Setelah mendapatkan fakta yang mengejutkan itu, Damian berniat untuk memendamnya sendiri dan tidak memberitahukan siapapun masalah ini. Dia belum siap dibombardir berbagai pertanyaan apapun itu. Hari ini tepat sebulan dia sudah berpisah rumah dengan Luna dan hari ini juga Luna untuk pertama kalinya mengabari dirinya bahwa dia sudah memproses semuanya ke pengadilan. Luna meminta Damian untuk datang ke rumah untuk menandatangani berkas mereka sebelum diserahkan kepada pengacara dan pengadilan.
If It's for the best then he'll do it, batinnya.
Dia memarkirkan mobil didepan dan melihat mobil Luna terparkir rapi diperkarangan rumahnya, rumah mereka. Dia membuka pintu rumahnya dan tidak melihat tanda adanya kehidupan dirumah ini. Terlihat sepi tidak seperti sebelumnya. Tidak seperti weekend yang pada biasanya mereka lewati bersama. Tidak ada Bi Minah dan Pak Rusdi. Semua terlihat sepi.
Damian ingin sekali naik ke lantai 2, tapi dia tahu, dia sudah tidak ada hak untuk itu. Lelaki itu memilih menunggu di dapur saja sambil menunggu Luna turun. Dia sudah mengabari Luna bahwa dia sudah sampai dirumah.
Tidak berapa lama kemudian, Luna turun dari lantai 2. Wanita itu mengenakan dress panjang berwarna khaki dan cardigan berwarna coklat ke abu-abuan, rambutnya terlihat diikat bun berantakan dan tak lupa ia masih memakai kacamata bacanya. Luna tertegun sebentar melihat Damian yang memerhatikannya dari lantai bawah. Damian hanya mengenakan kemeja berwarna putih yang lengannya digulung sampai siku dan celana jeans hitam.
"Aluna" gumamnya pelan
Luna segera sadar dari lamunannya dan mengambil berkas yang ada diruang tengah. Ia berjalan menghampiri Damian dan meletakkan dokumen itu dihadapan lelaki itu tanpa mengucapkan sepatah katapun. Luna menyiapakan minuman untuk Damian, his favorite as usual dan duduk didepannya. Damian menghela nafasnya dan mulai membaca dokumen yang diberikan Luna. Damian mengerutkan keningnya ketika membaca salah satu bagian dan melihat ke Luna "Kamu mau tinggal dimana ?" tanyanya
"Aku mau cari apartment aja. Bi Minah sama Pak Rusdi akan on call aja kalo aku butuh"
"Kamu mau jual rumah ini ?"
"Iya"
"Kenapa ? Ini atas nama kamu"
Luna memerhatikan Damian dengan seksama dan menghela nafasnya "Terlalu banyak kenangan didalam sini. I need to refresh my mind"
"Aluna... Please, let this be the last present for you from me"
"Kalo kamu emang gamau jual, ganti atas namanya ke Keenan aja"
"Aluna"
"Your choice" saut Luna sambil meminum tehnya
Damian memijat pelan keningnya dan melanjutkan kembali membaca dokumen itu. Lelaki itu menghela nafasnya kembali dan melihat ke Luna "Lun... is there any second chance for me ? Do we need to talk about it again ?" tanyanya dengan pelan
Luna dapat melihat jelas betapa tirusnya muka Damian sekarang, kantung matanya pun semakin terlihat. Ingin rasanya ia memeluk lelaki ini; tapi sakit yang ia rasakan kemarin-kemarin masih belum sembuh dan akan sulit disembuhkan. Luna menggeleng pelan "It's my final answer"
Damian menarik nafasnya dan menghembuskannya dengan berat, ia mengambil pulpen yang tergeletak disana dan mulai menandatangani dokumen itu dan memberikannya kepada Luna ketika selesai. Luna mengangguk pelan "I'll talk with my lawyer about the changes and send you the copy through email" ucapnya dan hanya ditanggapi Damian sebagai anggukan.
"Keenan mana ?" tanya lelaki itu selanjutnya. Sejujurnya dia sangat merindukan Keenan. Anak lelaki satu-satunya dan kesayangannya.
"Lagi main sepeda sama Diaz. Bentar lagi pulang" ucap Luna singkat
KAMU SEDANG MEMBACA
Fallin' All in You
Romance"Trapped up on a tightrope now we're here, we're free. Fallin all in you - Shawn Mendes" Ketika rasa itu kembali dan Jeffrey mendapatkan kesempatannya, apakah ini salah ? Non Baku Warning : Beware for harsh word, fighting scene and some mature conte...
