Di ruang keluarga, Denaz sedang berkutat di depan laptopnya. Ia mencari di mana letak file seluruh tugasnya saat ia tidak ber sekolah.
Denaz ingat. File itu ia simpan ke dalam flashdisk dan menyuruh Dezan menyimpannya.
"Dezan?" Panggilnya. Dezan yang sedang memberi makan Zandel di dapur pun bergegas menghampiri sang istri.
"Apa?" Tanya Dezan.
"Flashdisk tugas yang waktu itu aku suruh simpen mana? Tolong bawa kesini, aku mau kasih ke Bu Janu"
Dezan menaiki tangga menuju kamar. Ia membuka laci dimana ia menyimpan flashdisk itu.
Tangannya mengorek isi laci mencari dimana benda kecil itu berada. Karena tak kunjung mendapatkannya, ia mencari ke tempat lain seraya mengingat ingat lagi.
"Perasaan disimpen disini deh" gumamnya. Jantungnya berdetak kencang. Ia takut jika flashdisk itu hilang. Ia takut Denaz akan memarahinya.
"Ih kok ga ada?"
Nafasnya berhembus pelan bersamaan dengan tangannya yang terangkat. Menampilkan benda kecil yang ia cari. Tapi rasa lega itu tak berselang lama. Matanya melotot "Inimah bukan punya Denaz! Ini punya gue!" Ujarnya dan detak jantungnya kembali berpacu lebih cepat dari sebelumnya.
"DEZAN CEPETAN!" Teriakan itu semakin membuatnya takut. Dengan keberanian seujung kuku, ia menghampiri Denaz.
"Mana?" Pinta Denaz seraya mengadahkan tangan.
"Maaf, flashdisk nya ga ada" balas Dezan. Jangan berfikir bahwa Dezan menjawabnya dengan mudah. Ia berkata demikian sangat susah sehingga terbata-bata.
"Apa? Sekali lagi?"
"Denaz maaf"
"A-aku inget kalo nyimpennya di laci, ta-tapi pas di cari engga ada. Ada nya flashdisk tugas aku. Maaf"
Tanpa mengatakan apapun, Denaz pergi seraya membawa laptop miliknya. Ia menaiki tangga dan masuk ke kamar yang terletak di samping kamar miliknya.
Dezan mengejarnya. Ia mengetuk pintu itu berkali-kali karena di kunci dari dalam oleh Denaz. Sedangkan kunci cadangan, ia tak tahu Denaz menyimpannya di mana.
"Denaz buka dulu! Aku minta maaf"
"Denazz"
Pintu terbuka menampilkan Denaz dengan wajah datar.
"Kamu tau gak gimana jadinya kalo flashdisk itu beneran hilang? Aku ga bakal lulus! Aku ngerjain semua tugas itu selama berhari-hari sampe pusing, capek, telat makan, tidur gak teratur, jadinya sia sia. Ga berarti apa apa.
Bahkan kamu sendiri nyaksiin gimana aku begadang ngerjain tugas sambil nemenin kamu di rawat di rumah sakit. Sambil ngadepin kamu yang rewel karena punggungnya sakit.
Bahkan kamu juga ngerjain tugas yang sama dan pastinya kamu tau gimana rasanya ngerjain tugas tugas itu.
Oke aku tau aku salah karena ga nyalin tugas itu di hp aku dan malah ngasih flashdisk nya ke kamu. Aku ngerasa salah sekarang karena laptop aku yang itu ketumpahan air panas dan gak bisa di benerin. Aku salah karena ga nyalin lagi isi flashdisk ke MacBook yang baru. Aku yang salah, gausah nangis"
Dezan menggelengkan kepalanya. Ia menyodorkan tangannya yang terdapat flashdisk dengan tutup bergambar serigala.
Denaz mengangkat alisnya "Punyaku gambar harimau, bukan serigala kaya gini"
Lagi lagi Dezan menggeleng "Ini, kamu pake yang ini. Gapapa hiks aku gaperlu ngumpulin"
"Gausah gila!"
"Please hiks! Aku ceroboh hiks, maaf! Ambil tugas aku aja, kamu tinggal hiks revisi nantinya."
"Ga! Masih ada waktu buat nyari flashdisk aku. Flashdisk kamu, kamu simpen baik baik! Jangan sampe hilang, atau aku bakal pulang ke rumah ayah."
"huaaa Gaboleh pulang! hiks Gaboleh Denaz!"
"Awas ah!" Sentak Denaz karena Dezan memeluknya sangat sangat erat.
"Gamau hiks gaboleh!"
"Aku mau nyari flashdisk! Awas!" Mendengar nada bicara Denaz yang terus tinggi, Dezan sontak melepaskan pelukannya dan sedikit menjauhkan tubuhnya.
Tak ingin lebih mengamuk, Denaz masuk ke dalam kamar untuk mencari benda kecil itu. Sedangkan Dezan memilih turun ke bawah karena takut Denaz memarahinya habis habisan.
Dezan menyimpan flashdisk miliknya di samping televisi. Lalu ia mengambil remote dan menyalakan televisi dengan posisi tertidur di sofa.
Ia melirik jam yang menunjukkan angka 14.32. Masih lama menuju jam buka puasa. Akhirnya ia pun tertidur dengan sisa isakannya.
🐣🐣🐣
Denaz sudah berhasil menemukan flashdisk miliknya. Ternyata, benda itu berada di laci lemari, tidak di laci nakas.
Setelah menyalin file itu kedalam laptop khusus tugasnya, Denaz berniat menemui Dezan dan meminta maaf. Terlebih lagi, sudah jam 16.00 dan ini waktu yang pas untuk menyiapkan makanan untuk berbuka puasa nanti.
Denaz menuruni tangga. Di tangga terakhir, ia dapat melihat Dezan yang tertidur pulas dengan televisi menyala. Ia tersenyum melihat wajah damai yang Dezan tampilkan sekarang. Lama mengamatinya membuat ia merasa sangat bersalah karena sudah memarahi pria itu.
Ia membawa bantal serta gulin untuk Dezan. Setelah membenarkan posisi kepala Dezan dan memberinya bantal guling, ia mengecup kening Dezan.
"Maaf ya" bisiknya seraya mengelus pipi Dezan yang terlihat sedikit merah dan membengkak.
"I love you"
🐣🐣🐣
Denaz adalah aku, ketika udah ngamuk dan akhirnya aku juga yang minta maaf hahaha.
JANGAN LUPA VOTE, KOMEN, FOLLOW IG @/SZKXWTTPD JUGAA YAA.
YAUDAH KALO GITU, SEE YOU NEXT TIME Y'ALL
KAMU SEDANG MEMBACA
Spoiled Husband [NEW VERSION]
Romance[FOLLOW DULU BARU BACA!!] First story! ⚠️Kissing⚠️ ⚠️breastfeeding⚠️ Murni dari hasil pemikiran saya sendiri. Tidak ada unsur copas apapun. Jika ada kesamaan tokoh atau alur mohon di maklumi karena itu sama sekali tidak di dasari unsur kesengajaan. ...
![Spoiled Husband [NEW VERSION]](https://img.wattpad.com/cover/279675616-64-k843142.jpg)