17| ITCED - Victoria

12.5K 1.6K 36
                                        

Pada kangen Idris ga?

.....

"Siapa dia? Mengapa dia begitu berani kepadamu?"

Renfred baru saja tiba. Ia pergi menghampiri Victoria yang berada di kamar. Sedangkan Victoria terdiam, ia sedikit bingung 'siapa' yang dimaksud oleh Renfred. Tiba-tiba Renfred bertanya tentang seseorang kepada dirinya.

"Siapa maksud mu?" jawab Victoria, balas bertanya dengan ekspresi wajah bingung.

Renfred menghela nafas. "Tentu saja yang di taman, aku mendengar semuanya Ria," ucap Renfred dengan nada sedikit tinggi.

Barulah Victoria mengerti apa yang dimaksud oleh Renfred. Ternyata adalah Idris, jadi Renfred ada di sana saat tadi Idris kembali mengganggu dirinya.

"Jangan mencoba menyembunyikan sesuatu dariku," ucap Renfred mengancam. Mewanti-wanti jika Victoria sampai berbohong kepadanya.

"Iya kak..." Victoria mendengus, mau tidak mau ia menceritakan semuanya dimulai dari hari pertama kedatangan Ariel bersama Idris.

"TIDAK TAHU DIRI! BAGAIMANA BISA DIA MEMILIKI KEBERANIAN SEBESAR ITU KEPADAMU?!" Renfred naik pitam, ia yang semula duduk di samping Victoria, langsung berdiri dengan kedua tangannya yang mengepal.

"Sabar kak, tolong tenanglah." Victoria berusaha menenangkan Renfred yang tengah marah.

"Bagaimana bisa aku sabar?! Dia menghinamu Ria?! Itu berarti juga dia menghina ku dan keluarga kekaisaran!" Renfred menggebu-gebu.

"Dan juga kenapa kau hanya diam saja?! Kenapa tidak mengadukan dia pada ayah?!" sambung Renfred.

"Tolong tenanglah kak, aku diam bukan berarti aku lemah atau takut kepada dia," jawab Victoria.

"LALU?!" tanya Renfred.

"Aku hanya ingin tau sebenarnya apa alasan dia tidak menyukai ku. Coba kakak pikir, dia bahkan baru bertemu dengan ku dan baru mengenalku, tidak mungkin dia membenciku tanpa alasan bukan?" Victoria menjelaskan kepada Renfred.

Renfred mengangguk mengerti namun dia masih ragu dan khawatir. "Iya tapi-"

"Sudahlah kak, aku hanya harus menunggu. Dan aku tidak akan membiarkan dia bebas di kastil kita ini lagi," ujar Victoria.

Akhirnya Renfred mengalah. "Terserah padamu."

"Oh ya, tolong jangan bilang tentang Idris kepada ayah," ucap Victoria berpesan.

Renfred memasang wajah terkejut sekaligus tidak percaya.

Victoria menyatukan kedua tangannya memohon kepada Renfred.

"Kak kumohon..."

"Baiklah!" Renfred langsung pergi menghilang begitu saja menggunakan sihirnya.

"Huh! Dasar pemarah!" cibir Victoria.

....

Keesokan harinya, pagi-pagi sekali tiba-tiba kamar Victoria ramai dengan kehadiran para pelayan, Victoria dibangunkan dari tidurnya karena keramaian itu.

"Kaisar!" Kedua bola mata Victoria membulat sempurna, ia langsung terperanjat dan berdiri segera di tepi ranjang.

"Selamat pagi ayah," ucap Victoria sembari memberikan hormat kepada Lucifer.

Lucifer tidak mengatakan apa-apa, ekspresi nya datar menatap Victoria. Kemudian ia memberikan isyarat kepada para pelayan agar pergi.

Setelah para pelayan dan pengawal pergi. Tinggalah Lucifer dan Victoria. Pintu kamar Victoria sengaja di tutup kembali.

"Bagaimana keadaan mu?" tanya Lucifer.

"Aku baik," jawab Victoria seadanya.

