Kami telah memperbarui Pedoman Konten kami.
Tinjau pedoman terbaru untuk terus berbagi cerita dengan aman.

Workaholic |27| |Fail|

14.8K 1.1K 29
                                        

Hai readers!

I'm back!

Don't forget to vote, comment, and share ya!

Happy reading!

Thank you!

***

Anna melangkah mendekat ke sofa panjang di mana sahabatnya duduk. Hari ini Anna memang berkunjung ke apartemen Carra setelah ibadah bersama sekaligus dilanjutkan sedikit refreshing.

Sambil mengamati Carra yang sedang termanggu dengan pandangan lurus ke televisi yang menyala, Anna mendudukkan diri di sebelah Carra. Sebelah alis Anna terangkat. Meskipun televisi menyala yang bahkan menampilkan tentang saham, Carra terlihat memikirkan hal lain. Tidak biasanya. Biasanya Carra selalu fokus ketika melihat televisi terlebih tentang bisnis, saham, dan teman-temannya.

Anna meletakkan minuman kaleng bersoda miliknya ke meja. "Apa yang kau pikirkan?" tanyanya sembari menegakkan tubuh.

Tidak ada sahutan. Carra masih terlihat seperti berada di hadapannya, namun pikirannya berada di tempat lain.

Alis Anna semakin terangkat tinggi. Seorang Carra Morris yang melamun merupakan hal yang mengherankan. Sekaligus sesuatu yang langkah.

Anna menggeleng pelan. "Apa yang berhasil membuat Carra Morris melamun?" Sedetik kemudian, senyum miring terukir di wajahnya. Seakan ia tahu apa dan siapa yang membuat seorang Carra Morris tidak fokus.

Anna menarik napas. Lalu ia menarik napas panjang-panjang dan berteriak, "Allard! Carra, Allard meneleponmu!!!"

Carra terperanjat. Ia langsung melihat ke kanan kirinya, mencari ponselnya yang padahal berada di genggamannya. Begitu mendapati di mana ponselnya berada, Carra langsung mengangkatnya di depan wajah dan mengamatinya.

Detik berikutnya, Carra menoleh sambil melemparkan tatapan tajam pada sahabatnya yang sedang menahan tawa. "Anna Peterson!!" Ia melemparkan satu bantal sofa pada Anna yang tidak berakibat banyak. Anna malah memeluk bantal yang dilemparkan Carra sembari tertawa lebih puas.

"Meskipun dia tidak meneleponmu, dia mengirim pesan kepadamu. Aku bisa melihat notifikasinya," ucap Anna riang seraya berusaha meredakan tawanya.

Ekspresi wajah Carra berubah datar. Mengabaikan ponselnya yang bergetar sejenak. "Sampai kapan kau tertawa?" sindirnya dengan nada suara rendah.

Sontak Anna berdeham. Sedikit demi sedikit, tawanya benar-benar mereda. Carra dan suara tegasnya adalah suatu hal yang tidak bisa diabaikan begitu saja.

"Bagaimana aku tidak tertawa kalau aku mendapati seorang Carra Morris melamun di hadapanku? Bahkan aku bertanya kepadamu dan kau tidak menjawab."

Mendengar penjelasan Anna, Carra mengernyit. "Kau berbicara kepadaku dan aku tidak menanggapi? Jangan berbohong." Carra setengah percaya karena dirinya sangat jarang kehilangan fokus.

Anna menggedikkan bahu. "Tidak ada gunanya aku berbohong." Senyum menggoda menghiasi wajahnya. "Tapi sepertinya aku tahu apa penyebabnya, lebih tepatnya siapa," lanjutnya dengan suara penuh arti.

Kerutan semakin tercipta di dahi Carra. Tatapannya yang tertuju pada Anna tidak bisa berbohong. Tatapannya berubah penuh kecemasan dan kebingungan.

"Ada apa?" Anna membalas tatapan Carra dengan serius, tidak ada gurauan di dalamnya lagi. "Apa yang mengusikmu tentang Allard?" tanyanya to the point.

Workaholic (Republish)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang