Hati, Anak-Anak abadi

26 6 0
                                        

"Harapan, dan mimpi."

"Namun... Kau MENOLAK."

"Menjadi dewasa."

"Namun... Kau MENOLAK."

"Kebahagiaan."

"Namun... Kau MENOLAK."

....

Sirin bisa mendengar suara kesakitan anak-anak dari seluruh penjuru penjara hitam yang mengelilinginya ini.

Mereka meneriaki sirin seolah-olah dia adalah penyebab mereka kesakitan.

"Apa kau bahagia?"

Sebuah cermin, yang menunjukkan situasi ketika Sara dan dirinya berada di taman bunga. Tercermin di depannya, dengan Sara yang disana kelihatan sangat bahagia. Namun sirin yang berada di sebelahnya, tersenyum dengan penuh rasa sakit.

"Namun... KAU MENOLAKNYA."

"BANG!!!"

Menghancurkan cermin dengan sekali pukulan. Sirin terengah-engah ditempat. Dan air mata di wajahnya tidak pernah berhenti turun.

"Tolong... tinggalkan aku sendirian." Sirin memohon dengan nada menyedihkan.

Namun....

"Kau... MENOLAKNYA."

Suasana langsung menjadi hening.

Kali ini, banyak layar bewarna putih muncul di sekelilingnya sirin. Ini adalah pemandangan indah dan manis yang selalu dia hargai.

"Kau MENOLAKNYA."

Salah satu layar mulai menjadi hitam, dan itu belum sepenuhnya berhenti.

"Kau MENOLAKNYA."

"Kau MENOLAKNYA."

"Kau MENOLAKNYA."

"Kau MENOLAKNYA."

....

Satu demi satu, kenangan indah yang dia miliki. Redup, dan mulai berubah menjadi hitam.

"{Dia mempunyai kelebihan, semakin menggila dia maka akan semakin pintar otaknya juga. Karena itulah dia menciptakan klon dirinya dengan batas ambang kegilaan yang rendah.}"

Sirin mengangkat kepalanya, dan melihat layar monitor terakhir, yang masih menyala di depannya.

Disana terdapat Hersker, yang lagi sedang berbicara dengan Sara di dalam ruang kesadaran.

Ini kenangannya dulu.

"{Namun bagiku, mereka hanyalah seorang anak. Sekumpulan anak-anak menyedihkan yang membutuhkan perhatian orang tuanya.}"

Hersker mengangkat kepalanya dan menatap ke langit yang seperti pantulan cermin. Seolah-olah bisa melihat Sirin dari balik layar.

Sirin menatapnya dengan gugup.

"{Semua Roland memiliki cacat mental di dalam pikirannya.}"

"A-Aku gila." Sirin berbicara dengan dirinya sendiri. Seolah-olah menyakinkan apa yang dia ucapkan.

"{Kalian semua sama. Ini bukan cacat mental dirimu. Atau... Aku akan memberitahumu?}"

"HENTIKAN."

"{Cacat mentalmu...}"

"BANG!!"

Dengan teriakan marahnya Sirin, dan sebuah pukulannya. Layar monitor terakhir, yang memiliki cahaya, langsung padam.

Namun...

"Kau MENOLAKNYA."

Layar terkahir, redup.

Rencarnasi menjadi gadis imut 2Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang