29. Goodbye Nathan
Ale dan Ical masih duduk di kursi bandara dengan wajah melas, tak berselera melakukan apapun sejak mengantar Nathan yang akan pergi.
"Kita bawaiin kopernya," ucap salah satu pengawal. "Pak Bima ikut penerbangan nanti sore karena ada urusan. Kunci apartemen sama mobil pribadi sudah disiapkan di sana nanti."
Nathan mengangguk seadanya, lalu berbalik badan menatap sahabatnya yang tak mau bicara dengannya sejak tadi. "Ngikutin gue tapi diem semua."
"Tai," tukas Gibran memandang Nathan malas. "Sana lo nggak usah jadi temen gue."
"Nath, udah semua kan nggak ada yang ketinggalan?" tanya Nayya. "Berkas berkas sekolah udah juga??"
Nathan tersenyum kecil sambil mengacak rambut Nayya. "Udah Bun, kirim salam sama Jaja."
"Gue masih marah ya sama lo," ketus Nayya menepis tangan Nathan. "Udah makan belom??"
"Udah." Nathan mengangguk cepat.
"Nggak usah makan biar kelaperan," celetuk Dilla. "Dia bukan temen kita lagi ngapain dipeduliin."
"Jangan gitu," Nathan berdecak dan merangkul cewek itu. "Gue pesen jangan sampe jadian sama Ale." katanya.
"Dih ngatur," Dilla mendorong tubuh Nathan menjauh. Tidak akan pernah memaafkan cowok itu karena pergi dengan cara seperti ini.
"Bran," Nathan menghampiri cowok itu. "Jangan gini lah anjir, mau pisah juga."
"Gue ikut lo," ucap Gibran dengan tenang. "Gue bisa pindah sekarang."
Nathan terkekeh. "Ninggal Luna?"
Gibran berdecak. "Ajak lah," katanya.
"Bego," Nathan menoyor kepala Gibran. Lalu memaksanya memeluk cowok itu. "Lo tetep sahabat gue, kita bakal sering ketemu. Nggak usah ngambek seolah-olah pisah selamanya."
"Lo orang teregois yang pernah gue temuiin Nath," ucap Gibran tapi akhirnya membalas pelukan Nathan. "PS di rumah lo bakal gue rusak."
"Rusak aja," kata Nathan santai. "Sepatu hadiah lo gue sobek-sobek." balasnya membuat Gibran mengumpat.
Nathan giliran menoleh pada Ale dan Ical yang sedang duduk mojok di dekat pot tanaman besar, mereka terus menekuk wajahnya sejak mengantar Nathan ke bandara. Jelas mengamuk-ngamuk di telfon dan mengatai Nathan dengan seluruh isi kebun binatang.
"Jangan bikin gue makin sedih lah tai," Nathan mengusap kedua matanya. "Lo harusnya seneng kan gue pergi."
Ale tetap tak mau menjawab, malah menangis sambil menyembunyikan kepalanya di punggung Ical. "Cal, bunuh sahabat halal nggak sih?"
"Dia bukan sahabat kita." balas Ical jelas kecewa atas perginya Nathan secara tiba-tiba. "Nggak ada sahabat yang pergi tiba-tiba tanpa ngasih tau."
"Yang nemenin gue rebahan di uks siapa? Yang nraktir gue gorengan di warung Mba Ayu siapa? Yang malakin jajanan adek kelas siapa?" lirih Ale sambil menangis. Benar-benar sesedih itu. "Lo mau ninggalin kita kayak gini??"
"Lo di sana nggak bisa bisa diem-diem cabut di pelajaran Pak Aji Nath, terus pura-pura salah masuk kamar mandi cewek, nggak bisa manjat pager lagi biar pulang duluan, nggak bisa punya dua temen bego," lanjut Ical.
Air mata Nathan jadi menetes banyak. "Nggak bisa main ps bareng lagi." tambahnya membuat mereka makin menangis.
"Jahat lu anjir," Ale menutup kedua matanya dengan lengan. "Tai lah tai."
KAMU SEDANG MEMBACA
What Are We? ( AS 7 )
RomanceAwalnya, Ale yang tengil ini cuma sibuk belajar bagaimana cara menumpuk layer dessert agar rapi bentuknya, eh begitu ketemu manusia jutek nan cuek kayak Dilla, mendadak dia pengen belajar cara menumpuk harapan agar bentuk cintanya rapi. "Dill, sukan...
