PART 1

13.5K 448 21
                                        

Dezan Orlando Diandra, dan Denaz pranada. Dua remaja yang sudah melepas masa lajangnya.

Remaja yang saat kecil bersama dan dipisahkan oleh keadaan, tetapi kini takdir kembali mempersatukan mereka.

Dua remaja itu berada di dalam satu ruangan dengan perasaan canggung. Mereka sibuk berkutat dengan ponsel masing masing.

Meskipun hanya membalas pesan tak berguna dari teman temannya, mereka tetap mempertahankan ponsel yang ada di genggamannya masing masing.

Orang ganteng

Anda, Anaknya letnan...

Sumber dosa:

Penganten baruuuuuu
Hmmmm lagi ngapain yaa kira kira🌚

Ember bocor:

Kaya gatau aja lo udah tua juga

Anaknya letnan:

Otak lo pada
Gua yakin mereka lagi diem dieman
Buktinya si Dezan online

Orang China:

Kiw abang @anda

Anda:

Bacot bener nyet

Danis:

Waduu ada orang dewasa

Danil:

Dezan udah gede

Anda:

Bacot bacot
Bacot semua
Mau left bye

Jake:

Sana cepet dines
Gue dah punya dua, lu masa kaga mao

Anda:

Belom kerja
Anak gue mau lu kasih makan?

Marvell:

Molor bujang

Anda:

Nanti

Danis:

Sekarang!!!
Gue datengin rumah lu?

Anda:

BELOM NGANTUKKK
IHHHHH

Danis:

Yaudah jangan main hp
Ajak ngobrol istrinya jangan didiemin

Danil:

Baca!

Jake:

Hayo dimarahin

Anda:

Orang dnz nya jg main hp
G ask

Anda keluar

----

Baru saja akan mematikan ponselnya, Danis menelfon. Ia mengangkat panggilan itu.

"Apa?" Tanyanya tak santai.

"Buka pintunya, gue udah di bawah"

"Mau ngapain sih? Ribet"

"Cepetan buka pintunya"

Dezan mematikan panggilan itu sepihak. Ia menoleh pada Denaz yang masih anteng bermain ponsel.

"Di bawah ada Danis, bukain pintunya bilangin gue mau tidur"

Denaz menyimpan ponselnya lalu melaksanakan apa yang di perintahkan 'suaminya.

Dezan menutupi tubuhnya dengan selimut. Bahkan sehelai rambut pun sana sekali tidak terlihat.

Di bawah sana, Denaz membuka pintu dan sedikit terkejut dengan kedatangan 4 pria yang ia ketahui adalah teman dekat 'suaminya.

"Eh, Denaz. Si Dezannya mana?"

"Tadi katanya mau tidur. Masuk dulu, biar nanti gue panggilin"

Danis dan Danil bertatapan. Sedangkan Razqi dan Bimo sudah masuk ke dalam rumah besar milik Dezan.

"Gue aja yang panggilin, gapapa kan?" Tanya Danis.

"Oh, yaudah ke atas aja" Danis menaiki tangga sedangkan Denaz melangkahkan kakinya ke dapur untuk mengambil makanan serta minuman.

Danis masuk kedalam kamar Dezan yang kebetulan tidak di tutup. Ia duduk di tepi kasur lalu mengelus kepala Dezan.

"Zan"

Dezan menepis tangan Danis dari dalam selimut. "Sana" titah Dezan ketus dengan posisi yang sama.

"Zan, bangun dulu" Dezan tak bergeming sama sekali. Danis panik, Dezan terisak di dalam sana. Ia membuka paksa selimut yang menutupi tubuh Dezan.

Terlihatlah Dezan dengan wajah yang basah. Dezan memukul tangan Danis kuat lalu mendorong Danis agar menjauh.

"Sana hiks pergi!"

"Kenapa malah nangis? Kenapa marah marah?" Tanya Danis lembut.

"Lo juga marah! Padahal hiks gue cuma main hp! Denaz juga main hp hiks masa gue diem aja"

"Gue ga marah, ya Allah..."

"Ga nanya" balas Dezan ketus.

Dezan berdiri seraya memegang selimut yang membungkus tubuhnya. Ia berjalan keluar kamar dan Danis mengikutinya.

Dezan menuruni tangga dan duduk di samping Bimo dengan selimut yang menutupi setengah wajahnya yang hanya menyisakan mata, kening dan rambut.

Bimo melalukan eye contact dengan Danis yang di balas helaan nafas oleh pria yang lebih tua satu tahun darinya itu.

"Sini Zan" titah Danil seraya menepuk kursi di sebelahnya. Dezan tidak membalas. Pria itu menelungkup kan kepalanya di atas lutut. Razqi mengelus punggung Dezan lalu menepuknya pelan.

"Mami" ujar Dezan serak. Danil, Danis dan Bimo berpandangan dengan mata melotot. Siaga satu, teman teman.

"Zan--"

"Mami huaaa"

"Mami hikshiks mau mami"

"hiks mau ke mami, mau pulang" adu Dezan pada Razqi.

"Ya jangan dong, masa Denaz sendirian disini?" Balas Razqi bertanya.

"Kenapa?" Tanya Denaz yang datang dengan minuman serta Chiki di tangannya.

"Nangis Naz, coba lo tenangin dulu" titah Danil.

Denaz duduk di samping Dezan. Sementara Bimo pindah menjadi duduk di samping Danil.

Tanpa aba aba, Denaz menarik Dezan kedalam pelukannya. Mengelus kepala Dezan yang sudah tak tertutup selimut.

"Ssttt jangan nangis" Dezan melingkarkan tangannya di pinggang sang 'istri. Perlahan Dezan mulai tenang.

"Mau pulang" ujarnya pelan.

"Kenapa mau pulang?" Tanya Denaz.

"Mau bilang ke mami, Danis sama Danil galak. Biar mereka di marahin mami!" Ujarnya membuat Denaz gemas.

Berbeda dengan empat pria yang ada di sana. Mereka panik. Karena jika sudah menyangkut mami, Dezan pasti sulit.

"Mau susu"

🐣🐣🐣

Mari rasakan perubahannya😇

Masi chapter pertama loh Dezan Orlando..

🤗🤗🤗

Papaayyyy🦶

Spoiled Husband [NEW VERSION]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang