Kami telah memperbarui Pedoman Konten kami.
Tinjau pedoman terbaru untuk terus berbagi cerita dengan aman.

Bagian kedua dari Flashback || Chapter. 40

61 3 0
                                        

Happy Reading!

Sesuai judul, ini nasih lanjutan dari flashback 10 tahun lalu ya.

***
Nelayan bernama Hari itu terbingung melihat seseorang yang masih berbaring di tikar, matanya masih terpejam. Sudah 7 jam setelah Alvian pingsan, dan Hari masih bingung ingin melakukan apa. Pria itu sudah membersihkan noda luka dan darah yang ada di tubuh Alvian, ia juga dengan hati-hati mengganti pakaian orang yang pingsan itu.

"Pak, kita bawa ke klinik aja. Itu kayaknya parah," kata seorang wanita remaja bernama Tiara, anak dari Hari.

"Bapak sih maunya gitu, tapi kalo ke Klinik itu bayar Ra, Bapak kan belum jual ikan mau ada uang dari mana," kata Hari sambil terbingung.

"Kali aja dia ada dompet, kita liat aja ada uang nya gak, kalo ada pake uang bapak ini aja." ide dari Tiara itu di dengar oleh Hari. Dengan segera Hari memeriksa jaket milik Alvian sambil meminta maaf dalam hati karena telah lancang. Pria itu menemukan dompet milik Alvian, dan tersenyum.

"Tuh kan ada, ayo buruan bawa ke klinik Pak, nanti keburu terjadi apa-apa sama Bapak ini." kata Tiara sambil melirik ke Alvian.

"Ra, kamu ambil jaket Bapak, ya, kamu juga ganti celana, masa ke klinik pake celana selutut." sempat-sempatnya Hari posessif kepada anaknya. Dasar. Namun perintah itu di turuti oleh Tiara.

Untung saja klinik jaraknya tidak begitu jauh, sehingga kini Hari sedang melakukan pembayaran di loket sedangkan Tiara menemani Alvian yang sedang diperiksa dokter.

"Bu dokter, bapak ini kenapa ya? Dia pingsan sejak 7 jam yang lalu."

"Boleh saya tau kronologi kejadiannya?" tanya si Dokter dan Tiara mengangguk.

"Jadi sekitar 7 jam yang lalu, bapak ini datengin bapak saya yang mau pergi untuk jualan ikan. Kata bapak saya, dia awalnya minta tolong lalu kemudian pingsan. Bapak saya juga bingung dok, tapi sama bapak saya malah di bawa pulang. Eh dia masih belum sadar sampai sekarang."

Dokter itu menghela nafas lalu tersenyum tipis. "Dia hanya trauma, mungkin trauma karena suatu benturan yang keras. Biasanya trauma seperti ini akan segera pulih,  tidak perlu khawatir. Jika dalam 2 jam ke depan dia tidak siuman, panggil saua lagi. Oh iya, beri dia obat ini jika dia siuman nanti." kata si Dokter sambil memberikan 2 pil obat yang tentu Tiara gak tau itu obat apa.

Setelah kepergian dokter itu, Hari datang sambil membawa minuman, lalu minuman itu ia beri untuk Tiara.

"Kamu pulang aja Ra. Kamu capek loh nanti."

"Engga pak, bapak aja yang pulang. Ara mau disini, bapak yang lebih capek. Bapak tadi malem tangkep ikan, dan ga tidur sampai sekarang. Gapapa, bapak pulang aja. Ara bisa ngurus disini kok." kata Ara memastikan dan Hari hanya tersenyum sambil mengangguk.

***

"Pak, obat yang ini di minum ya. Tadi kata dokter, setelah siuman bapak teh harus minum obat ini." kata Tiara dengan sopan kepada Alvian.

20 menit yang lalu akhirnya Alvian tersadar, walaupun pria itu masih lemas ia tetap menurut dan meminum obat itu.

"Makasih, nak." kata Alvian setelah meminum obatnya.

"Bapak masih pusing gak? Perlu Ara panggil dokter?"

Alvian hanya menggeleng, lalu tersenyum. "Saya udah gakpapa, nama kamu Ara?" pertanyaan tiba-tiba dari Alvian hanya diangguki oleh Tiara.

"Saya tebak, kamu masih kelas 6 SD atau kelas 1 SMP?" tanya Alvian lagi.

"Saya kelas 6 SD pak, tapi bapak gak usah khawatir. Saya bisa ngurus bapak kok. Soalnya bapak saya capek, dari semalem belum tidur." sahut Tiara lagi.

Love is a Dream [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang