Satu bulan telah berlalu, dan kini Dezan sudah bisa melakukan aktivitas seperti sebelumnya. Tulang punggungnya sudah 95% pulih. Dan artinya, ia sudah harus terjun kembali ke dunia pendidikan dan juga mulai memimpin dunia per-bisnis an.
Kini waktu menunjukkan pukul 03.09 dini hari. Dezan dengan mata yang masih sayu duduk di tempat makan menunggu Denaz yang sedang menyeduh susu.
Yaps, mereka akan melaksanakan ibadah puasa hari ini. Ibadah puasa pada bulan Ramadhan, sangat wajib di laksanakan bagi umat muslim di seluruh dunia.
Tentunya, Dezan dan Denaz pun ikut melaksanakan ibadah wajib yang di laksanakan hanya satu bulan dalam satu tahun.
"Ini susunya udah. Sekarang makan!" Ujar Denaz yang sudah duduk di samping Dezan. Dezan yang semula menyimpan kepalanya di atas meja pun menjadi duduk menyandar pada sandaran kursi.
"Suapin" uiarnya dengan suara serak khas orang mengantuk. Denaz pun menyuapi Dezan tak lupa dirinya menyuapkan nasi untuknya sesekali. Biarlah Dezan makan terlebih dahulu. Ia bisa menyusul setelah Dezan selesai makan.
Dezan makan sangat lambat. Itupun Denaz harus mengancamnya agar ia menelan nasi yang ada di dalam mulutnya.
"Udah ah ngantuk" rengek Dezan. Denaz menggeleng "Ngga! Habisin! Kalo kamu ga makan sampe habis, nanti siang kamu kelaparan. Inget kalo kamu harus sekolah sama kerja" Ujarnya.
"Aahhh ngantuk Denazz"
"Ga ada ngantuk ngantuk! Main game sampe subuh aja bisa, ini makan sahur aja susah padahal kalo kamu nya ga susah kaya gini makan nya cepet, kamu bisa tidur lagi"
Dezan merebut piring di tangan Denaz. Ia menyuapkan nasi dan menelannya dengan cepat. Namun, matanya sudah berair.
"Pelan pelan, nanti keselek kalo makan nya kaya gitu!" Ujar Denaz. Namun Dezan tidak mendengarkannya. Denaz pun memilih untuk memakan makanan miliknya.
Dezan sudah menghabiskan makanannya lalu ia meminum segelas susu dengan sekali tegukan dan meminum air putih setengah gelas.
Ia pun bergegas pergi dari sana. Ia berjalan dengan kaki yang di hentakkan lalu masuk ke dalam kamar dan membanting tubuhnya di kasur.
Ia mengambil ponsel dan menghubungi sang mami.
"Halo Dezan, kenapa? Kamu udah sahur belum?"
"huaa mamii" tangisannya pecah saat itu juga.
"Kok malah nangis? Kenapa?"
"Dezan di marahin Denaz hiks Denaz nakal!"
"Kamu kali yang nakal"
"Ngga hiks Dezan ga nakal!"
"Yaudah yaudah, jangan nangis! Mendingan tidur gih! Masih ada setengah jam buat solat subuh itupun kalo kamunya tepat waktu. Kalo subuh nya jam lima ya masih lama"
"Yaudah ah! Mami sama aja hiks kaya Denaz!" Ujar Dezan lalu mematikan sambungan teleponnya sepihak. Ia lantas memeluk bantal guling dan menyelimuti tubuhnya.
Denaz masuk ke dalam kamar dengan sebotol air mineral dan menyimpannya di nakas.
Ia naik ke atas kasur dan duduk bersandar pada kepala ranjang. Ia tidak menyapa Dezan yang memunggunginya.
Namun, suara isakan tertahan membuatnya iba terhadap pria itu.
"Hey, jangan nangis!" Ujarnya seraya menyentuh bahu Dezan. Namun, Dezan malah menggerakan bahunya seakan tak ingin di sentuh Denaz.
"Sana hiks gausah deket deket! Aku alergi sama kamu!"
Denaz yang gemas pun segera berbaring dan memeluk kepala Dezan "Nih alergi nih"
KAMU SEDANG MEMBACA
Spoiled Husband [NEW VERSION]
Romance[FOLLOW DULU BARU BACA!!] First story! ⚠️Kissing⚠️ ⚠️breastfeeding⚠️ Murni dari hasil pemikiran saya sendiri. Tidak ada unsur copas apapun. Jika ada kesamaan tokoh atau alur mohon di maklumi karena itu sama sekali tidak di dasari unsur kesengajaan. ...
![Spoiled Husband [NEW VERSION]](https://img.wattpad.com/cover/279675616-64-k843142.jpg)