harap tahan emosi. manusia kayak mereka berdua pada dasarnya memang ada di dunia nyata 😁
41. Marco
Dilla diam berbaring di kasur sambil menatap langit-langit kamar Ale. Kepalanya perlahan menoleh menatap wajah polos Ale yang sedang terlelap seperti anak kecil.
Ia tersenyum kecil, mengusap pelan pipi Ale. "Lo selalu kesusahan tiap berurusan sama gue," bisiknya. "Sorry."
Dilla bertemu banyak orang baik di hidupnya, namun juga bertemu orang-orang brengsek yang menyakitinya.
Setiap ingin hidup tenang dan serius bersama orang baik tersebut, yang brengsek akan datang lagi dari masa lalu untuk melarangnya bahagia.
Jadi Dilla selalu takut membentuk sebuah hubungan. Dia tak ingin makin menyakiti orang baik tersebut sementara rasa traumanya masih ada.
Dari dulu Dilla selalu berhasil kabur, dari Ayahnya, Kai, sahabat-sahabatnya.
Tapi tak berlaku untuk Ale.
Hanya dengan orang ini Dilla ingin terus mendekat, memberi harapan agar tidak dijauhi, tapi dia juga yang mematahkan harapan Ale. Jahat.
Dillla bangun dari kasur, ia pelan-pelan membuka pintu kamarnya. Sempat melirik jam yang sudah menunjukan pukul 7 pagi. Ia juga melihat Marta tertidur di sofa dengan posisi TV menyala. Dilla mematikannya dulu.
Ia pergi ke kamar mandi untuk siap-siap dan berdandan karena akan pergi ke toko. Tak lupa membuatkan sarapan untuk mereka berdua walau hanya bisa memasak sup ayam.
Ting!
Dilla yang sedang memotong wortel menoleh, menyerngit melihat hpnya berdering sejak tadi. Ia pun meraih benda pipi tersebut.
"Halo?"
"Halo? Ini Dilla?"
Dilla terpaku lama.
"Dilla?"
"Ini Tante mu nak... susah sekali dihubungi. Ada yang mau Tante omongin soal Papahmu—"
Dilla mematikan sambungan telfonnya. Ia menggegam kuat benda tersebut dengan tangannya yang bergetar hebat.
Sungguh melelahkan hidup sebagai dirinya....
Unknown number : Papah sakit Keras
Unknown number : Sy chat dari lama tp nomor tdk bisa dihubungi
Unknown number : Kalw ini benar dilla tolg hub sy langsung ya
🥛🍰🥛🍰
Ting tong!
"Itu pasti Marco!" Marta bangun dari sofa dengan semangat. Dilla dan Ale yang sedang menonton TV menoleh heran.
"Beneran dateng?" tanya Dilla.
Ale mengangguk. "Kayaknya..."
"Lo nggak sedia makanan?" tanya Dilla heran. "Ada tamu ege,"
"Lah," Ale menggaruk alisnya. "Sediaiin apa?"
"Ck," Dilla beranjak dan bangun dari sofa. "Gitu aja nggak tau,"
KAMU SEDANG MEMBACA
What Are We? ( AS 7 )
RomansaAwalnya, Ale yang tengil ini cuma sibuk belajar bagaimana cara menumpuk layer dessert agar rapi bentuknya, eh begitu ketemu manusia jutek nan cuek kayak Dilla, mendadak dia pengen belajar cara menumpuk harapan agar bentuk cintanya rapi. "Dill, sukan...
