Kami telah memperbarui Pedoman Konten kami.
Tinjau pedoman terbaru untuk terus berbagi cerita dengan aman.

Akhirnya || Chapter. 43

62 4 0
                                        

Happy Reading!

***

Vierra melangkahkan kakinya di koridor rumah sakit dengan senyum manis yang terbesit di wajahnya. Ia senang sekali, karena di ajak Ari lagi untuk menemui bundanya.

Dokter juga bilang, bahwa Kinaya bisa sembuh total, hanya perlu melakukan beberapa psikoterapi saja. Ah, Vierra sangat lega mendengar kabar itu.

Tanpa sadar, Vierra telah berdiri di hadapan ruang rawat Vera yang tertutup. Ia pun mengetuk pintu itu, lalu di buka kan oleh sang ayah. Oh, rupanya Vera sudah tau bahwa Alvian masih hidup. Tapi gimana ekspresi Vera saat pertama kali melihat Alvian? Pasti dia takut kan?

"Halo Papa!" dengan segera Vierra mencium tangan Alvian.

"Pulangnya jam segini Vie?" tanya Alvian.

"Ngga Pa, tadi Vie pergi dulu sama temen."

"Oh, udah makan belum?"

"Pas siang udah dong pa, ini Vera keadaan nya gimana?"

"Vera udah mau sembuh, dia kuat kok. Kan anak Papa." jawab Alvian dengan senyum sendunya.

Vierra nengerti saat melihat senyum yang di tampakkan Alvian itu. Apa yang dikatakannya sangat tidak benar, dan Alvian berkara seperti itu hanya ingin menenangkan dirinya dengan Vera. Ya Tuhan, apa separah itu?

"Pah, haus." suara serak itu berasal dari Vera yang baru saja bangun dari tidur siangnya. Dengan segera, Vierra memberikan kembarannya itu minum dan langsung diterima oleh Vera.

Saat Vera menyadari yang memberikannya minum adalah Vierra bukan sang ayah, perempuan itu membuang muka, mengalihkan pandangannya.

Melihat itu pun Alvian terheran. Ada apa dengan kedua putrinya ini?

"Lagi berantem?" tanya Alvian pada kedua putrinya.

"Eh? Enggak kok Pa," jawab Vierra dengan canggung.

"Kalian berdua jangan bohongin Papa,"

"Vera gak bohong, Vie yang bohong." ucap Vera masih sanbil mengalihkan pandangannya.

"Jadi kalian berantem?" Alvian bertanya lagi, tapi kedua putrinya hanya saling terdiam. Sudah ia duga, bahwa kedua putrinya pasti berantem selama ini. Ya Tuhan, Alvian makin merasa bersalah dan gagal menjadi seorang ayah.

"Papa gagal." ucap Alvian, membuat Vierra dan Vera menatapnya.

"Dulu waktu Papa nikah sama Mama kalian, harapan Papa itu semoga Papa bisa mendidik anak Papa dengan baik. Papa bisa ngelindungi anak Papa sampai nanti memiliki keluarga nya sendiri. Papa bisa jadi tempat anak Papa curhat. Tapi papa gagal."

"Pah..." lirih Vierra dengan airmata yang siap meluncur kapan saja.

"Tuhan gak kasih ijin ke Papa untuk jadi kepala keluarga yang sesempurna itu, Papa egois, andai waktu 10 tahun yang lalu Papa gak kemakan emosi Papa, mungkin sekarang kita gak ada di sini."

"Papa mau anak Papa selalu akur, tapi karena ulah Papa sendiri. Anak saya jadi berantem, bahkan jauh lebih buruk dari kata berantem. Papa bener-bener gagal."

Love is a Dream [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang