"hiks Sakit ayang"
Dezan menangis lagi.
Ia mengusap air mata yang perlahan jatuh dari kelopak matanya. Ia menghapus cairan tak berwarna itu dengan punggung tangannya.
Bukan tak ada alasan ia menangis. Melainkan di saat tubuhnya merasakan rasa sakit yang luar biasa, tidak ada yang memperdulikan nya.
Awalnya ia memiliki Denaz yang selalu peduli padanya. Ia memiliki Denaz yang selalu menghapus air matanya. Ia memiliki Denaz yang bisa meredam tangisannya dengan perkataan lembut nan hangat.
Namun sekarang, gadisnya mulai acuh. Dan bukan tanpa alasan juga gadisnya itu acuh. Itu semua sebab dirinya. Dirinya yang sulit untuk di atur dan di perdulikan.
Di atas brankar putih, Dezan berbaring menyamping dengan pipi yang basah. Di sudut ruangan, terdapat seorang gadis yang hanya melihatnya dengan wajah datar.
Gadis itu lelah dengan prianya.
"Udah aku bilang kamu diem! Tunggu di sini aja, gausah ngide nyusul aku ke kantin. Jatoh kan? Sakit kan? Aku bukan gamau peduli sama kamu, tapi kamu yang gamau di peduliin."
"Sekarang kamu udah di periksa dokter, and there's no big problem with it. Jadi aku pikir kamu oke oke aja ga akan nangis ngerengek ke aku atas apa yang kamu rasain dari hasil kelakuan nekat kamu itu."
"Aku pulang ya? Capek"
"GABOLEH HUAAA GABOLEH PULANG" tangisan yang semula terdengar pelan, seketika menjadi sangat bising setelah Denaz mengatakan perkataan tadi.
"GABOLEH PULANG HIKS GABOLEEEHHHH"
Denaz melangkah mendekati Dezan yang sudah menjambak kuat rambutnya. Ia memcekal lengan itu dengan wajah yang tak menampilkan ekspresi apapun.
"huaaa Gaboleh pulang"
"Aku capek. Kamu susah di atur. Aku mau pulang."
Dezan menghempaskan tangan Denaz "YAUDAH HIKS SANA! AKU MAU MATI!"
"Apa sih bawa bawa mati?"
"Biarin hiks sana pulang! Aku mau mati hiks mau nyusul Adrian!" Denaz hanya diam.
"Jangan pulang hiks disini aja" Dezan menarik pinggang Denaz dan memeluknya.
"Jangan pulang!"
"Denaz ih jawab!"
"Iya ga jadi. Udahan nangisnya, mandi dulu" ujar Denaz yang mulai melunak.
"Mandiin hiks gamau tau!"
"Ya iya, kapan aku ga mandiin kamu?" balas Denaz seraya mendudukkan dirinya di atas brankar yang di tiduri Dezan. Dezan mendusel di paha sang istri.
"Udah ayo cepet mandi dulu"
"Cium" pinta Dezan manja. Denaz mengecup pipi Dezan membuat pipi pria itu bersemu kemerahan.
"Bau asem, ayo mandi!"
"Ngga baauuuu!" Rengek Dezan.
"Yaudah ayo cepet mandi dulu"
"Tapi abis mandi nenen" ujar Dezan dengan nada khas membujuk.
"Iya, ayo cepetan bangun."
Dezan bangun di bantu Denaz. Ia berjalan pelan ke kamar mandi di ikuti Denaz yang membawa handuk dan peralatan mandi yang ia bawa dari rumah.
Dezan duduk di atas kloset duduk. Ia membuka bajunya terlebih dahulu seraya menunggu Denaz menyiapkan peralatan untuk mandinya.
"Enakan di rumah, mandinya duduk di bathtub bukan kloset" ujar Dezan. Denaz seketika tertawa "Ada ada aja kamu!"
"Ya iya ih! Untung ada shower bukan bak mandi kecil kaya di wc umum." holang kayahhh
🐣🐣🐣
Dezan sedang memainkan ponsel Danis dengan dot di mulutnya. Ia menonton kartun kesukaannya yaitu Pororo.
