H a p p y—reading, oll<3
⸙͎⸙͎⸙͎
Seorang pemuda keluar dari ruangan pasien mewah yang ditempati sang ayah dengan tergesa-gesa. Ia seakan mengerahkan segenap otot di bagian kakinya dalam melangkah. Bahkan terdengar suara yang cukup keras dari pintu ketika ia menggesernya kembali.
"Anggara!" teriak seorang pria yang masih terbaring lemas di atas brankar. Suaranya terdengar lemah, tetapi ia berusaha kuat untuk memberhentikan langkah putranya, sebab pembicaraan antara mereka belumlah selesai. Namun sayang, teriakannya tak berhasil mengusik Angga sama sekali.
Tampak wajah Angga memerah, ia mengepalkan tangannya erat tanpa celah, seakan siap untuk memukul siapa saja yang bertatap muka dengannya.
Helaan napas kasar terus-menerus lolos dari celah bibir Angga. "Aishh! Brengs*k!" umpatnya sembari terus melangkahkan kaki jenjangnya yang tidak tau arah tujuan dengan melewati ruang demi ruang pasien rawat inap.
"Angga, lo bodoh. Lo pikir manusia itu bakalan berubah cuma gara-gara kecelakaan kecil kayak gitu? Huh! You expect too much." Angga tersenyum miris diiringi tawa renyahnya.
***
Di keesokan paginya, Jihan berangkat ke sekolah seperti biasa. Karena merasa demamnya sudah turun, kepalanya pun tidak panas lagi. Dia datang betul-betul di awal pagi, sehingga murid yang hadir masih belum terlalu ramai.
Di setiap langkah gadis dengan surai terikat itu beriringan dengan ribuan pertanyaan di benaknya. Kenapa Angga tidak kunjung membalas pesannya? Apa yang sebenarnya terjadi tadi malam? Apa yang tidak dia ketahui, dan banyak pertanyaan lainnya. Pokok dari segala pikirannya saat ini cuma Anggara, pacarnya.
"Ah, Jihan! Fokus! Kemarin lo udah gak masuk jam pelajaran gara-gara sakit. Masa sekarang pikiran lo juga penuh sama Angga?" Jihan menggelengkan kepalanya dengan kuat.
"Tapi, Angga kenapa nggak ngabarin, sih ...?" batin Jihan tidak kuasa menahan rasa khawatir yang mendalam.
Saat tiba di kelas, tanpa pikir panjang Jihan memasuki ruangan dengan nuansa putih serta biru muda itu. Namun, sebuah wajah penasaran tiba-tiba menyambutnya dengan bersemangat.
"Jihan!"
Panggilan Ara membuat Jihan terkesiap, karena dari tadi gadis itu hanya melamun dengan menatap ke arah bawah.
Jihan sontak menoleh pada Ara yang tampak sudah menyelesaikan sesi menyapu di sisi belakang ruang kelas. "Ara! Hobi banget ngagetin orang," sungut Jihan.
Ara langsung menaruh sapu di tangannya di sembarang tempat, lalu bergegas menghampiri sahabatnya. Gadis berkacamata itu memeriksa tubuh Jihan dengan membolak-balik badan—hingga mengangkat tangan Jihan bagian kanan dan kirinya, ntah-entah ada yang kurang. "Lo, nggak papa?"
Jihan mengerutkan alisnya bingung, hingga ia balik bertanya. "Emang gue kenapa?"
Di tengah aksi pemeriksaan yang dilakukan Ara datanglah duo yang mengaku-ngaku sebagai cowok tertampan di kelas XI MIPA 2, yakni Johan si tukang molor, serta Gibran si gamers ganteng idaman. Mereka ikut kepo dengan pembicaraan antara Jihan dan Ara, sehingga dihentikannya langkah tepat di bawah bingkai pintu.
"K-kemarin, Angga gak ngapa-ngapain lo, 'kan?" Ara bertanya dengan polosnya, sebab ia belum tau status di antara keduanya.
"Ra, lo pura-pura polos apa gimana dah?" celetuk Johan tiba-tiba. Gibran menyikut lengannya, karena mereka sepakat untuk mendengarkan hingga selesai tanpa ikut dalam pembicaraan. "Jelas banget kalau mereka udah pacaran," tambah Johan melangkah lebih dulu melalui kedua gadis itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
ANGGARA [END]
Teen FictionYouth _ Romance _ Comedy [R 13+] *BELUM REVISI* Terdapat adegan kekerasan dan perkataan kasar. Selebihnya keuwuan(◕ᴗ◕✿) Cerita ini mengisahkan tentang seorang anak laki-laki bernama Anggara Byakta Lesmana, yang aslinya soft boy, seniman, memiliki h...
![ANGGARA [END]](https://img.wattpad.com/cover/300676166-64-k555216.jpg)