Happy Reading!
***
Di meja makan rumah yang terbilang mewah itu terdapat anak gadis cantik yang sedang menahan nyeri di perutnya. Ini sudah beberapa hari semenjak ia mengalami gejala tersebut, berat badannya nenurun drastis, ditambah lagi nafsu makannya yang menghilang. Dengan sedikit meremas perutnya yang nyeri, Vera memikirkan kembali perkataan Steve di sekolah tadi.
"Yang ngejar itu laki-laki bukan perempuan."
Perkataan itu memenuhi pikirannya membuat ia semakin pusing, ia juga tidak ingin mengejar-ngejar pria yang tidak mencintainya, tapi jika tidak dikejar Ari tidak akan melirik ke arahnya sedikitpun. Lalu dia bisa apa selain mengejar pria itu agar pria itu tau akan perasaannya.
Hampir 2 bulan sejak ia menginjakkan kaki di Indonesia, tidak ada laki-laki lain yang membuatnya tertarik selain Ari Alanka. Pesona laki-laki dingin itu seolah menyihirnya agar terjatuh dengan sangat dalam sehingga tidak bisa melirik pria lain.
"Non, itu makanannya kenapa ga dimakan? Nanti keburu dingin loh non Vera." kata Bibi Ayuk, wanita paruh baya yang sudah bekerja selama bertahun-tahun di rumah itu, juga yang merawat Vierra dan Alvan sejak ibunya meninggalkan mereka ke Swiss.
"Ga selera bi, nasinya kasih ke obell aja." kata Vera dengan lesu.
Obell adalah anjing poodle berwarna putih milik Vera yang baru dibelinya beberapa hari yang lalu sebagai hadiah ulang tahun dari Alvan.
"Astaga neng, obell kan makannya bukan ini atuh neng." kata si bibi.
"Yaudah bibi aja yang makan, belum Vera sentuh sama sekali kok bi. Vera udah kenyang, bibi habis makan jangan lupa kasih obell makan. Vera mau ke atas dulu." setelah menggeser sedikit piringnya ke arah bi Ayuk, Vera berdiri dan pergi ke kamarnya tanpa mendengar balasan dari bi Ayuk.
"Padahal non Vera belum masuk nasi dari tadi pagi." gumam bi Ayuk sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
Saat menaiki tangga, Vera kembali merasakan nyeri di perutnya. Sudah beberapa hari setelah nyeri itu sering kambuh namun entah kenapa kali ini nyeri perutnya lebih sakit dari yang kemarin. Memegang pinggiran tangga dengan erat, Vera menutup mata menahan ringisannya agar tidak terdengar oleh siapapun. Berusaha melangkah menaiki tangga, sambil sedikit menekan perut di bagian bawah tulang rusuk kanan, ia berjalan tertatih menaiki anak tangga hingga berhasil memasuki kamarnya.
Vera segera merebahkan diri di kasur dan meminum air putih yang tersedia di atas nakas, bukanya berkurang setelah minum Vera rasanya ingin muntah tapi perutnya terlalu sakit hingga ia tidak tahan untuk pergi ke toilet. Ia duduk di pinggiran kasur dan menunduk, ingin memuntahkan sesuatu tetapi hanya cairan dan beberapa ampas makanan yang berhasil ia muntahkan, ia memukul-mukul dadanya karena sakit. Lalu dia kembali minum, namu sialnya baru sedikit minum, air di gelas itu sudah habis.
"Hah, sakit.... hikss." keluh Vierra sambil memegang perutnya, lebih tepatnya, bagian bawah rusuk sebelah kanan.
***
Alvan baru saja selesai menyuci mobilnya yang sudah 1 bulan tidak ia cuci, besok ia akan mengantar jemput kedua adiknya. Ia memiliki tekad untuk membuat keduanya akur, ia tidak mau lagi tenggelam akan bayang-bayang penyesalan karena sempat memihak saat kedua adiknya bertengkar.
Mencuci tangan dan memasuki rumah, ia menghampiri meja makan yang kosong, tidak ada siapa-siapa. Padahal harusnya jam segini Vera sedang makan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Love is a Dream [END]
Novela JuvenilSUDAH END, PROSES REVISI. --- Rasa bersalah, penyesalan dan kehilangan. Ketiga hal itu tidak pernah absen menghantui kehidupan seorang Vierra Jovanka "Pergi dari rumah ini, anak pembawa sial" Vierra takut sepi, Vierra takut gelap. Namun kenapa oran...
![Love is a Dream [END]](https://img.wattpad.com/cover/188508159-64-k953994.jpg)