Kami telah memperbarui Pedoman Konten kami.
Tinjau pedoman terbaru untuk terus berbagi cerita dengan aman.

Workaholic |28| |Failure|

13.2K 1.1K 45
                                        

Hai readers!

I'm back!

Don't forget to vote, comment, and share ya!

Happy reading!

Thank you!

***

Pintu Mercedez Benz terbuka, kaki yang dibalut stiletto nude dua belas sentimeter menapak di parkiran basement VH Hotel. Seorang wanita bersurai pirang yang mengenakan setelan kerja merah darah melangkah turun. Sebuah nametag tersemat di dada kananya.

VH Hotel General Manager.
Carra Morris.

Tangan Carra terulur hendak menutup pintu mobilnya. Namun urung karena sebuah tangan besar menahannya, tangan yang familiar bagi Carra.

Carra menoleh. Matanya sontak melebar mendapati Allard berada tepat di sebelahnya. "Mr. Hernadez? Apa yang Anda lakukan di sini pagi-pagi seperti ini?" Ia kembali menggunakan bahasa formal karena posisi mereka saat ini di VH Hotel terlebih jam kerja hendak tiba sehingga banyak pegawai VH Hotel yang berpotensi berlalu lalang di parkiran.

Allard berbalik melihat ke belakang sebelum kembali menghadap Carra. Matanya memancarkan tatapan lembut namun tegas. "Pilih. Kau mau menjelaskan bersamaku atau aku sendiri?"

Kernyitan langsung tercipta di wajah Carra. Apa yang Allard bicarakan sebenarnya? "Menjelaskan apa, Sir?" tanyanya heran.

Sementara tangannya yang lain semakin membuka pintu mobil Carra, satu tangan Allard yang bebas bergerak menggenggam tangan Carra. "Kau masuk ke mobil atau bersiap menjadi pusat perhatian?"

Raut wajah Carra berubah menjadi semakin serius, sekaligus bingung. "Sebenarnya ada apa, Mr. Hernadez? Saya harus bekerja," ucapnya penuh keseriusan.

Sebelah alis Allard terangkat. "Jangan bilang kau belum lihat berita utama hari ini?"

"Be--lum." Carra menggeleng ragu. Ujung matanya melirik tas tangannya sekilas. Sepertinya ada sesuatu yang terjadi, dan sepertinya Carra terus membiarkan ponselnya dalam mode silent sehingga dirinya tidak tahu apakah ada yang menelepon. Biasanya Anna pasti sudah heboh jika ada sesuatu.

Allard memejamkan mata sejenak. Hanya dalam beberapa detik, ia kembali membuka matanya. Ia sedikit menunduk, menyejajarkan wajahnya dengan wajah Carra sementara netranya semakin memperdalam tatapan mereka.

Jantung Carra berdegup kencang bukan main, antara akibat posisinya dengan Allard yang sangat dekat, posisinya dan Allard yang berada di parkiran yang terbuka, serta menebak-nebak apa yang terjadi.

"Carra, listen to me carefully. Get in to your car and dont go for work today. Go home as soon as possible. Right now." Allard mengakhiri kata-kata lembutnya dengan mengarahkan Carra masuk ke mobil.

"Sir, tunggu sebentar--" Dengan segenap keberaniannya, Carra berbalik sembari sedikit menyentak tangan Allard. "Allard!" pekiknya tertahan.

"Carra, please," ucap Allard penuh harap.

Dengan tegas, Carra tetap pada posisinya sembari melemparkan tatapan tak kalah tegas pada Allard. "Tidak, Al. Aku tidak bisa pergi--atau bahkan kabur begitu saja tanpa tahu apa yang terjadi."

"Kau akan tahu." Dahi Allard berkerut. "Kau akan segera tahu apa yang terjadi."

"Katakan, Al." Carra mengernyit seraya memandang Allard dengan cemas. "Bagaimana bisa aku pergi begitu saja tanpa tahu apa yang terjadi dan--membiarkanmu mengatasinya seorang diri?" ucapnya dengan memelankan empat kata terakhir yang nyaris tidak terdengar.

Workaholic (Republish)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang