Chapter 28

4K 345 68
                                        

Suasana di mansion Benedict pagi itu begitu sibuk. Para maid terlihat mondar-mandir untuk menyiapkan sarapan untuk keluarga ternama itu.

Tiga orang wanita paruh baya duduk bersama sembari mengamati para pria kesayangannya bermain tennis. Mereka tertawa saat melihat pertengkaran kelima pria itu.

"Papa curang!" Protes Arsh menatap sang ayah dengan kesal.

"Kenapa daddy marah-marah terus? Jika kalah terima saja." Dengus Sebas.

"Hei ini sangat tidak adil! Kalian berempat sedangkan kami hanya berdua." Ujar Ben tidak terima.

"Daddy bilang, daddy dan uncle sangat pandai bermain tennis?! Kenapa sekarang protes?" Hars memutar bola matanya.

"Bilang saja kalian sudah tidak kuat berolahraga." Ejek Harvey.

Ken tersenyum penuh kebanggaan, pria tua itu menaik-turunkan alisnya seolah mengejek kedua putranya.

"Ckk Megan! Kau disini menjadi wasit, lihatlah! Ini sangat tidak adil." Arsh menatap putrinya yang sedang duduk di atas meja wasit sembari berfoto-foto.

"Grandpa sudah tua, jadi dia butuh banyak pasukan." Ujar wanita sexy itu.

"Kalian semua memang sangat menyebalkan!"

Pertengkaran mereka terus berlanjut hingga seseorang yang mengintip dari jendela kamar di lantai dua tertawa kecil.

Tepat pukul delapan, Delia baru saja bangun dari tidur nyenyaknya. Ia tak mendapati suaminya di sana dan ternyata pria itu sedang bersama keluarganya.

Setelah pertemuannya dan Ben beberapa hari lalu. Delia memutuskan untuk berlibur ke mansion Benedict yang berada di Madrid, Spain. Ia ingin semakin dekat dengan keluarga Hars, terlebih ia sedang mengandung cucu pertama dari keluarga Benedict.

Delia memilih untuk mengikat simpul tali jubah tidurnya sebelum keluar dari kamar. Ia membawa tubuhnya menuju halaman belakang mansion.

"Sayang, sudah bangun ternyata. Kemari." Serra tersenyum melihat kedatangan ibu hamil itu.

Delia tersenyum dan berjalan mendekati ketiga wanita yang beda usia itu, "Buenos dias." Sapanya.

"Buenos dias tambien, mi amor." Balas Scarlett dan Tere secara bersamaan.

"Lihatlah kelakuan mereka, seperti anak kecil." Serra menunjuk para pria di lapangan tennis.

Delia tertawa kecil, ia merasa senang berada ditengah keluarga harmonis seperti mereka. Begitu menyenangkan dan menenangkan.

Mare terlihat datang bersama beberapa maid, mereka mulai menatap sarapan untuk keluarga Benedict.

Para pria dan Megan berjalan mendekat untuk sarapan bersama. Saat melihat Delia, Megan langsung berjalan cepat dan berjongkok di depan perut buncit wanita itu.

"Hello, baby tampan. Kemarin kita tidak bisa bertemu karena daddymu yang kejam itu melarang aunty menganggu tidur mommymu." Satu-satunya keturunan wanita di Benedict itu mencium beberapa kali perut Delia.

"Apa aku boleh melakukan hal seperti itu?" Tanya Sebas yang langsung dihadiahi lemparan sendok dari Hars.

"Jangankan kau, daddy dan grandpa saja tidak boleh menyentuh istrinya." Cibir Harvey.

Hars mengabaikan sindiran yang kedua pria itu ucapkan padanya.

"Bagaimana urusanmu dengan keluarga Ezra, Harv?" Tanya Scarlett sembari menyiapkan sarapan untuk suaminya.

"Aku dan Mars menghabisi mereka semua karena tidak mau bekerja sama." Balas Harvey tanpa dosa.

"Kenapa harus seperti itu?" Scarlett menatap cemas putra bungsunya.

MR OTORITER 1: His PastCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang