Kami telah memperbarui Pedoman Konten kami.
Tinjau pedoman terbaru untuk terus berbagi cerita dengan aman.

Workaholic |14| |Your Help|

17.3K 1.4K 86
                                        

Hai readers!

I'm back!

Don't forget to vote, comment, and share ya!

Happy reading!

Thank you!

***

Tidak lama kemudian, kepala Allard muncul terlebih dahulu di permukaan. Ia mengernyit dalam ketika mendapati Carra yang hampir tenggelam. Masalahnya begitu masuk ke ke kolam renang tadi, Carra spontan melepaskan dirinya. "Carra!"

Allard langsung berenang mendekati Carra yang tidak jauh darinya. Dengan sigap, tangannya melingkari pinggang Carra dan menarik wanita itu benar-benar muncul ke permukaan. Setelahnya, Allard tetap memeluk Carra. Tidak melepaskan wanita itu sedikitpun.

Sambil bernapas terengah-engah, Carra melingkarkan tangannya di tengkuk Allard. "Maaf karena reflek menarik Anda, Sir," bisiknya terbata-bata di samping telinga Allard.

Tangan Allard yang bebas mengusap punggung Carra. "Kalau pun kau tidak menarikku, aku akan menjeburkan diri untuk menyelamatkanmu. Kau tidak bisa berenang?" tanyanya sembari menyampirkan anak-anak rambut Carra di telinga Carra.

Hati Carra terenyuh karena jawaban Allard. Namun, ia langsung mendoktrin dirinya sendiri bahwa apa yang diucapkan Allard adalah sesuatu yang sepantasnya dilakukan sesama manusia. Meskipun sebagian dirinya mengatakan bahwa apa yang Allard lakukan dan ucapkan tidak sekadar karena hubungan antar sesama manusia.

Carra menggeleng. "Bukan. Kaki saya kram," lirihnya.

Allard tidak bergerak ke tepi kolam renang. Ia tetap bertahan di tengah-tengah kolam renang sambil memeluk Carra. "Kau mau membantuku?"

Tidak ada jawaban. Carra hanya memandang Allard dengan berbagai arti. Kebingungan sedang melanda dirinya. Di satu sisi, Carra ingin membalas bantuan Allard. Tapi di sisi lain Carra takut, takut dirinya benar-benar jatuh cinta sedalam-dalamnya kepada Allard. Entah kenapa, Carra merasa Allard berbeda dengan pria lain. Benar-benar sangat berbeda.

Kedua tangan Allard memeluk Carra. "Tenang, Carra. Aku tidak akan memperkenalkanmu di depan umum. Orang lain tidak akan tahu wajahmu. Aku hanya akan meminta orang memotret kita tanpa memperlihatkan wajahmu lalu aku akan memasang foto itu di media sosial. Akan ada berita tentang kita, tapi aku pastikan wajahmu tidak terlihat dan namamu tidak terseret." Ia menjelaskan panjang lebar dengan lembut.

Bukan itu yang paling aku takutkan, Allard. Carra menjerit dalam hati.

Satu tangan Allard bergerak menyampirkan anak rambut Carra yang lagi-lagi jatuh menutupi wajah cantik wanita itu ke telinga. "Aku beri waktu untuk berpikir. Beri tahu aku jawabanmu sebelum akhir minggu. Kalau kau setuju, kita akan mulai dari akhir minggu ini."

Setelah berucap panjang lebar, Allard berenang ke tepi kolam renang lantas mengiring Carra yang masih terdiam keluar dari kolam renang.

***

Di arena balap yang sangat sepi, dua mobil balap itu mendekat dengan kecepatan tinggi. Suara mesin mengisi hari yang sudah gelap karena malam sudah tiba. Begitu hampir menyentuh garis akhir, salah satu mobil yang bermerk Lexus mendahului sebuah Porsche yang merupakan saingannya.

Dua detik kemudian, Anna bertepuk tangan ketika Lexus tersebut menyentuh garis akhir sepersekian detik lebih dulu daripada saingannya. Anna menghampiri kedua mobil yang berhenti bersisihan tersebut.

Workaholic (Republish)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang