Melihat bahwa Sara langsung masuk kedalam kamarnya, dan menatap dirinya dengan khawatir. Sirin mengalihkan pandangannya kesamping.
"Tidak apa-apa."
Melihat bahwa sirin sekarang sudah bisa menjawab panggilannya. Sara tiba-tiba langsung bersemangat.
"Sudah baikan? Syukurlah! Aku benar-benar khawatir dengan dirimu. Mau makan? Aku akan membuatnya."
Merasakan bahwa Sara akan buru-buru pergi. Sirin berbicara dengan nada lemah.
"Hei Sara."
Sara berhenti: "Ya, ada apa?"
Menghirup nafas dalam-dalam, Sirin menghembuskan nafasnya secara perlahan-lahan. Dia membuat sebuah keputusan.
"Aku akan pindah."
"Eh?" Sara bingung.
Sirin menatap Sara dengan tegas: "Hanya opsi ini yang aku bisa pikirkan. Aku akan pindah dari rumah ini, hari ini."
"K-Kenapa? Kenapa tiba-tiba?" Sara membuka matanya lebar-lebar.
Dia merasakan tekad sirin untuk pindah lebih kuat daripada biasanya. Sara merasa, Sirin benar-benar akan pergi.
Sirin melihat kebawah: "Ini adalah pilihan paling optimal. Aku hanya beban disini. Jika kita berdua bersama-sama, maka kita akan menyakiti satu sama lain cepat atau lambat. Aku tidak melihat keuntungan disini."
"Tidak... Kau tidak bisa..."
"Ya, aku bisa. Sara, pikirkan ini baik-baik. Apa yang selama ini aku lakukan kepadamu. Hanya menyakiti, lalu tersakiti.... kita tidak cocok."
Sara berbalik, dan mencengkeram tangannya erat-erat.
"Apa yang kau maksud saling menyakiti? Yang hanya aku tahu, kau membuat kami tertawa lagi."
Sirin mengangkat kepalanya.
"Kau tahu, kau buruk berbohong. Aku tahu semuanya. Setiap kali kau melihatku, aku melihat wajahmu yang kesakitan. Aku tahu semuanya!" Sara berteriak.
Keributan di luar sana juga tiba-tiba berhenti. Lily berhenti memukul Roland.
"Sejak kau datang ke tempat ini, aku bahagia! Naya sekarang terus berada di rumah! Kau mengajarkan kami tertawa lagi! A-Aku... Aku minta maaf." Sara tiba-tiba menangis.
"Aku tidak tahu aku menyakitimu. Aku juga tidak tahu apa yang menyebabkanmu depresi. Yang aku tahu itu semua salahku!"
"Aku... benar-benar minta maaf."
"Tolong, jangan pergi... Aku akan menjadi anak baik. Aku mohon..." Sara tiba-tiba memeluk sirin.
Sirin hanya bisa terdiam.
Dia menggertakkan giginya.
"Kenapa, Kenapa kau menjadi seperti ini. Menjadi gadis cengeng."
Sara memeluk sirin lebih erat: "Aku memiliki banyak teman... Namun kau adalah teman terbaikku... Aku takut kehilanganmu..."
Mendengar nada tulus yang di katakan Sara. Sirin hanya bisa menghela nafas.
"Bodoh."
______
Makan siang bersama-sama dengan mereka bertiga. Sirin bertanya dengan tidak ramah kepada Roland yang memakan es krim di pojokan.
"Kau flu, kenapa memakan eskrim."
Roland menatapnya acuh tak acuh: "Aku butuh pendingin untuk otakku. Ketika Sara berteriak dan menangis, aku pikir dia adalah kau, dan depresimu semakin bertambah berat. Kau akan membuatku mati lemas akibat terkena serang jantung cepat atau lambat."
"Lalu apakah ada kata-kata terkahir sebelum mati?"
"Siapa kau yang--- Umm... Lily, mari kita berbicara dengan baik-baik. Tolong kembalilah menjadi gadis elegan. Turunkan tali itu!"
"Tidak untuk anak nakal."
Melihat Roland ditangkap Lily, dan setelah itu diikat menggunakan tali agar tidak berkeliaran ke mana-mana lagi. Sirin mendecakkan lidahnya karena melihat pemandangan yang sangat familiar.
"Menjadi patuh, dan tunggu makanan siap!"
Meletakkan Roland yang terikat di atas sofa, di sebelahnya Sirin. Lily kembali ke dapur, untuk menyiapkan makan siang.
"Kau tidak akan pergi?"
Melihat Roland menatapnya dengan penasaran. Sirin mengerucutkan mulutnya dengan tidak nyaman.
"Tidak, orang itu terlalu menyedihkan. Dia akan menangis lagi jika aku meninggalkannya."
"Seperti anak-anak?"
"Ya... Seperti anak kecil." Sirin tersenyum dengan lembut.
"Terima kasih Roland. Kau benar. Tidak ada orang dewasa pun disini. Mereka hanyalah anak-anak yang lebih tua. Aku tidak merasa sendirian lagi." Sirin masih tersenyum dengan sangat imut.
"Kalau begitu syukurlah." Roland benar-benar lega.
Melihat bahwa kondisi mental Sirin juga sudah membaik. Roland juga ikut tersenyum.
"Kalau begitu--"
"Aku menolak melepaskan tali."
"Cepatnya!? Kenapa kau bisa paham!?!"
Sirin menatap Roland dengan senyuman main-main. Dan Roland yang melihat senyumannya, langsung terpesona.
"Itu senyuman tulus yang belum pernah aku lihat sebelumnya."
"Kau sekarang menghetahui tekadku."
Memiliki wajah bewarna hitam. Roland tahu bahwa Sirin benar-benar enggan untuk melepaskan talinya.
"Aku seharusnya tidak makan eskrim."
Roland jatuh kedalam depresi berat.
_____
Saling mengucapkan salam perpisahan kepada mereka bertiga. Roland dan Lily kembali pulang ke rumah, dan dia langsung berbaring di sofa.
"Tunggu sebentar... Ini bukan rumahmu!"
Lily menghela nafas: "Kau masih flu. Lihat wajahmu yang sudah memerah. Kau merasakan kepalamu pusing?"
Mendengar ucapannya Lily. Roland tiba-tiba merasakan kepalanya sangat pusing, namun dia melawannya dengan susah payah!
"Daripada begadang 3 hari 3 malam, Ini tidak seberapa! Aku tidak bisa dikalahkan!"
"Sudahlah, kembali kesini."
Melihat Roland yang keras kepala sampai akhir. Lily juga tidak berdaya, dan dia duduk di sofa.
"Tidurlah."
Merasakan kepalanya menumpuk di paha Lily yang mulus. Kelopak mata Roland langsung menjadi sangat berat.
"Kau... Tidak bisa... Mengalahkanku... Pahamu terlalu tinggi... Leherku... Akan... Patah..."
Mendengar bahwa suara Roland semakin kecil dari waktu demi waktu. Lily tersenyum dengan lembut, dan dia menggosok rambut Roland secara perlahan-lahan.
"Terima kasih atas kerja kerasnya badutku. Kau membuat orang lain bahagia."
"Maaf sudah memukulmu terlalu sering hari ini. Roland... Apa kau tidur?"
Melihat Roland yang bernafas dengan tenang. Dan matanya sudah tertutup dengan rapat. Lily menggosok rambutnya dengan lembut, seperti merawat anak kecil.
"Aku mencintaimu."
Sinar matahari muncul di jendela-jendela kaca yang transparan. Ruangan menjadi hangat, dan pipi Lily sedikit memerah.
"Aku harap aku bisa mengatakannya ketika kamu bangun... Aku terlalu menyedihkan. Ketika waktunya datang... Aku akan mengatakannya." Kedua pipi lily sudah merah padam.
Roland yang lagi sedang tertidur, sedikit tersenyum.
"(Aku akan menunggu.)"
Roland kali ini tidur dengan pulas.
Dia mendapatkan kepastian yang selalu dia inginkan. Dia merasa bahagia.
KAMU SEDANG MEMBACA
Rencarnasi menjadi gadis imut 2
Storie d'AmoreSudah 3 tahun berlalu begitu saja setelah peristiwa "itu" dimulai. Sara yang imut juga mulai berubah menjadi gadis cantik secara perlahan-lahan. Bukan hanya dia saja yang telah berubah, namun semua orang yang ada di sekitarnya. Nastya sendiri juga t...
