Part 38

4.5K 182 2
                                        

Dezan menyimpan kemeja dan jas kerjanya di keranjang baju kotor. Lalu ia membuka gesper dan menyimpannya di gantungan gesper. Setelahnya ia masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri.

Denaz yang baru masuk ke dalam kamar pun terheran dengan keadaan kamarnya yang rapih tanpa pakaian yang berserakan seperti biasanya.

Ia pun memilih acuh dan membuka lemari untuk menyiapkan baju Dezan. Ia membawa baju putih dan celana setengah paha untuk di pakai Dezan nanti.

Setelah selesai, ia membuka tas yang ia bawa lalu mengeluarkan dot dan susu bubuk. Ia menyeduh susu terlebih dahulu sebelum pergi memasak. Takut jika Dezan akan menangis dan membuatnya naik turun tangga.

Denaz pun pergi setelah menyimpan botol dot tadi di dekat baju Dezan. Beberapa saat kemudian, Dezan keluar dengan boxer berwarna hitam. