“Why don't we keep the patience to actually know the person a little more?”
-Anggara Byakta L.
°°°°
Perpustakaan sekolah ini didesain sedemikian rupa agar nyaman untuk siswa ataupun siswi yang ingin menambah pengetahuannya dengan membaca. Dinding serta langit-langit dicat berwarna putih bersih, lantai bening tanpa noda, ruangan ini pun tersedia beberapa stop kontak untuk charge HP atau laptop. Dilengkapi AC, kursi dan meja yang nyaman serta fasilitas lain agar menarik untuk dikunjungi.
Dikelilingi typography unik di dinding bertuliskan kata inspiratif dan juga memotivasi. Sayang sekali untuk dilewatkan bukan? Bahkan ada beberapa murid yang selalu mengunjungi ruangan ini hampir setiap hari.
Gadis dengan seragam Pramuka lengkap dengan kain berbentuk segitiga terikat di lehernya sedang fokus menilik buku-buku yang tersusun rapih di rak besi perpustakaan. Ia masih mencari buku apa yang kira-kira akan menarik perhatiannya. Untuk hari ini ia memilih buku fiksi yang ringan untuk dibaca, agar sedikit mengurangi beban pikirannya.
Sepasang maniknya tertuju pada punggung karya tulis di rak tingkat ke tiga—seraya menelusuri dengan jari telunjuknya. Tanpa sadar ia menendang suatu benda yang keras di kakinya. Ralat, bukan benda, tapi seorang manusia yang sedang duduk pw sambil membaca di antara rak. Entah mengapa dia nyaman duduk di lantai yang dingin seperti itu.
Jihan yang terkejut sontak berdiri pada posisi awal dan segera meminta maaf. "S-sorry ... ya? Gue nggak sengaja."
Cowok itu menghela napas singkat. Ia tampak kesal waktu literasinya terganggu. "Lo nggak punya mata?" tanyanya yang masih tampak serius membaca setiap kata di lembaran buku yang berjudul The Alchemist karya Paulo Coelho.
"Punya kok-- Tapi elo juga salah!" balas Jihan memberanikan diri beradu pandang dengan pria yang seragamnya acak-acakan. Lagi-lagi si cowok menyebalkan, Anggara. Tapi, apa yang dia lakukan di sini? Ketua geng ke perpustakaan?
Anggara memiliki hobi membaca sejak ia kecil hingga saat ini. Jadi jangan heran jika melihat cowok ini sering nongkrong di perpustakaan. Setiap hari ia luangkan sedikit waktunya untuk membaca. Biasanya sih, ia membaca sebelum tidur, meski sebentar setidaknya ada beberapa kalimat yang terbaca. Kamarnya pun dipenuhi buku-buku dari berbagai penulis ternama.
"Ck! Elo lagi?" Ia membuang napas kasar, "Lo nyalahin gue?" Alis sebelah kirinya terangkat.
Jihan menatapnya tak kalah tajam, "Iyalah! Udah disediain kursi juga, ngapain lo duduk di sini? Lo nggak tau ya keberadaan lo itu sangat menganggu?!"
"Asli, lo bawel banget."
"Lagian elo ngapain sih di sini??"
"Lo beneran nggak punya mata, ya?"
"Angga, Jihan ...," panggil Bu Melati memperingatkan. Karena ia mendengar jelas suara adu mulut antara Angga dengan Jihan.
Ada dua pustakawan di sekolah ini dan Ibu Melati salah satunya. Ini sudah hampir tahun ketiga ia bekerja di SMAN Bayangkara.
Angga dan Jihan langsung menoleh ke arah Bu Melati seraya mengangguk sopan, "Iya, Bu. Maaf." Kata mereka secara bersamaan.
Bu Melati pun sudah tak heran jika Anggara duduk di sembarang tempat. Bahkan ia sudah meminta izin sebelumnya. Angga merasa tak nyaman jika harus duduk diam di antara orang lain yang tak akrab dengannya.
Setelah menjawab Angga memandangi Jihan kembali dengan kaki satunya ditekuk sedangkan yang satunya selonjoran, "Udah, sana pergi. Atau lo mau duduk di sini aja? Lihatin gue?"
KAMU SEDANG MEMBACA
ANGGARA [END]
Teen FictionYouth _ Romance _ Comedy [R 13+] *BELUM REVISI* Terdapat adegan kekerasan dan perkataan kasar. Selebihnya keuwuan(◕ᴗ◕✿) Cerita ini mengisahkan tentang seorang anak laki-laki bernama Anggara Byakta Lesmana, yang aslinya soft boy, seniman, memiliki h...
![ANGGARA [END]](https://img.wattpad.com/cover/300676166-64-k555216.jpg)