Ponsel milik Danis di sandarkan di besi pembatas brankar. Saat sedang asyik menonton, Dezan tak sengaja menyenggol ponsel itu hingga jatuh ke lantai.
Pluk
Ponsel terjatuh dengan keadaan layar berada di bawah. Danis cepat cepat membawa ponselnya dengan wajah terkejut dan khawatir. Ia khawatir ponselnya akan rusak karena tidak memakai case dan pelindung layar.
"Wah anjir" ujar Danis heboh. Ponselnya rusak. Warna dari layarnya sudah tak menentu dan juga layarnya retak.
"Maaf, hp nya kesenggol" ujar Dezan dengan suara serak.
"Udah di bilangin pake hp sendiri! Rusak kan hp nya!" Ujar Denaz seraya menatap Dezan tajam.
"Maaf"
"Gapapa hey jangan nangis! Ini hp buat mainan doang kok. Lagian hp nya juga udah jadul, emang udah saatnya di ganti. Ga ada yang penting kok di dalemnya" ujar Danis.
Dezan menggigit bagian dalam bibirnya agar air matanya tidak jatuh.
"Nih nih jangan nangis!" Ujar Indra seraya memberikan ponselnya. Dezan menggeleng "Ngga mau"
"Naz ya Allah jahat bener lo! Bujuk kek lakinya elus elusin" ujar Pricill yang juga ada di sana.
"Ngga, ngapain di bujuk orang dia yang salah. Dia yang merusak"
"Keras banget, kaya almarhum ayah" ujar Danil tiba tiba.
"Si anjir wisata masa lalu" sahut Razqi. Tiba tiba Danis, Jake, dan Marvell berteriak rusuh. Dezan turun dari brankar dan berlari ke arah Denaz yang duduk di sofa. Ia langsung memeluk Denaz dan menangis.
"Huaaa maaf hiks jangan marah"
"Ya Allah, Dezan Orlando!! Ngeri gue liatnya! Astaghfirullah ya Allah" Rentetan perkataan itu keluar dari mulut Lion.
"Sumpah Dezan, lo bikin gue panik!!!" Ujar Pricill.
"Gila ya lo Dezan!! Kalo jatuh gimana? Kalo nanti punggungnya sakit gimana Dezan astaghfirullah..." Timpal Jake.
"Jelek banget kelakuan lo Dezan" ujar Denaz yang sudah tidak bisa mengeluarkan perkataan lagi. Jantungnya berpacu sangat cepat melihat adegan yang di lakukan suaminya.
Itu sangat berbahaya. Dan Dezan tidak memperdulikannya. Yang ada di pikirannya adalah Denaz. Jika ia tak berlaku demikian, sudah ia yakini jika Denaz tidak akan mengajaknya berbicara hingga malam tiba.
"Harusnya lo ga kaya gitu Denaz! Kalo Dezan kenapa napa gimana? Dezan kaya tadi karena sikap lo yang terlalu keras dalam ngedidik Dezan!" Ujar Danis.
"Jangan salahin Denaz! Denaz ga salah Denaz cuma pengen Dezan ga nakal! Kalo ga kaya gitu hiks Dezan ga bakalan nurut sama Denaz!" Balas Dezan.
🐣🐣🐣
Jangan lupa vote sama komennya yaaa. Jangan lupa juga follow ig @/szkxwttpd dan akun rp lainnya yang udah di mention di bio ig di atas yaa.
Makasih semuanya, see youu👋🏻❤️
KAMU SEDANG MEMBACA
Spoiled Husband [NEW VERSION]
Romantik[FOLLOW DULU BARU BACA!!] First story! ⚠️Kissing⚠️ ⚠️breastfeeding⚠️ Murni dari hasil pemikiran saya sendiri. Tidak ada unsur copas apapun. Jika ada kesamaan tokoh atau alur mohon di maklumi karena itu sama sekali tidak di dasari unsur kesengajaan. ...
![Spoiled Husband [NEW VERSION]](https://img.wattpad.com/cover/279675616-64-k843142.jpg)