Kami telah memperbarui Pedoman Konten kami.
Tinjau pedoman terbaru untuk terus berbagi cerita dengan aman.

Farewell || Chapter. 13

357 36 0
                                        

____________________
Baik atau buruknya Ibuku,
dia tetap surgaku.
_____Ari Alanka_____

Happy Reading~♥~

Sebuah mobil berwarna hitam baru saja terparkir di depan sebuah gedung.

Rumah Sakit Jiwa Teratai Kasih
Disitulah Ari berada, setelah pergi dari apartemennya, tujuan laki-laki berdarah beku itu hanya ingin pamit kepada seseorang yang sangat teramat ia cintai, salah satu kelemahan hidupnya, yaitu Kinaya-Ibu dari Ari yang menderita gangguan mental akibat permasalahan di masa lalu.

Laki-laki itu menatap rindu sebuah pintu yang sudah menjadi tempat Kinaya tinggal, sudah 8 tahun lamanya Kinaya mengalami gangguan mental, dan dirawat di rumah sakit jiwa itu. Entah kenapa dia masih seperti ini sampai sekarang, padahal Ari sudah sering membawa ibunya untuk menjalani proses psikoterapi.

Bahkan sifat Kinaya bertambah sulit untuk dikendalikan, perempuan paruh baya yang malang itu kerap kali mengamuk, menangis, bahkan hingga tertawa tidak jelas. Sudah banyak suster yang mengeluh pada saat menjaga Kinaya, karena kelakuannya yang semakin hari, semakin memprihatinkan. Hanya ada satu jalan untuk memperbaiki keadaan Kinaya, yaitu mendatangkan orang yang berhasil membuat Kinaya menjadi seperti ini.

Ari membuka pintu bercat putih tersebut, dan mendapati ibunya sedang merangkul boneka beruang berukuran besar berwarna jingga. Laki-laki itu tersenyum, tidak apa, setidaknya ia bisa melihat keadaan ibunya yang baik-baik saja tanpa diikat dengan rantai, yang artinya ibunya dalam kondisi normal.

"Mah," ucap Ari setelah membuka pintu. Dilihatnya Kinaya sempat shock dan kelihatan ketakutan.

"Kamu siapa? Kamu mau ambil anak saya ya? Gak boleh kamu pergi sana," ucap Kinaya sambil memeluk boneka beruang tadi dengam sangat erat, seolah-olah anaknya yang dilindungi.

"Mah, ini Ari, anak Mamah." suara parau dari Ari sangat jelas terdengar.

"Kamu bukan anak saya, anak saya masih kecil, kamu lebih baik pergi dari tempat saya. PERGII" Kinaya mulai mengamuk, ia berteriak dan menangis sambil berkata "Pergi kamu pergi!" secara terus menerus, hingga akhirnya beberapa perawat bersama dokter psikiater datang ke ruangan tersebut.

"Ibu dokter dia mau ambil anak saya, suruh dia pergi ibu dokter saya takut," Kinaya berkata sambil memeluk bonekanya.

"Sebaiknya anda keluar dulu,  biar rekan saya yang menenangkan pasien," ucap dokter itu kepada Ari, dengan berat hati Ari pun keluar dari ruangan tersebut dan duduk di bangku panjang yang disediakan di depan ruang tersebut. Pintu ruangan itu sengaja tidak ditutup supaya Ari bisa melihat langsung bagaimana membuat ibunya tenang kembali.

Dilihatnya Kinaya menangis di pelukan sang dokter, sambil bercerita dan berbicara yang Ari sendiri pun tidak tahu apa, karena suaranya terlalu kecil untuk didengar. Setalah berpelukan si dokter itu menyiapkan obat untuk diminum oleh Kinaya, Ari juga melihat betapa sulitnya Kinaya diberi obat.

"Percuma dokter saya gak akan sembuh kan kalau minum obat?"

"Emangnya kalau saya minum obat, Mas Revo bakal datengin saya dok?"

Suara Kinaya lumayan kencang sehingga Ari dapat mendengarnya, rahangnya mengeras saat mengingat bahwa ayahnya sendiri yang menjadi penyebab ibunya mengalami gangguan mental.

Love is a Dream [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang