Kami telah memperbarui Pedoman Konten kami.
Tinjau pedoman terbaru untuk terus berbagi cerita dengan aman.

Bunda || Chapter. 48

76 5 0
                                        

Jika kamu diberi kesempatan agar satu harapan kamu dikabulkan, apa yang akan kamu minta?

***

Happy Reading!

Sudah satu minggu setelah kematian Vierra, dan selama satu minggu pula Ari tidak pernah absen mengunjungi makam gadisnya itu. Seperti saat ini, pria itu sedang berjongkok di samping nisan milik Vierra sambil mengelus batu nisan itu layaknya mengelus kepala Vierra.

"Secepat itu ya Vie?" padahal setiap hari laki-laki itu kesini, tapi ia selalu mengucapkan pertanyaan yang sama setiap harinya padahal percuma saja, laki-laki itu tidak akan mendapatkan jawaban apapun.

"Aku bawa kabar baik buat kamu." Ari masih setia mengelus batu nisan itu sambil tersenyum, "Bunda udah sehat, habis dari sini aku mau jemput bunda dulu."

Ari berdiri lalu meletakkan sebuket bunga yang dibelinya ke atas tanah merah yang menggunung.

"Ari, udah?" tanya Vera yang sedari tadi hanya diam mengamati pria di hadapannya itu.

Melihat Vera entah kenapa membuat Ari semakin rindu pada gadisnya itu.

"Lo pergi, tapi lo gak bener-bener pergi Vie, dan gue berterima kasih untuk itu. Seenggaknya, gue bisa menjaga separuh dari di lo yang masih ada di dunia ini." lirih Ari dalam hatinya.

"Udah, ayo." setelah mengatakan itu, Ari pergi lebih dulu meninggalkan Vera.

Jika dahulu Vera akan kesal dengan sikap Ari yang dingin, sekarang perempuan itu sudah lebih sabar. Memilih untuk mengikuti Ari, Vera segera pergi dari makam kembarannya itu tidak lupa berkata "Vie, gue pamit dulu." lalu menyusul Ari.

Di dalam mobil milik Ari, Vera hanya terdiam sambil memainkan jarinya. Bingung harus berbicara apa karena mereka sama-sama tidak memiliki topik yang harus dibahas.

Ari terlalu cuek, hal itu membuat Vera merasa sangat canggung.

"Eum.." gumaman itu berasal dari Vera yang benar-benar sudah tidak tahan dengan keadaan itu, membuat Ari menoleh sedikit ke arah Vera lalu menghembuskan nafas lelah.

"Apa?" tanya pria itu.

"Hah...?" bingung Vera.

"Lo mau bilang sesuatu?"

"Eum... kita mau kemana?"

"..." tidak ada jawaban dari pria itu, hanya keheningan yang Vera dengar.

"Ah, yaudah gak usah nanya." lirih Vera pada akhirnya.

"Ke tempat yang biasa gue kunjungi sama Vierra," jawab Ari.

"Oh, oke." jujur saja, Vera tidak tau harus merespon seperti apa.

Keheningan kembali terjadi, Vera mengetuk-ngetukkan dashboard mobil itu lalu menghadap keluar jendela. Nampak seperti tidak nyaman.

"Gue mau jemput nyokap," ucap Ari setelah menyadari ketidak-nyamanan Vera.

"Eh?"

"Kita ke tempat nyokap gue Ver."

"Ke rumah lo dong?"

"Bukan rumah."

"Terus?"

Love is a Dream [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang