29. My Best Friend

39.7K 5.1K 2.8K
                                        

Pukul 13.40 KST.

Renjun tengah duduk sambil minum americano di cafe Haechan. Tampak Haechan sedang sibuk mengawasi beberapa karyawannya atau memeriksa data penjualan.

Aneh, biasanya lelaki itu tak akan peduli dan menyerahkan semuanya pada manager cafe. Dia hanya terima jadi saja.

Mungkin Haechan sedang menyibukkan diri?

Renjun menghela nafas pelan, lalu mendekati Haechan dan menarik tangannya.

"Yakk, aku sedang sibuk!" Ucap Haechan.

"Besok kau akan pergi ke Busan. Ini hari terakhirmu disini sebelum kau pergi kesana. Kau tidak mau menemaniku?!" Ucap Renjun.

"Justru karena aku akan pergi ke Busan besok, maka setidaknya aku harus memeriksa data penjualan dulu disini."

Renjun berdecak pelan.
"Kau ini benar benar menyebalkan."

"Jeno sudah tahu kalau kau pergi besok?" Tanya Renjun.

"Dia sudah tahu..."

"Jaemin?"

Haechan tampak terdiam sebentar sebelum akhirnya kembali membuka suara.
"Aku akan menemuinya malam ini."

"Kenapa tidak sekarang saja?"

"Sekarang jam kerja. Mungkin dia sedang sibuk dan moodnya buruk."

"Biasanya juga kau tidak peduli."

"Aku tahu diri. Tidak mungkin aku menemuinya sekarang."

Renjun menatap Haechan.
"Kau sudah bilang pada ibumu dan Hyuck?"

Haechan mengangguk.
"Aku juga akan mengajak Hyuck jalan jalan hari ini."

"Bagus kalau begitu." Balas Renjun.

"Yakk, kau tidak lupa, kan?"

"Apa?"

"Aku titip Hyuck padamu..."

Renjun tersenyum tipis.
"Iya, aku mengerti hal itu."

"Aku mungkin memerlukan waktu beberapa tahun di Busan. Kupercayakan dia padamu..."

Haechan menghela nafas pelan.
"Aku tidak ingin ke Busan. Tapi tidak mungkin kubiarkan cafe ku disana bangkrut begitu saja..."

"Hanya orang bodoh yang membiarkan cafenya bangkrut semudah itu." Balas Renjun.

"Renjun~ah..."

"Apa lagi?"

"Bagaimana kalau Jaemin akan membenciku selamanya?"

Renjun berdecak pelan lalu menatap Haechan serius.
"Dia tidak akan bisa membencimu. Percaya padaku."

"Benarkah begitu?" Tanya Haechan.

"Tentu saja. Setelah apa yang kau lalui bersamanya, dia tidak mungkin membencimu begitu saja. Hanya kau yang ada disisinya selama 8 tahun terakhir. Bukan aku, apalagi Jeno. Hanya kau saja. Kau pasti sahabat yang paling berharga baginya..."

"Waktu itu aku yang membujuk Jeno untuk berbaikan dengan Jaemin, kau ingat? Sekarang justru aku yang merasa ada di posisinya..." Ucap Haechan sambil terkekeh pelan.

"Jadi kau sudah mengerti bagaimana rasanya?" Tanya Renjun.

"Mungkin?"

Renjun tertawa pelan mendengarnya.
"Tenang saja, semua itu pasti berlalu."

"Hidup itu seperti mimpi, semuanya akan berlalu begitu saja seolah tak pernah terjadi."

"Mungkin dia juga pasti akan melupakan masalah ini suatu saat." Sambung Renjun.

Rain || NCT dream [PRE ORDER!!!]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang