7| A's Home

749 62 343
                                        

⸙͎⸙͎⸙͎

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

⸙͎⸙͎⸙͎

Ketika Anggara mengedarkan padangannya ke segala penjuru kantin, ia tak sengaja mendapati wanita yang menolak bantuannya di tempo hari. Tak sempat menghabiskan makanannya, ia pun bangkit dari tempat duduknya berniat menemui gadis itu.

"Habisin oi! Mubazir!" seru Gilang yang melihat Angga tiba-tiba berdiri padahal makanannya masih tersisa.

"Mau kemana lo? Habisin dulu," Raafi juga penasaran.

"Mau nyamperin cewek gue," jawab Angga santai seolah mengatakan kebenaran.

"Hahh!" Kini Gilang dan Raafi saling menatap kebingungan. Sejak kapan anak baru itu punya kekasih? Sedangkan mereka yang sudah bertahun di sekolah itu masih saja jomblo.

"Oii ... lo cewek yang kemaren, 'kan?!" tanya Angga sedikit lantang, perlahan mendekat ke arah Jihan berdiri.

"K-kenapa?!" sahut Jihan menatap tajam Angga.

Angga membuang napas kasar seraya mengancam, "Jangan bikin gue jadi pengen bikin lo menderita deh."

"Huh! Siapa lo? Tuhan? Jangan seenaknya ngatur-ngatur hidup orang deh. Lo pikir lo siapa?" bentak Jihan yang sudah muak melihat tingkah laku cowok itu.

"Ck! Gue ingetin sama lo, jangan bikin gue jadi pengen ngehancurin hidup lo! Karena gue nggak main-main," ancam Angga mendekatkan wajah mengintimidasinya ke wajah kecil Jihan.

"Gue nggak pernah takut sama orang kayak elo!" balas Jihan sembari melangkahkan kakinya ingin pergi.

Dugh!

Jihan yang ingin melangkah pergi, tiba-tiba saja jalannya dihadang pria tinggi itu. Membuat wajahnya menyentuh dada bidang Angga dengan keras.

"Akhkk!"

Jihan menabrak dada bidang Anggara. Hidungnya memerah. Bahkan wajahnya pun ikut memerah karena kesal. Apa coba maksud pria itu?

Jihan mundur beberapa langkah dari Angga. Tangannya mengepal erat, seperti ingin memberi pelajaran pada pemuda sok di depannya.

"Makanyaa jalan itu pake mata!" Angga menjeda ucapannya lalu beralih menatap kepalan tangan Jihan. "Kenapa? Lo mau mukul gue? Silakan ...."

Jihan hanya diam menatap tajam Angga. Dengan tangan yang masih mengepal. Wajahnya merah seperti kepiting rebus. 'Kok ada sih manusia kayak gini?'

"Han, udah .., kita ke kelas aja yuk," pinta Ara berusaha menenangkan Jihan agar tak terlibat masalah dengan anak baru itu.

Jihan pun memutuskan untuk berhenti sampai disitu. Meski tak mudah, tetapi Jihan berhasil menahan amarahnya dan memilih pergi meninggalkan Anggara yang tengah memasang ekspresi meremehkannya.

ANGGARA [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang