Part 31

29.6K 2.3K 95
                                        

Amanda

Launching produk terbaru yang kuberi nama Mini Burnt Cheese Cake mendapatkan animo yang luar biasa dari masyarakat. Dalam beberapa hari ini, gerai sweet cake and cookies milikku yang tersebar di tiga kota yaitu Bandung, Bogor dan Jakarta dipenuhi sesak oleh para penggemar cake unik tersebut.

Menurut laporan data penjualan yang disampaikan kepadaku, ini merupakan penjualan terbaik kedua setelah lapis coffee cake yang aku luncurkan tiga tahun lalu.

"Selamat yaa sayang, produk barunya sukses besar. Maaf banget karena baru bisa ke Bandung hari ini." Ucap mas Garin sambil menyerahkan buket bunga favoritku.

"Makasih ya mas." Aku menghirup dalam-dalam harum bunga pemberiannya.

"Mamih sampai pusing loh ngerekap semua pesanan temen-temennya."

"Iya. Mamih udah telpon aku kok tadi pagi."

"Ngerepotin kan jadinya."

'Nggak lah. Aku malah seneng jualanku laku banyak."

"Maaf ya kalau mamih sama gengnya udah bikin kamu repot.

"Maklumin aja mas, namanya juga Ibu-ibu bringka."

"Apaan tuh?" tanya mas Garin penasaran.

"Ibu-ibu yang suka bring kaditu bring kadieu." jelasku hingga membuatnya tertawa.

"Mungkin pada bosen dirumah kali ya mas. Usia-usia segitu memang udah saatnya menikmati hidup."

"Bisa jadi. Mereka lebih seneng menghabiskan waktunya disalon, di mall dan bikin acara sendiri daripada di rumahnya." sarkas mas Garin.

Aku tertawa geli mendengar kejulidan mas Garin saat membicarakan mamih dan teman-temannya.

"Tapi mamih nggak gitu kan mas?"

"Hampir..tapi nggak selebay itu sih. Bisa ngamuk dong si papih."

"Maklum lah mas namanya juga ibu-ibu sosialita." Ucapku sambil mengambil beberapa kue lalu menghidangkanya dimeja.

"Dicoba mas. Kayaknya mas belum pernah nyobain kue ini deh." tawarku.

"Gimana penjualan di Bogor dan Jakarta?"

"Penjualannya bagus semua. Sebetulnya waktu aku ngeluarin Lapis Coffee Cake, penjualannya lebih-lebih dari ini loh mas. Sampai-sampai ada beberapa orang yang menawarkan jasa titip untuk pembeli yang berasal dari luar kota karena waktu itu geraiku cuma ada di Bandung aja."

"Wah berarti permintaan pasar kenceng banget dong yaa,  produksinya gimana?"

"Produksinya lancar dan nggak ada masalah sama sekali karena membuat cake itu jauh lebih simple dan lebih cepat dibandingkan membuat cookies. Jadi aku bisa bikin sesuai permintaan pasar."

"Aku bersyukur sekali karena ayah meninggalkan beberapa aset yang sangat membantu dalam menjalankan bisnisku. Salah satunya tempat ini. Aku bisa menempatinya langsung tanpa harus menyewa sehingga semua uang hasil penjualan bisa aku gunakan untuk merenovasi tempat ini dan membeli 2 ruko cabang, walaupun masih kredit."

Mas Garin manggut-manggut saat mendengar penjelasanku. "Luas yaa tempatnya sampai kamu bisa buka coffee shop juga."

"Aslinya sih luas tanah dan bangunannya dua kali lipat dari ini. Cuma sebagian lagi punya Arka."

"Arka udah ada rencana buka usaha apa disana?" Tanya mas Garin.

"Nggak ada mas, justru Arka berencana mau jual ke aku supaya toko kue dan coffee shop ku makin luas katanya."

Cinta Sendiri (END)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang