Sudah kali ketiga Jordy melihat mobil yang sama ketika Yumna dijemput. Pertama, saat Yumna ke apartemennya waktu itu, kedua saat di rumah Imelda kemarin, dan ketiga adalah hari ini. Semua itu yang Jordy ketahui hanyalah sebatas teman Yumna. Jordy nggak tahu itu teman Yumna darimana. Usia berapa sampai sudah punya mobil semewah itu. Sejauh apa pertemanan Yumna di luar sana. Siapa Yumna sebenarnya, sih?
Jordy sengaja menunggu Yumna di dekat pos satpam agar tidak terlalu terlihat. Dia nggak meninggalkan Yumna begitu saja sebelum memastikan kalau gadis itu benar-benar dijemput. Cowok itu mengusap wajahnya. Sesuatu yang dilihat saat di kolam tadi mengingatkannya pada suatu hal dan Jordy akan merasa sangat bersalah kalau ia gagal melindungi. Dia khawatir, tetapi nggak bisa berbuat banyak. Dilangkahkannya kaki itu perlahan meninggalkan sekolah.
Alunan melodi yang berputar di mobil Key membuat pikiran Yumna sedikit tenang. Sejak Key mengetahui Yumna punya trauma, ia selalu memutar berbagai instrumental musik klasik yang lembut. Hal tersebut membuat emosi Yumna perlahan stabil.
Hampir satu kilo mobil membelah jalanan, baik Key maupun Yumna belum membuka percakapan. Key nggak akan bertanya sebelum Yumna sendiri yang bercerita. Lagipula, tadi ia sempat bertanya sama orang yang mengangkat teleponnya tentang posisi terakhir Yumna sebelum pingsan. Jawabannya membuat Key sudah paham apa yang terjadi.
"Lo pasti lewatin jam makan." Dibanding bertanya soal kejadian tadi, Key memilih pertanyaan lain untuk membuka percakapan.
"Dikasih biskuit sama yang jaga UKS."
"Oke, kita mampir buat makan dulu, yaa."
"Key." Yumna menatap ke luar jendela, menolak bertatap mata dengan Key. "Gue belum sembuh."
Suara lemah yang keluar itu terdengar putus asa. Yumna lelah sejujurnya. Dia rindu bersikap seperti biasa tanpa ada bayang-bayang yang menyakitkan lagi. Dia rindu kehangatan yang semakin jauh untuk digapai.
Key meraih tangan Yumna yang terkepal kuat, lalu mengusapnya dengan lembut. "Semuanya butuh proses, Yumna."
"Mama nggak akan terima kalau gue bilang ... gue sakit." Yumna menggigit bibir, suaranya mulai bergetar.
Yumna pernah menjalani terapi selama satu tahun lebih. Hasilnya, Yumna menjadi lebih bisa mengendalikan diri, meski nggak terlalu bisa melupakan bayang-bayang buruk itu. Key perlahan yang membantu Yumna. Dulu Key sering mengajak Yumna ke tempat ramai dan untungnya dibolehkan oleh tantenya Yumna karena emosinya yang mulai membaik. Key ingin melatih Yumna menyesuaikan diri lagi agar tidak takut di keadaan asing, meyakinkan kalau nggak semuanya orang jahat.
"Kalau lo cuma terapi tapi nggak dilawan sendiri ketakutan itu, lo bakal terus tersiksa. Lo nggak bisa terus-terusan ngurung diri di rumah."
Waktu itu Key membawa Yumna ke stasiun KRL di jam kerja, yang pastinya sangat ramai. Awalnya Yumna nggak bergerak sama sekali dari tempatnya berdiri, tetapi diyakinkan sepenuhnya oleh Key. Akhirnya Yumna dapat melawan itu semua. Di waktu-waktu berikutnya, Key terus melatih Yumna sampai akhirnya Yumna benar-benar berani berada sendiri di situasi asing.
Mengetahui Yumna yang sudah jauh lebih baik, tante meminta mamanya untuk menjemput. Namun, masih ditolak karena mama masih ragu. Key turun tangan lagi waktu itu.
"Lo pernah nggak ngelakuin hal yang bikin Mama lo yakin?"
Yumna menggeleng.
"Coba sekali-sekali masak buat keluarga lo, bisa, kan?"
Dibantu sang tante, akhirnya Yumna menuruti perkataan Key. Saat mama datang, Yumna menyiapkan semuanya untuk menarik perhatian mama. Mama masih acuh tak acuh, sampai sesuatu diucapkan oleh tantenya,
KAMU SEDANG MEMBACA
N O R M A L ✓
Novela Juvenil[LENGKAP] Yumna itu cewek cantik dan pintar dari SMA Mentari. Beberapa cowok pun berusaha mendekat, tetapi hatinya sudah sekeras batu yang nggak mudah dilunakin begitu saja. Akhirnya, semua orang menyebutnya 'Tidak normal', hanya karena dirinya yang...
