26| Uncontrollable Things

399 37 168
                                        

⸙͎⸙͎⸙͎

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

⸙͎⸙͎⸙͎

"Bentar, kok kayaknya udah dikasih makan?" Dia mendapati mangkuk makanan kucing tersebut sudah terisi.

"Tapi, siapa?" Jihan celingukan mencari seseorang yang berpotensi sebagai tersangka pemberi makan kucing-kucing jalanan itu, tapi tak ada siapapun di sana. Karena biasanya, kalau bukan Jihan, tak ada yang datang kemari, mangkuk itu selalu kosong setiap pagi. Tapi kali ini berbeda. Terlihat beberapa biji makanan kering merk yang cukup mahal tersisa di atas mangkuk yang tengah diserbu.

Terukir senyum manis di bibir Jihan, ia senang akhirnya ada juga yang peduli dengan anak-anaknya. "Masih ada orang baik yaa," gumamnya sembari tangannya menyisir lembut kucing-kucing kampung yang tak terpelihara dengan baik.

°°°

Siang itu, Anggara tiba-tiba berdiri lalu mengangkat tangan kanannya, "Pak, saya mau izin ke UKS. Kaki saya sakit, ditimpa batu bata, Pak. Boleh?" seru Angga berbohong di tengah pelajaran sedang berlangsung. Karena hal itu, membuat ia menjadi pusat perhatian seluruh penghuni kelas.

"Yaelah, alesan lo jelek bat anj*rr!" bisik Gilang dari belakang.

"Lihat aja, pasti berhasil." Angga menyahut pelan dengan percaya diri.

Guru yang sedang mengajar berbalik, menghadap murid-muridnya—mencari sumber suara. Ia melihat seorang siswa yang berdiri dengan wajahnya yang sudah memelas. Ia berpikir sejenak. "Yasudah, silakan. Hati-hati ya, Nak." Pak Fais mengizinkan.

Anggara tersenyum, "Terima kasih, Pak." Sebelum beranjak pergi ia menoleh ke arah Gilang lebih dulu dan menyunggingkan senyuman bangga. Setelah itu, ia berjalan ke luar kelas dengan berpura-pura pincang, seakan ia memang benar cedera. Jangan dicontoh yaa dik adik~

"Bener-bener ya tu anak, nggak punya akhlak! Gue ... ikut Angga aja kali yaa. Menurut lo gimana, Raaf?" Gilang berbicara dengan teman sebangkunya yang sibuk mencatat.

"Nggak jelas! Sok banget ngatain orang gak punya akhlak," cercanya.

"Yaelahh, yaudah iyee, kagak jadi! Posesif amat." Bibir Gilang mengerucut.

Pak Fais ialah guru Biografi XI IPS yang terkenal baik dan bijaksana. Namun karena kebaikannya itu, sering dimanfaatkan oleh murid bandel yang malas belajar seperti Angga ini. Entah pura-pura sakit biar bisa istirahat di UKS, atau izin ke toilet cuman untuk mampir ke kantin, atau hanya ingin keluar sembari mengintip crush lewat jendela.

Saat ini Angga tengah menuruni anak tangga, melewati beberapa ruang kelas yang sedang dalam proses belajar mengajar. Melewati lapangan yang juga dipenuhi murid yang sedang berolahraga, ia bahkan mendengar beberapa panggilan dari adik kelas yang berniat menggodanya, namun lagi-lagi, Angga tak acuh.

Setelah beberapa menit berjalan, dia pun sampai di UKS yang terletak di lantai pertama, gedung A.

"Permisi ...," sapa Angga pelan—membuka pintu yang memang selalu tertutup.

ANGGARA [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang