39| I Loved Her Dangerously

393 16 93
                                        

H a p p y — R e a d i n g, oll<3

⸙͎⸙͎⸙͎

Hari ini Angga meluangkan waktunya untuk mengasah kemampuan di tempat biasa. Alunan musik klasik terputar memenuhi ruangan kecil itu, tercipta suasana yang lebih nyaman.

Angga mencoba untuk lebih memahami dirinya. Dengan memahami suasana hati, Angga bisa dengan mudah mengekspresikannya melalui lukisan. Juga disertai harapan, kali ini ia bisa berhasil menciptakan sebuah karya, tidak seperti sebelumnya, ia merasa selalu gagal dan tidak puas akan hasilnya.

Setelah berdiam diri di hadapan kanvas kosong. Angga mulai mengayunkan tangannya menuju cat yang sudah dituangkannya, lalu ia torehkan pada kanvas berukuran sedang.

Ekspresionisme, itulah aliran yang selama ini Anggara gunakan dalam karya seninya. Penggambaran sesuai dengan keadaan jiwa sang perupa yang spontan pada saat melihat objek karyanya. Dengan melukis, Angga merasa seakan berbagi cerita, bukan kepada manusia, melainkan media datar yang tidak bisa berbicara.

Di tengah-tengah Angga fokus menyelesaikan lukisannya, hadir sosok yang tidak pernah ia nantikan kehadirannya. Pria yang lebih tinggi darinya itu membuka pintu dengan keras. Sehingga suara hempasan pintu yang mengenai dinding, membuat Angga sontak menoleh ke belakang.

"A-Ayah ...?" Kuas yang tadinya berada di tangannya, kini tergeletak di lantai begitu saja.

Harian memberi tatapan penuh amarah pada darah dagingnya yang sekarang berdiri dengan tubuh gemetar. "APA INI, ANGGARA?!" bentaknya sembari menyusuri tiap sudut ruangan dengan matanya. "Sejak kapan ada ruangan sampah ini di rumah saya?!"

Lidah Angga terasa kelu. Bibirnya tidak tertutup sempurna karena ia gunakan untuk membantu pernapasannya. "Ma-maafin ... maafin Angga, Yah."

Angga menunduk, ia tampak tidak berdaya di hadapan ayahnya. Ia seperti tertangkap basah. Padahal yang dilakukannya bukanlah hal yang salah. Namun, bagi Harian, itu termasuk hal yang seharusnya Angga hindari.

Helaan napas kasar lolos dari sela bibir Harian, ia memijit pelipisnya, "Selama ini kamu menipu saya? Begitu?"

Secara otomatis kepala Angga menggeleng cepat, matanya berkaca-kaca. "Nggak, Angga nggak bermaksud menipu Ayah. Angga ... Angga cuma nggak bisa berhenti melukis, Yah."

"Sudah berapa kali saya bilang, hal ini tidak ada gunanya untuk masa depan kamu!" Harian melangkah dengan tegas menuju tempat peralatan lukis yang selama ini Angga gunakan secara diam-diam. Lalu ia meraupnya secara bersamaan, setelah itu ia hempaskan di hadapan putranya. "Kamu membuang waktu berharga kamu, cuma buat sampah seperti ini?"

Tanpa berpikir dengan akal sehatnya, Angga bertekuk lutut di hadapan Harian. Seraya memohon dengan sangat kepada sang ayah agar tidak menghancurkan karya-karya yang sudah susah payah dibuatnya. Karyanya ia pajang di sekeliling ruangan itu, ada juga yang hanya tersusun di pinggiran, karena tidak ada lagi tempat yang tersisa.

"Angga mohon, Yah, jangan! Jangan lakukan ini ke Angga." Ia menggenggam tangan ayahnya. "Angga nggak tau caranya hidup kalau Angga harus berhenti ngelukis, Yah." Dengan air matanya yang terus mengalir, Angga mengangkat kepalanya—beradu pandang dengan Harian. "Lebih baik, Angga mati."

Alis Harian menukik tajam, "APA—??!" Tangannya akan segera melayangkan sebuah tamparan keras pada Angga, tetapi sebelum itu terjadi, sang ibunda lagi-lagi menyelamatkan putra kesayangannya.

"AYAHHH!" Dengan tergesa-gesa Nisa berlari menghentikan suaminya, lalu memeluk erat Anggara. "Apa yang Ayah pikirkan? Jangan perlakukan anak saya seperti ini!" tegur Nisa membuat Harian memalingkan wajahnya. "Sesulit itu kah mendukung putramu? Putra kandungmu sendiri?"

ANGGARA [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang