35

58 4 2
                                        

Setelah keadaan mulai terkendali Jo dan Keisha pamit pulang terlebih dahulu; hanya tinggal Tanaka, Jeffrey dan Luna yang masih menunggu kedatangan Gian. Luna melihat Tanaka yang masih sibuk dengan ponselnya "Ka, Kalo mau pulang gapapa pulang aja. Kasian Oli, lagi hamil ya ?" tanya Luna sambil tersenyum

Tanaka mengangguk dan memberikan senyum bahagianya "Iya Lun, udah 2 bulan. We just knew a few weeks ago"

"Selamat ya. I'm so happy for you"

"Thank you. Tristan katanya ga sabar mau beliin hadiah buat anak gw nanti"

"He's a great uncle, Ka. Keenan sama Nanda so lucky to have him as an uncle"

"Indeed"

"Udah gapapa lo pulang aja, Mas Gian bentar lagi sampe kok" ucap Luna mencoba meyakinkan Tanaka sekali lagi. Jeffrey yang baru kembali dari dapur pun mengangguk sambil bersender di tembok dekat sana "Iya Mas, gapapa pulang aja. Gw temenin Luna disini"

Dengan berat hati Tanaka mengangguk dan berdiri "Please let me know if you need anything" ucap Tanaka kepada Luna. Luna mengangguk dan memberikan pelukan kepada Tanaka sebelum lelaki itu pergi dari apartment Tristan.

"You want something ?" tanya Jeffrey ketika keduanya sudah kembali duduk di sofa; Luna menggeleng pelan. Jeffrey segera menarik Luna untuk mendekat dan membawanya ke dekapannya "Tristan will be fine, Na"

"I know. But I think this time is different"

TING TONG

"Mas Gian" ucap Luna pelan. Wanita itu segera bangkit dari duduknya dan berjalan ke depan untuk membukakan pintu untuk Gian. Gian terlihat sedang mengatur nafasnya ketika Luna membukakan pintu untuk lelaki itu. Luna tersenyum singkat sebelum akhirnya Gian memberikan pelukan ke Luna.

"Mas" gumam Luna

"Hmm"

"Please, jangan marahin Tristan ya. Just listen"

"Iya Lun" senyum Gian ketika sudah mengendurkan pelukannya ke Luna. Lelaki bertubuh tinggi itu masuk ke dalam apartment Tristan dan menyapa Jeffrey yang sudah siap menyambutnya "Hey Jeff. Thank you for taking care of Luna"

"No worries Mas"

"Tristan dimana ?"

"Kamar. Tidur. Belum bangun dari tadi" jawab Luna ketika sudah kembali ke ruang tengah

"Udah makan tapi ?"

"Udah, udah minum aspirin juga"

"Berapa botol ?"

"6 bir, 1 botol penuh whiskey" Gian hanya mengangguk pelan dan memilih untuk duduk di sofa sambil menunggu Tristan untuk bangun. Luna dan Jeffrey juga sudah kembali duduk dan menunggu reaksi dari Gian selanjutnya.

"So what happen ?"

Luna menarik nafasnya dan menghembuskan perlahan sebelum memulai cerita yang dia dengar dari Tristan "Tristan pagi ini ketemu Pak Tono untuk ngambil berkas kita. Dia ngajak Citra katanya biar sekalian keluar. But then, he told Citra about our holiday. Aku bahkan gatau Mas, kalo Tristan ternyata udah pesen tiket buat Citra, berkas-berkas ke bank juga dia udah siapin. Dia udah transfer juga uangnya ke Citra. Pokoknya Citra tinggal tanda tangan berkas aja. Tapi same old story, Citra ga terima dan mereka berantem hebat. Sampai akhirnya mereka berdua putus. I know, this is not their first time. But, I feel this is will be their last time" jelas Luna; bahkan air matanya pun kembali turun. It's just hurt to see Tristan cried like that, batin Luna.

"Tristan" Gian menghela nafasnya dengan berat "He knows that this topic is really sensitive for Citra tapi kenapa sih harus diulang terus-menerus. Mas heran"

Fallin' All in YouTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang