Kami telah memperbarui Pedoman Konten kami.
Tinjau pedoman terbaru untuk terus berbagi cerita dengan aman.

Workaholic |21| |Her Scare VS His Answer|

15.8K 1.3K 149
                                        

Hai readers!

I'm back!

Don't forget to vote, comment, and share ya!

Happy reading!

Thank you!

***

Sepasang mata biru sekaligus mata hitam itu menutup. Kedua bibir itu semakin mendekat. Sang pria semakin memiringkan kepalanya, sedangkan sang wanita mencengkram bahu lebar pria di hadapannya untuk menyalurkan rasa gugupnya karena hembusan napas sang pria di wajahnya.

Namun, tiba-tiba, suara bel apartemen kembali terdengar, menyentak sepasang manusia tersebut. Mata mereka terbuka lebar. Carra spontan melangkah mundur, tapi tertahan akibat kedua tangan Allard di pinggangnya.

Suara bel kembali terdengar. Mata biru Allard melirik kitchen set. "Kau lanjut memasak, aku yang buka pintu."

Entah kenapa, kepala Carra spontan mengangguk sehingga Allard mulai melangkah menjauh. Mungkin dirinya masih kelewat gugup karena apa yang hampir terjadi. Yang benar saja! Dirinya hampir berciuman dengan bujangan paling diincar seluruh negeri?! Bukan dengan pria biasa, tapi Allard Levi Hernadez?! Terlebih di apartemennya?!

Carra memejamkan mata. Sialan. Bagaimana bisa ia terhanyut dalam suasana dan nyaris berciuman dengan seorang Allard Levi Hernadez?

Begitu mengingat di mana ia dan Allard berada, Carra mengangkat wajahnya dan membelalakkan mata. Ini apartemennya, lalu Allard akan membuka pintu?! Seseorang akan melihat Allard berada di apartemen seorang Carra Morris?!

Seketika, Carra langsung berjalan secepat mungkin dengan langkah lebar menuju pintu apartemennya. Sambil mempercepat langkahnya, matanya membulat melihat tangan Allard yang memegang handle pintu. "Allard!" serunya bersamaan dengan pergerakan Allard yang membuka pintu.

Selesai sudah.

Tepat saat Carra sampai di sisi Allard, pintu cokelat apartemennya itu terbuka sepenuhnya, menunjukkan tamu Carra. Anna Peterson. Carra langsung menepuk dahinya pelan. Sesungguhnya, ia cukup bersyukur karena tamunya adalah sosok yang ia kenal bahkan dekat dengan dirinya. Namun, ia harus bersiap dengan segudang dukungan Anna yang membuat Carra semakin berharap.

Anna menatap Allard dengan mata membulat yang melemparkan tatapan tidak percaya. "ALLARD HERNADEZ?!"

Carra meringis. Sembari menatap Anna, ia meletakkan satu jari telunjuknya di depan bibir. Tetapi melihat Anna yang tidak mengubris kodenya sama sekali, perlahan Carra beralih mendekatkan diri ke Allard, tepatnya ke telinga pria itu. "Kau tidak melihat interkom?" bisiknya.

Seraya membalas tatapan Anna serta mendekatkan diri ke arah Carra, Allard mengulas senyuman tipis. "Aku tidak terbiasa membuka pintu dan aku pikir melihat interkom hanya membuang-buang waktu."

Secara spontan, Carra menghadap sekaligus menatap Allard sepenuhnya. "Akibatnya, seseorang melihatmu berada di apartemenku, Allard," ucapnya gemas.

Dengan penuh semangat, Anna mengulurkan tangannya pada Allard. "Anna Peterson. Sahabat Carra. Senang bertemu denganmu, Allard." Ia meringis. "Ah, apa aku boleh langsung memanggil nama depanmu?" lanjutnya dengan nada suara yang berubah tidak enak.

Allard menyambut uluran tangan Anna, masih sambil tersenyum. "Allard Levi Hernadez. Teman Carra adalah temanku juga, jadi sama sekali tidak masalah. Senang bertemu denganmu, Anna."

Senyum Allard melebar, dan berubah sedikit jahil. "Aku harap kau tidak memberitahu siapa pun setelah melihatku berada di apartemen Carra," lanjutnya santai yang langsung membuat Carra melebarkan matanya sempurna.

Workaholic (Republish)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang