Terimakasih kasih karena sudah menjadi kuat, terimakasih karena selalu berjuang, terimakasih karena tidak menyerah. Sekarang waktunya kamu untuk istirahat, dan sampai jumpa di kehidupan selanjutnya!
***
Happy Reading!
Pintu berwarna putih di rumah itu pun terbuka, Vera memasuki rumahnya dengan senyum bahagia. Masih tidak menyangka bahwa ia bisa sembuh dari penyakit mematikan itu
Jajaran foto keluarga nampak terpajang dengan rapih di ruang keluarga, membuat hati Vera menghangat.
Gadis itu duduk di sofa yang ada di ruangan itu lalu mengambil bingkai foto berisi fotonya dan Vierra saat masih kecil dulu.
Vera mengusap foto itu lalu tersenyum tipis.
"Lagi liatin apa hayo?" suara Alvian mengagetkan Vera.
"Eh Papa, ngagetin aja." ucap Vera masih sambil menatap foto itu. "Lucu juga ya Pa," katanya.
Alvian tersenyum, lalu mengusap rambut Vera. "Makan dulu yuk?" ajak Alvian lalu keduanya berjalan menuju meja makan.
"Vierra lama banget sampenya, telfon dong Pa." perkataan Vera membuat meja makan kembali canggung.
"Nanti, bentar lagi pasti sampai kok." jawab Alvian dengan tenang.
Alvian merasa bahwa sekarang bukan waktu yang tepat, tapi bagaimanapun Vera berhak segera tau dengan fakta yang sebenarnya.
Sudah setengah jam sejak makan tadi, Vierra tidak juga pulang. Gadis itu sudah berkali-kali menelfon nomor kembarannya namun tidak aktif juga.
Ting nongg... Ting nong...
Suara bel rumah berbunyi, dengan segera Vera berlari ke arah pintu untuk membukanya.
"Itu pasti Vie!" ucap gadis itu lalu berlari ke pintu utama.
Ceklek.
"Finally, Vierra akhirnya lo pul— kalian?" senyum di bibir Vera musnah saat yang dilihatnya bukan Vierra melainkan sahabat dari kembarannya itu dan juga... Ari?
"Kenapa kalian kesini? Vierra mana? " tanya Vera dengan bingung. Vera semakin merasa aneh saat melihat Cantika menangis, perasaan Vera tidak tenang. Apa yang terjadi?
"Kalian masuk dulu ya, ngobrolnya enakan di dalem." ucap Vera pada akhirnya mempersilahkan temannya masuk.
Jasmine menggenggam tangan kedua sahabatnya untuk saling menguatkan.
"Vierra mana?" tanya Vera pada teman-temannya itu, lalu perempuan itu menatap Ari dengan tatapan menuntut. "Ari, Vie mana?" namun Ari hanya menunduk.
"Kenapa gak ada yang jawab?"
"Mama, Papa, Kak Alvaaan!!" teriak Vera menggema di rumah itu, membuat semua orang di rumah itu berkumpul di ruang tamu.
"Loh, Jasmine, Cantika, Melink, sama Ari. Kenapa kalian kesini?" tanya Alvan heran.
"Kita cuman mau jenguk Vera kak."
KAMU SEDANG MEMBACA
Love is a Dream [END]
Teen FictionSUDAH END, PROSES REVISI. --- Rasa bersalah, penyesalan dan kehilangan. Ketiga hal itu tidak pernah absen menghantui kehidupan seorang Vierra Jovanka "Pergi dari rumah ini, anak pembawa sial" Vierra takut sepi, Vierra takut gelap. Namun kenapa oran...
![Love is a Dream [END]](https://img.wattpad.com/cover/188508159-64-k953994.jpg)