"Apakah kamu sudah bertemu dengan mereka?" kembali Lucifer bertanya. Kali ini pertanyaan yang di lontarkan nya sedikit membuat Victoria bingung.

"Apa maksud ayah?" jawab Victoria.

Lucifer tersenyum tipis. "Ayah sudah tau kamu bisa melihat mereka," ujar Lucifer.

"A-ayah..." Victoria terkejut bukan main. Ia tidak pernah tahu jika Lucifer akan tahu tentang itu.

"Bagaimana ayah bisa tau?" tanah Victoria dengan ekspresi terkejut.

Sedangkan diruang makan...

Di meja makan keluarga kekaisaran sudah ada Grizelle, Renfred, Ariel, dan juga Idris. Mereka semua menunggu kedatangan Lucifer dan Victoria. Pagi-pagi buta sekali Lucifer mengirimkan pelayan kepada mereka untuk membangunkan mereka dan memberi tau untuk sarapan bersama.

Dan secara khusus Lucifer datang menjemput Victoria untuk pergi bersama.

"Kenapa ayah dan Ria lama sekali?!"  Renfred sedari tadi menggerutu.

"Tolong sabarlah pangeran." Grizelle mencoba membuat Renfred bersabar untuk menunggu kedatangan Lucifer.

"Ini pasti gara-gara Ria, dia lama sekali," sambung Renfred kembali menggerutu.

Sedari tadi Renfred sadar jika Idris tengah menatapnya dengan tatapan tidak suka. Tapi Renfred diam dan mengabaikannya, ia menghormati kehadiran Grizelle di sana.

"Putri, lebih baik kita kembali dulu. Kita sudah dua jam menunggu," ucap Idris mengajak Ariel untuk pergi dari sana, dan kembali lagi setelah Victoria dan Lucifer datang.

"Tidak idr--"

"Apa kau sungguh tidak punya rasa malu?" celetuk Renfred.

Semua orang yang ada di sana terkejut mendengar celetukan Renfred, dan bersamaan menatap kearah Renfred.

"Iya kau Idris, aku bertanya padamu. Apa kau tidak punya rasa malu atau takut?" Renfred tersenyum miring, sembari menatap Idris tajam.

"Apa maksud pangeran?" balas Idris.

Renfred terkejut mendengar jawaban dari Idris. "Oh aku senang ternyata kini kau tau siapa aku," ujar Renfred angkuh.

"Aku senang mendengarnya, sebelumnya kau mengatakan aku adalah pelayan Victoria, dan itu benar. Seorang kakak adalah pelayan bagi adiknya, dan aku senang menjadi pelayan Victoria." Renfred tersenyum meremehkan, ia menaikkan kedua kakinya di atas meja makan,  menyombongkan diri kepada Idris.

"Kenapa? Kenapa kamu diam sekarang?" tanya Renfred, karena tidak ada jawaban dari Idris.

"Tolong untuk pangeran agar menjaga batasan!" barulah Idris memberikan tanggapan. Kali ini ia semakin berani kepada Renfred.

"Idris!" Bukan Renfred atau Grizelle yang menegur Idris, melainkan Ariel.

"Pangeran tolong maafkan Idris, dia memang sedikit menyebalkan," ucap Ariel memohon kepada Renfred.

Melihat ekspresi wajah Renfred, Renfred tidak sedang baik-baik saja. Ia tengah menahan diri agar tidaym merusak meja makan.

"Pangeran Renfred, tolong anda bersabarlah," ucap Grizelle. Renfred akhirnya mencoba bersabar karena permintaan Grizelle.

"Hei Ariel!" panggil Renfred.

Ariel terkejut dan menatap Renfred.

"Apa kau tidak berniat mengganti pelayan?" tawar Renfred menyindir Idris.

"Jika mau, aku akan mencarikan pelayan yang lebih hebat dari pada dia," ucap Renfred sambil melirik kearah Idris.

Sedangkan Ariel hanya tersenyum kaku, ia bingung harus menanggapi apa.

Victoria's [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang