri sangat enak.
Kahaya tau itu dikarenakan Bu Mustofa, dan Pak Suroto sering membuat masakan buatan mereka sendiri saat warung sedang sepi. Kalau disiang hari, mereka lebih memilih keluar dan makan makanan diluar.
Mungkin terlalu melelahkan untuk membeli bahan-bahan makanan yang tidak ada didapur.
Memikirkan itu, Kahaya sangat ingin membeli rice cooker mini, atau alat pemangang roti versi mini untuk diletakkan dalam kamar.
Dengan begitu, Kahaya bisa sedikit berhemat dari makanan-makanan luar. Lagipula Kahaya tidak seperti keluarga Bu Mustofa, atau anaknya yang tidak kekurangan uang untuk memikirkan.
Kahaya ingin membuat sarapan yang enak.
Roti panggang.. dengan selai, setiap paginya.
Itu membuatnya membayangkan. Berapa kira-kira harga nya? Sepertinya Kahaya harus melihat-lihat dulu di pasar.
Saat dia keluar dari pintu ruko, Bara sudah menunggunya didepan.
Tanpa berkata-kata, Kahaya menepuk kepalanya, dan menarik Bara menuju sisi pinggir jalan, untuk menghentikan angkutan umum.
KAMU SEDANG MEMBACA
Leave me, and I die (complete)
Romansa"Ibu kahaya sebagai pasangan yang dari kecil telah bersama, Apa kebiasaan bapak Bara yang membuat anda takut?" Kahaya merenung, dan memikirkan, lalu membuka mulutnya. " ini. Cara dia menatapku. Tatapannya terkadang membuatku sedikit takut. Sebenarny...
