Harapan kecil

19 3 0
                                        

"Hm! Aku tidak mau tidur! Ceritanya membuatku penasaran setengah mati, aku tidak mau tidur!"

"Kau hanya tidak ingin tidur bukan? Kenapa susah sekali bilangannya!"

"Pokoknya kami tidak ingin tidur jika kakak Roland tidak menceritakan kisah selanjutnya!"

"Ya, aku juga tidak ingin tidur!"

"Aku tidak mengantuk!"

"Kami ingin mendengar cerita lagi!"

....

Melihat anak-anak yang sangat keras kepala ini. Perawat Tarasta berbisik di telinga Roland.

"Ada apa?"

Menggantung cerita adalah sebuah perilaku dosa mematikan. Perawat Tarasta juga marah ketika Roland menggantung ceritanya. Namun lebih daripada itu, dia kebanyakan bingung.

Semua perawat disini tahu karakter Roland. Dia orangnya bisa serius jika memang di perlukan. Dia tidak akan memainkan hati seseorang sampai-sampai tidak puas.

Terutama untuk anak kecil.

"Cerita selanjutnya terlalu berdarah, dan jika di skip, maka itu akan selesai dalam sekejap mata. Semua isi barisan selanjutnya hanya berkelahi!" Kata Roland sambil berbisik.

"Kalau begitu siapa yang menang, bajak laut golden atau pemburu harta Karun?"

"Oh, Ingin tahu?"

.....

Melihat bahwa perawat Tarasta dan Roland mulai berbisik-bisik tentang kisah selanjutnya. Perawat lasttas menghela nafas dengan tidak berdaya.

"Anak-anak muda... Fokus mereka selalu mudah teralihkan begitu saja..."

Untuk situasi seperti ini, ada solusi yang cukup sederhana.

Ini adalah tradisi yang sudah diturunkan dari sejak turun temurun, dan selalu bisa membuat anak-anak tidur secara 100% persen tanpa keraguan sama sekali.

Mainkan sebuah lagu.

"Lily, mohon untuk selanjutnya."

Jika situasi seperti ini, biasanya Lily akan memainkan sebuah piano yang tergeletak di sudut ruangan, untuk membiarkan anak-anak tertidur dalam sekejap mata.

Bunyi piano itu halus dan merdu. Jika digunakan sebagai mestinya, bisa membuat anak-anak yang kekurangan seni ini mengantuk dalam hitungan detik.

"Hm, Lily?"

Perawat lasttas menyadari, bahwa Lily sudah menghilang dari tempatnya.

"Apa dia sudah keluar tadi?"

"Hah, hah? Apa?" Sirin membuka matanya yang mengantuk, dan melihat sekeliling, dan setelah itu menyadari bahwa Lily sudah menghilang dari tempatnya.

Wajah sirin langsung berubah menjadi sangat buruk.

"Lily sudah pergi? Tidak apa-apa nenek. Aku juga bisa memainkan piano. Meskipun aku tidak terlalu pandai, aku setidaknya tahu lagu yang bisa membuat mengantuk dalam sekejap mata. Aku sudah mencobanya sendiri, percayalah kepadaku." Roland menawarkan bantuannya.

"Tidak, tidak, tidak! Sekarang bukan waktunya untuk main piano! Kau cepat keluar, cari Lily segera!"

"Hah, ada apa?" Roland yang diteriaki sirin, memandangnya dengan bingung.

"Ada yang salah?"

"Pergi saja sana!"

Mendorong Roland keluar dari ruang bermain dan menutup pintunya dengan rapat-rapat. Sirin bisa mendengar suara anak-anak yang berteriak di belakangnya.

Rencarnasi menjadi gadis imut 2Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang