Awalnya, Ale yang tengil ini cuma sibuk belajar bagaimana cara menumpuk layer dessert agar rapi bentuknya, eh begitu ketemu manusia jutek nan cuek kayak Dilla, mendadak dia pengen belajar cara menumpuk harapan agar bentuk cintanya rapi.
"Dill, sukan...
pantengin lapak ini tiap hari makanya, karena gua suka update diem diem
ohiya Alega Series 8 udah publish tuh yang mau baca ceritanya Ketua Osis.
y intinya lu gtg.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
23. Get over.
Dilla pulang ke rumah langsung masuk ke kamarnya tanpa memeriksa apakah Kai sudah pulang dari kampus. Ia langsung merebahkan tubuhnya di kasur karena lelah harus pulang naik bis sebab Nayya ada jadwal olim.
Hari ulang tahun Dilla hanya berjalan baik saat ia masih kecil dan tahun kemarin saja.
Dilla masih terbaring, ia meraih tas di sampingnya lalu mengeluarkan bola kaca pemberian Ale yang ia jatuhkan tadi. Baru ingat ia pernah menyukai postingan ini di salah satu olshop Instagram, entah bagaimana bisa barangnya didapatkan oleh Ale.
Dilla sadar yang ia lakukan pada Ale tadi, memang menghalalkan segala cara agar dia dijauhkan dari orang yang mendekatinya. Cara pengecut yang tak pernah hilang.
Ting!
Dilla diam sesaat, kemudian sedikit mengangkat hpnya ke atas untuk melihat notifikasi yang masuk.
Bianca : dill
Bianca : km ga papa tadi? Read
Garis wajah Dilla menurun, ia melatakkan kembali hpnya di kasur lalu beranjak. Membuka pintu kamar dan melangkah keluar. Ia menuruni tangga dengan ekspresi tak selera.
"Dill,"
Ia menunduk ke lantai bawah, ada Kai yang baru saja masuk ke rumah. "Tumben pulang jam segini?"
"Anter Briva dulu," jawab Kai.
Dilla pergi ke dapur, karena ini sudah jam makan jadi perutnya mulai terasa keroncongan. Namun melihat kulkas dan meja makan kosong ekspresinya langsung berubah.
"Nggak ada makan, Kai?"
"Emang belum makan?"
"Belum."
"Biasanya ada yang ngirim," celetuk Kai dari ruang tamu. "Ayam geprek yang waktu itu dibeliin Ale enak, tanyaiin tempatnya di mana."
Dilla langsung mendengus, ia terpaksa mengambil sisa kue di kulkas dan melahapnya. Kebetulan Kai masuk ke dapur untuk mencuci tangan.
"Mau dipesenin?"
"Nggak usah."
"Kenapa?"
"Kenyang."
"Ale ke sini nggak? Kalo iya—"
"Kenapa nanyaiin dia terus sih?" tanya Dilla heran karena dulu Kai tidak senang ada Ale di rumah. Cowok itu telah mempengaruhi semua orang.