"Mami, ezan mau di panggil aa" ucap Dezan tiba-tiba. Stella dan Denaz terkejut. Karena sejak awal, Dezan tidak mau di berikan panggilan apapun oleh adiknya.
"Terus ezan panggil Zile dede"
"Alhamdulillah akhirnya!" Seru Stella.
"Tapi Denaz tetep ngga boleh pangku, kecuali kalo mami lagi sibuk"
"Iya iya, lagian Denaz selalu kamu sibukin!" Balas Stella sedikit sinis.
Denaz tertawa pelan "Dasar bayi gede!"
"Oh iya, nanti aku mau ketemu klien sama Galen juga" ujar Dezan.
"Jam berapa? Biar aku siapin dulu" tanya Denaz.
"Jam tiga" balas Dezan.
"Masih lama naz, nanti aja!" Sahut mami.
Denaz menyengir "Biar tenang mi, Dezan kan anaknya gabisa santai"
"KATA SIAPA?! AKU KALO URUSAN KERJA GAPERNAH BURU BURU TAU!" Pekik Dezan tak terima.
"Iya juga tapi, mami gapernah tuh liat kamu semangat kerja" sahut mami.
"Ga ada ayang" balas Dezan asal. Denaz berdecih pelan, lalu tertawa.
"Mau susu" rengek Dezan tiba-tiba. Denaz menghela nafas "Tadi mana dot nya?" Tanya Denaz.
Dezan menunjuk lemari televisi. Denaz melihat dot milik suaminya yang berwarna biru, masih terisi setengah.
"Itu masih ada, abisin!" Titahnya.
Dezan pun bangkit untuk mengambilnya.
🐥🐥🐥
"Dezan kenapa belum pulang ya? Apa mau ngadain projects lagi makanya lama" gumam Denaz.
Tak lama, terdengar deru mobil memasuki kawasan rumah besar itu. Karena Denaz sedang berdiam di balkon kamar, ia pun dapat melihatnya.
"Loh? Kenapa di bopong Galen?" Tanya nya bingung. Ia pun segera turun ke lantai bawah dan menyambut kedatangan suaminya.
"Bu, maaf ini tadi pak Dezan mabuk pas udah selesai meeting." Ujar Galen sebelum Denaz menyuruhnya untuk mendudukkan Dezan di sofa.
"Kok bisa?"
Galen menyengir canggung "Saya kurang tau bu masalahnya apa. Soalnya tadi saya habis nganter klien ke lobby, terus beres-beres barang saya, pas saya balik lagi ke ruang meeting, bapak udah tepar"
Denaz berdecak seraya menatap Dezan yang tertidur di sofa.
"Kamu mau minum dulu Gal?" Galen menggeleng. "Ga usah bu, saya mau pulang aja"
"Yaudah hati-hati ya Gal"
"Iya bu, eh ini kunci mobil bapak. Mobilnya masih di parkiran kantor"
Denaz mengangguk dan menerimanya. Galen pun pergi dari sana.
Ia pergi ke dapur untuk membawa susu beruang. Perlahan, ia meminumkannya pada Dezan.
"Bau banget parah"
Setelah selesai meminumkan susu tadi, ia pun melepaskan jas dan kemeja yang Dezan pakai. Ia naik ke kamar untuk membawa baju tidur Dezan.
Setelah kembali, ia melihat Dezan sedang duduk dengan tatapan lurus ke depan, serta tangan yang memegangi kepalanya.
"Udah sadar ganteng?" Tanya Denaz.
Dezan menoleh ke arahnya. Ia menerima baju tidur yang di berikan Denaz.
"Maaf"
"Menurut kamu, aku bisa langsung maafin kamu gitu aja?" Dezan menggeleng.
"Mandi sana! Bau, bikin eneg." Titah Denaz.
Dezan mengerjap, lalu bangkit dan berjalan sempoyongan, menaiki tangga.
Denaz menggelengkan kepalanya "Untung mami udah tidur. Tapi, besok juga mau gue cepuin sih, hahaha mampus lu nanti di marahin mami" gerutu Denaz seraya menatap punggung Dezan.
🐥🐥🐥
Waktu menunjukkan pukul 10.40. Dezan baru saja bangun dari tidurnya seraya menyipitkan mata.
Ia menggaruk tengkuknya seraya mengumpulkan nyawa. Setelah dirasa nyawanya terkumpul, Dezan bangkit dan pergi ke kamar mandi untuk membasuh wajah.
Setelah selesai, ia diam terlebih dahulu di depan pintu kamar mandi "Tumben Denaz ga bangunin? Apa dia marah ya?" gumamnya.
"Lah, ya iyalah bego!" Kali ini Dezan memukul pelan kepalanya.
Ia memilih untuk turun ke bawah. Ia rasa, Denaz pasti sedang memangku Zile.
Setelah sampai di bawah, ia tak menemukan Denaz. Ia malah menemukan Stella yang memangku Zile.
"Denaz mana mi?"
Stella menatapnya sinis "Kamu pikir Denaz masih mau tinggal sama cowo pemabuk kaya kamu?"
Dezan mengernyit "Maksudnya?"
"Kamu mikir dong, Dezan! Kamu ini udah gede, udah jadi seorang suami. Pantes ga seorang suami pulang jam 11 malem dengan keadaan mabuk? Kamu ga mikirin perasaan istri kamu? Kamu ga mikirin perasaan mami? Denaz bilang kamu udah janji gaakan mabuk lagi, tapi apa? Kenapa kamu ingkar janji?"
"Dezan semalem pusing, mami! Mami gatau ya, kalo uang perusahaan di ambil lagi? Mami gatau gimana pusingnya Dezan saat uang bermiliar-miliar milik perusahaan, bahkan itu modal buat projects kedepannya ga ada, hilang. Dezan pusing mi, Dezan ga tau harus gimana selain minum apa yang ada di laci meja ruang meeting." Balas Dezan.
"Tapi ga harus mabuk, Dezan! Kamu tinggal pulang ke rumah, ceritain semua apa yang terjadi! Mami, sama Denaz bakal bantu kamu. Kita bakal jadi penenang, penyembuh buat kamu. Kamu masih punya keluarga, kamu masih punya temen. Harusnya, sebelum ngelakuin sesuatu itu pikirin dulu dampaknya, Dezan Orlando!"
"Di KTP kamu masih tercantum kalo Agama yang kamu anut itu Islam. Kamu, dulu mami masukin pesantren, ga mungkin kalo gatau hukum meminum minuman keras itu apa."
Dezan tak bergeming.
"Denaz pulang ke rumah orangtuanya. Kunci mobil, kunci motor, hp, dan uang kamu, mami sita sampe Denaz mau pulang kesini."
"Kok gitu-"
"Mikir!" Tekan Stella seraya meninggalkan Dezan.
🐥🐥🐥
JANGAN LUPA VOTE, KOMEN, FOLLOW IG @/SZKXWTTPD JUGAA YAA.
YAUDAH KALO GITU, THANK YOU, AND SEE YOU NEXT TIME Y'ALL
KAMU SEDANG MEMBACA
Spoiled Husband [NEW VERSION]
Romance[FOLLOW DULU BARU BACA!!] First story! ⚠️Kissing⚠️ ⚠️breastfeeding⚠️ Murni dari hasil pemikiran saya sendiri. Tidak ada unsur copas apapun. Jika ada kesamaan tokoh atau alur mohon di maklumi karena itu sama sekali tidak di dasari unsur kesengajaan. ...
![Spoiled Husband [NEW VERSION]](https://img.wattpad.com/cover/279675616-64-k843142.jpg)