part 47

3.3K 157 7
                                        

Huru hara terjadi di rumah megah milik Orlando, kala putra sulung Orlando mendapati sang istri yang tertidur dengan suhu badan yang tinggi.

Pria itu panik. Hal hal menakutkan muncul di pikirannya.

Dezan... kacau.

Dezan sedari tadi menggenggam tangan Denaz yang panas, dengan perasaan takut.

Takut hal yang paling menyeramkan, akan terjadi.

"Sayang, aku gapapa." Ucap Denaz.

"Jangan gapapa gapapa! Suhu badan kamu tinggi, Denaz!"

"Dokternya lama! Ada apa sih di jalan?"

Denaz terkekeh, melihat tingkah Dezan yang begitu menggemaskan.

"Jangan marah marah dong!"

"Ya lagian lama banget! Udah tau orang lagi sakit, malah lama!"

Lagi lagi Denaz merasa terhibur oleh raut panik prianya.

"Mungkin jalannya macet, sayang. Ini kan masih pagi, pasti jalanan padat, karena banyak yang pergi sekolah, atau kerja."

Dezan tak menjawab.

Cukup lama mereka terdiam, hingga ketukan pintu membuat keduanya menoleh.

Denaz menyuruh Dezan untuk membuka pintu, dan Dezan pun menurut. Setelah pintu terbuka, matanya melotot.

"Lama banget! Gimana kalo keadaan bini gue darurat hah?!"

Orang yang baru saja datang pun terkekeh "Macet Zan. Kalo pake ambulans mah baru bisa satset"

"Alesan! Cepet periksa Denaz!"

Lawan bicara Dezan tertawa. Ia masuk ke dalam kamar Dezan.

"Aduhh bapak Dokter" ledek Denaz seraya mengubah posisinya menjadi duduk.

Marvell tersenyum geli "Malah duduk! Gimana meriksanya gue?"

Marvell sekarang resmi menjadi seorang dokter. Ia di mintai dokter yang sebelumnya menjadi dokter pribadi Diandra, jadilah sekarang Marvell yang datang untuk memeriksa Denaz.

Denaz pun mulai di periksa.

"Denaz cuma demam biasa. Mungkin efek cuaca, sama terlalu cape. Lo harus istirahat sekarang. Ini resep obatnya, di cari di apotik juga ada, atau mungkin disini ada stok obatnya. Jangan lupa selalu minum vitamin, tubuh lo lumayan lemah soalnya." Ujar Marvell.

Denaz mengangguk.

"Cepet sembuh naz, kasian nih bayi lo kalo emaknya sakit." Ujar Marvell seraya terkekeh.

"Gue pamit deh ya naz, zan."

"Iya, hati hati." Balas Dezan dan Denaz bersamaan.

Marvell pun pergi dari ruangan itu. Dezan mendekat "Mau aku bikinin sandwich?" Tanya Dezan.

Denaz mengangguk seraya tersenyum "Jangan lupa buat kamu juga"

Dezan mengangguk, dan pergi ke bawah untuk membuatkan Denaz sandwich serta menanyakan obat pada Stella.

🐥🐥🐥

Denaz sedang duduk di kasur, seraya menonton kartun yang di tayangkan di televisi.

Tiba tiba Dezan masuk kedalam kamar, seraya terisak.

"Kenapa?" Tanya Denaz.

Dezan berdiri di ambang pintu seraya mengusap air matanya "Dot aku gaada huaaa aku mau susu"

Kening Denaz mengerut "Udah di tanya ke bibi sama mami?" Dezan mengangguk "Udah hiks tapi katanya gatau"

"Coba liat di laci" Denaz menunjuk nakas. Dezan pun membuka laci nya, dan ia tak menemukan barang yang ia cari.

"Huaaa ga ada dot nya huhuu hilang" Dezan duduk di tepi kasur dengan isakan yang cukup kencang.

"Kamu inget ga di simpen dimana?" Dezan menggeleng. Denaz menghela nafas "Nenen aja mau?" Lagi lagi Dezan menggeleng.

Tiba tiba Denaz mengingat sesuatu.

"Udah di cari ke mobil belum? Takutnya ketinggalan pas abis belanja kemarin."

"Belum hiks cape"

"Minta tolong pak Agus, telepon!"

Dezan memberikan ponselnya kepada Denaz. Denaz pun menelepon pak Agus dan memintanya mengecek mobil Dezan.

Tak lama, muncul pak Agus di ambang pintu. Kebetulan, sedari tadi pintu terbuka.

"Permisi neng, ini dot nya ketemu di dashboard mobil" ujar pak Agus.

Dezan segera mengambilnya dan berterimakasih, pak Agus pun segera pamit pergi dari sana.

"Buat sendiri susu nya ya? Aku masih lemes"

Dezan mengangguk setuju.

🐥🐥🐥

Sorry ya dikit banget..

JANGAN LUPA VOTE, KOMEN, FOLLOW IG @/SZKXWTTPD JUGAA YAA.

YAUDAH KALO GITU, THANK YOU, AND SEE YOU NEXT TIME Y'ALL

Spoiled Husband [NEW VERSION]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang