PART 21

5.7K 221 1
                                        

Di balkon, Dezan sedang duduk dengan secangkir susu di meja yang berada di sampingnya. Sebuah MacBook berwarna silver berada di pangkuannya. Ia memijat pelipisnya karena kepalanya terasa sedikit pusing.

"Dezan, turun yuk! Ada mami, ayah sama bunda di bawah" ajak Denaz yang menyembulkan kepalanya di balik pintu balkon.

Dezan menoleh dan menutup MacBook nya. Ia menenteng MacBook itu dan berjalan perlahan keluar dari kamar serta menuruni tangga.

"Mami, ayah, bunda" sapa Dezan lalu mengecup punggung tangan ketiganya.

"Dezan, mami ga akan lama lama soalnya mami harus ke dokter kandungan buat cek keadaan calon adik kamu. Mami kesini cuma mau bilang, kalo mami udah urus semua masalah kekerasan yang udah papi kamu lakuin ke kamu. Dan besok, persidangannya akan di mulai." Ujar Mami Stella tanpa aba aba apapun.

"Dan sekurang kurangnya, papi kamu bakalan di pidana selama tiga atau enam tahun. Kamu gapapa kalo papinya di tahan?"

Dezan terkejut. Ia mengedipkan matanya berkali kali "M-mami, Sebenernya ini berat tapi Dezan gapapa. Kalo mami gimana? Mami gapapa sendirian tanpa papi? Mami gapapa di tinggal papi selama itu dengan keadaan mami yang lagi mengandung?"

Stella tersenyum sendu "Mami gapapa sayang. Mami oke kok, mami bisa urus semuanya. Toh nanti nenek kamu bisa nemenin mami di rumah atau tante tante kamu."

"Tapi maaf, mungkin mulai minggu depan perusahaan milik papi, kamu yang pegang. Kamu gapapa? Kamu bisa?" Tanya mami Stella.

Dezan menatap Denaz.

"Gapapa! Kan ada aku! Aku nanti bantu kamu! Kita kerja sama sama ya" ujar Denaz.

"Ayah siap kok bantuin kalian. Jangan sungkan ya buat minta tolong. Ayah juga bakal ajarin kalian biar kalian tau dasar dasarnya perusahaan, terus kalian harus ngapain aja, harus apa aja, pokoknya ayah bakal ajarin sampe kalian paham dan bisa." Ujar ayah Rheyan meyakinkan putra dan putrinya itu.

"Mami kalo ada apa apa kabarin Dezan ya!" Ujar Dezan seraya menatap sang mami. Wanita itu mengangguk "Yaudah kalo gitu mami pamit ya takutnya telat nanti dokternya keburu ga beroperasi lagi."

Dezan mengagguk. Stella berpamitan dengan semuanya. Lalu wanita itu pergi dari kawasan rumah sang putra dengan mobil hitam yang di kendarai oleh supir pribadinya.

Dezan menyandarkan kepalanya di bahu Denaz. Denaz pun mengusap kepala sang suami "Tenang aja! Banyak kok yang bakalan bantu kamu."

"Pasti pusing harus ulang lagi dari awal" ujar Dezan terdengar putus asa.

"Kata siapa?" Tanya ayah Rheyan dengan nada sedikit mengejek "Percaya sama ayah, perusahaan ini bakal jaya kalo di pegang sama kamu! Liat aja!"

🐣🐣🐣

Dua hari berlalu dan kini keadaan dunia per-bisnis an tidak baik baik saja. Munculnya berita Orlando Diandra yang melakukan kekerasan pada sang putra membuat semua pembisnis yang bekerjasama dengan perusahaan Orl'corp membatalkan kontraknya.

Dezan yang tidak tahu apa apa tentang perusahaan itu panik. Namun sekarang, Rheyan mencoba membuat Dezan tidak memikirkan hal itu.

"Kamu disini bisa memanfaatkan keadaan, Zan. Kan kamu korban, nah pasti ga sedikit dong yang merasa kasian sama kamu. Kalo orang perusahaan tau Orl'corp di ambil alih sama kamu, ayah yakin kamu bakal banjir dokumen di hari pertama ngurus perusahaan"

"Jadi, kamu tenang aja! Perusahaan ini ga akan hancur"

"Ayah janji ya bantuin Dezan buat ngurusin perusahaan" ujar Dezan entah yang ke berapa kali. 

"Iya janji" 

"Ayo makan duluuuu" teriak Denaz yang sedari tadi di dapur bersama bundanya. Dezan dan Rheyan pun melangkah ke dapur. Mereka duduk di samping istrinya masing masing. 

"Suapin" pinta Dezan.

"Ayah juga suapin bun" lantas ibunda Denaz memukul bahu suaminya "Udah tua jangan ngikut ngikut anak muda" lanjutnya. 

"Ayah juga kan mau mesra mesraan kaya dulu bun" bunda Diana tidak mendengarkan perkataan suaminya. Ia memilih untuk menyiapkan nasi dan lauk untuk sang suami begitupun dengan Denaz. 

meong

Suara itu membuat fokus mereka teralihkan. Dezan menunduk melihat hewan berbulu yang berada di samping kakinya. "Zandel mau makan?" Tanya Dezan seraya mengambil hewan itu.

"Kasih makan dulu, nanti ganggu kita makan bahaya" titah Denaz. Dezan pun menurut.  Ia membawa Zandel ke sudut daput di mana kandang kucing disimpan. Dezan memasukan Zandel ke kandang kecil itu lalu menuangkan makanannya ke tempat kecil yang sudah di sediakan. 

"Cuci tangan!" Titah Denaz. Dezan mencuci tangannya dengan sabun lalu kembali duduk di kursi makan. 

"Sebelum makan marilah kita berdo'a menurut kepercayaan masing masing. Berdo'a di mulai" ujar Dezan membuat Denaz terkekeh "Kaya mau mulai belajar di sekolah aja" ujarnya lalu ia pun membaca do'a sebelum makan di dalam hati. 

"Berdo'a selesai" ujar Dezan lagi. "Suapinnn!" Ucapnya tak sabar. Mereka pun makan dengan Dezan yang di suapi sang istri, lalu ayah serta bunda yang hanya menjadi nyamuk di antara ke mesraan anak muda itu. 

🐣🐣🐣

Jangan lupa vote sama komennya yaaa. Jangan lupa juga follow ig @/szkxwttpd dan akun rp lainnya yang udah di mention di bio ig di atas yaa.

Makasih semuanya, see youu👋🏻❤️

Spoiled Husband [NEW VERSION]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang