Hai readers!
I'm back!
Don't forget to vote, comment, and share ya!
Happy reading!
Thank you!
***
Mobil hitam Allard meluncur ke depan lobi VH Hotel dengan mulus. Langsung saja pandangan Carra tertuju ke luar mobil, menyusuri sekitar. Jantungnya sontak berdetak kencang mendapati beberapa pasang mata menatap mobil Allard dengan penasaran. Ia antara antusias dan ngeri sendiri. Mobil Allard sangat mencolok, terlebih mungkin ada beberapa orang yang sudah hafal dengan mobil Allard.
Ada apa gerangan sehingga Allard Hernadez datang ke VH Hotel pagi hari seperti ini? Kira-kira seperti itu pertanyaan orang-orang yang Carra tebak. Jawabannya?
Carra menoleh, menghadap Allard yang ternyata sudah menatapnya. Jawaban dari pertanyaan barusan adalah Allard mengantarnya pagi ini. Terima kasih kepada asisten Allard yang mengembalikan mobil Carra ke apartemen Carra sehingga Carra tidak memiliki alasan untuk berangkat sendiri. Berangkat naik taksi? Carra sudah melontarkan ide yang langsung dilarang Allard dengan keras.
Ada diriku. Untuk apa kau memilih naik kendaraan yang dikemudikan orang lain ketika kau memiliki pilihan diantarkan oleh pria yang sangat mencintaimu dan menunggu ketersediaanmu untuk menjadi kekasihnya?
Itu yang Allard katakan dengan lembut dan sepenuh hati. Dan Carra tidak bisa menjawab lagi. Jadi Allard mengantarnya. Jujur saja, tentu Carra merasa senang.
Allard mengulas sebuah senyum menenangkan. "Nanti sore kau pulang bersamaku."
Carra mengangguk, dengan tatapan tegas di matanya. "Selama kau mengantarku kembali ke apartemenku."
Sontak Allard tertawa ringan sambil sedikit menggeleng. "Ketika wanita lain ingin aku bawa pulang, apalagi menginap berdua, tapi kau menghindarinya, Carra."
Sambil tidak menyia-nyiakan melihat tawa Allard, Carra melepas sabuk pengamannya. "Dari awal, aku sudah bilang aku adalah wanita seperti apa, Mr. Hernadez," jawabnya sembari menggulum senyum.
Allard mengangguk. Dengan cepat, tangannya terulur menangkup wajah Carra dan menariknya mendekat. Ia memajukan wajahnya, mengikis jarak di antaranya dan Carra. "Kau adalah wanita yang pantas dipanggil dengan marga Hernadez," ucapnya lembut dengan suara rendah.
Tubuh Carra menegang luar biasa. Matanya melebar tanpa berkedip. Bahkan saat Allard semakin mendekat, tangannya terasa kaku untuk menahan Allard dan lidahnya terasa kelu untuk mengingatkan Allard bahwa kegiatan mereka mungkin bisa terlihat orang lain. Meskipun kaca mobil Allard gelap, namun ada kaca depan yang tidak segelap lainnya. Setidaknya dari depan, bisa dilihat bahwa tubuh Allard dan Carra sedang berdekatan.
Tangan Allard yang bebas memegang pinggang Carra. Allard memiringkan kepalanya dengan posisi membelakangi kaca depan. Lalu bibirnya mengecup pipi Carra selama beberapa saat. Ia sedikit tersenyum miring begitu merasakan tubuh Carra semakin menegang. Lucu sekali. Jika wanita lain yang ia cium saat ini, sebagian besar akan membalas ciuman Allard dan berusaha melakukan lebih.
Setelah sekitar satu menit berlalu, Allard mendekatkan bibirnya ke telinga Carra. "Meskipun orang mengira kita berciuman bibir, saat ini aku hanya mencium pipimu, Carra." Ia semakin mendekatkan bibirnya, nyaris menempel di telinga Carra. "Tapi tidak setelah kita resmi menjadi sepasang kekasih. Aku akan melakukan apa yang orang lain kira," ucapnya dengan suara rendah dan penuh arti.
KAMU SEDANG MEMBACA
Workaholic (Republish)
RomansaREPUBLISH 1 #billionaire 1 #work 1 #fakelove 1 #barat 1 #end Carra Morris adalah wanita biasa yang menjabat sebagai manajer umum VH Hotel. Sedangkan Allard Levi Hernadez seorang CEO & owner Hernadez Group, anak keluarga Hernadez, sekaligus the mos...
