____________________________
Gak perlu cara yang mewah, kalau yang sederhana bisa bikin lo bahagia. Yang terpenting adalah, gue akan selalu ada untuk lo. Kapan pun itu. Keep happy, my heart.
________Steve Fernandez ________
Happy Reading!
Vierra menangis sambil terus mencoba menghapus air matanya. Ia tidak boleh lemah. Tiba-tiba sapu tangan merah diberikan kepadanya dari belakang, Vierra yang kaget langsung menoleh ke belakang dan bertapa terkejutnya ia melihat siapa orang yang ada di hadapannya sekarang.
"Papah?" ucap Vierra yang sangat terkejut.
"Papah?" ucap laki-laki yang saat ini berada dihadapannya. "Hei, ini gue Steve bukan Papah lo. Lo kenapa?"
Vierra tersadar bahwa dihadapannya saat ini bukan ayahnya melainkan Steve. Kepalanya menengok ke kanan dan ke kiri, mencari keberadaan ayahnya yang dia yakini tadi ada disini.
"Gue yakin tadi disini ada Papah," ucap Vierra sambil terus menatap ke sekelilingnya.
"Vie, disini sepi dan dari tadi gue yang ngikutin lo. Bukan Papah lo."
Vierra menghela nafas kecewa, ia rindu sekali dengan Alvian.
"Maaf gue terlalu kangen," ucap Vierra sambil menghapus air matanya.
Tidak. Seharusnya ia tidak boleh terlihat lemah, tapi kenapa jika berada di dekat Steve ia menjadi sosok perempuan yang lemah karena sering menangis.
"Are you okay?" tanya Steve dengan ragu.
"Lo gak perlu nanya kalau tau jawabannya."
Vierra kembali menangis, Steve memghapirinya dan duduk disebelahnya.
"Vie, keluarin sekarang semuanya."
Perkataan itu mampu meruntuhkan dinding pertahanan Vierra.
"Vie, dengerin gue." Steve memandang ke sembarang arah lalu kembali berkata. "Gue emang bukan pacar lo, bukan juga sahabat lo. Tapi, gue adalah rumah untuk lo pulang Vie. Pundak gue siap buat jadi sandaran lo, dan sapu tangan merah gue siap untuk hapus air mata lo."
Vierra kembali menangis, membuat Steve ingin sekali menghapus air mata itu. Namun, ia tidak punya hak untuk menghapus air mata itu. Ia merasa tak layak. Steve memberikan sapu tangan merah miliknya kepada Vierra "Nih pake, gue gak punya hak buat hapus air mata lo."
Vierra tidak menanggapi ucapan Steve.
"Gue bingung harus gimana Steve." ucapan dari Vierra itu berhasil membuat Steve menajamkan telinganya untuk mendengar semua curhatan Vierra.
"Hari ini gue ulang tahun, tapi gak ada satu pun dari keluarga gue yang ucapin ke gue."
"Lo mau tau gak? Dulu walaupun Mama sama Vera ada di luar negri, masih ada Kak Alvan yang setia ngasih gue kejutan. Waktu pergantian hari, dia dateng ke kamar gue bawa kue yang dia beli, dan kita rayain ulang tahun gue bareng-bareng. Tapi, sekarang satu pun dari mereka gak ada yang ucapin gue."
"Mereka bikin pesta sweet seventeen untuk Vera doang, gue enggak."
"Apa sebenci itu mereka sama gue?" tanya Vierra pada Steve yang masih setia mendengar segala keluh kesahnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Love is a Dream [END]
Teen FictionSUDAH END, PROSES REVISI. --- Rasa bersalah, penyesalan dan kehilangan. Ketiga hal itu tidak pernah absen menghantui kehidupan seorang Vierra Jovanka "Pergi dari rumah ini, anak pembawa sial" Vierra takut sepi, Vierra takut gelap. Namun kenapa oran...
![Love is a Dream [END]](https://img.wattpad.com/cover/188508159-64-k953994.jpg)