Badut yang bimbang

23 4 2
                                        

Di luar, hujan masih turun.

Lampu taman bermain malam ini dihidupkan, dan Lampu redup bewarna kuning mulai menyebar ke seluruh taman bermain satu demi satu di sepanjang dinding.

Hawa dingin malam juga terus berhembus tanpa henti. Yang dimana membuat siapapun malas keluar rumah pada malam hari hujan ini.

"Hei, aku menemukanmu."

Berdiri di depan ayunan dengan Lily yang telah basah oleh guyuran air hujan. Roland yang melihat Lily duduk tidak bernyawa disana, menghela nafas tidak berdaya.

"Kau akan jatuh sakit."

Lily masih mempertahankan keheningannya yang sunyi.

"Biarkan aku sendiri. Aku ingin mendingin kepalaku." Roland menjawabnya sendiri.

"Ya, tentu saja gadis bodoh." Ini juga masih perkataan Roland.

Roland menjulurkan payung yang dia bawa, dan menghadang air hujan yang terus membasahi tubuh Lily.

"Kamu menangis?"

Tidak ada yang tahu, di bawah guyuran hujan. Apakah garis di mata di wajah Lily memang benar-benar air mata atau bukan.

"Tidak."

Melihat bahwa tubuh Lily sudah bergetar karena kedinginan. Roland tersenyum kecut.

Menghirup nafas air dingin hujan dalam-dalam. Roland berlutut di tanah seperti seorang kesatria, dan menatap wajahnya dengan tegas.

"Hei nona, bolehkah aku menjadi badutmu sebentar saja? Ini tidak akan merugikan siapapun."

Lily masih tidak merespon.

"Hm, awal mula yang bagus. Kamu memiliki bakat." Roland tersenyum dengan masam.

Melihat bahwa Lily tidak akan menjawabnya lagi. Roland memutar bola matanya tidak berdaya.

"Ayolah, bukankah kamu menerima job milikku terlalu cepat? Setidaknya biarkan aku beradaptasi terlebih dahulu! Pegang ini!"

Menyerahkan payung di tangannya secara paksa kepada Lily. Roland duduk di ayunan sebelahnya, dan membiarkan air hujan membasahi pakaiannya juga.

Melihat bahwa Lily masih belum ingin menjawab pertanyaannya. Roland bosan, dan mulai main ayun-ayunan di bawah guyuran hujan.

Bisa mendengar bunyi gesekan bunyi besi di sebelahnya berderit, terus menerus. Lily akhirnya membuka mulutnya.

"Kau bisa demam." Dia mengulangi apa yang di ucapkan Roland barusan.

"Aku tidak peduli. Sebenarnya main ayun-ayunan di bawah langit bintang itu terasa sangat menakjubkan. Kamu harus mencobanya juga."

Lily mengangkat kepalanya yang menunduk, dan melihat bahwa langit tidak memiliki bintang sama sekali. Hanya ada awan bewarna abu-abu gelap, yang menyelimuti langit tanpa akhir.

"Tidak ada bintang."

"Ya, aku tahu."

Melihat ke samping dan tidak mendengarkan bunyi deritan logam yang terus berbunyi menjengkelkan dari tadi. Lily melihat Roland tersenyum kepadanya.

"Sekarang, aku bisa melihat wajahmu."

"Kau benar-benar menangis."

Lily melihat Roland dengan diam.

"Kenapa... Kenapa kau sangat peduli kepadaku?"

Roland menghela nafas: "Oke, ada beberapa poin penting kenapa aku peduli kepadamu. Pertama, aku mencintaimu."

Rencarnasi menjadi gadis imut 2Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang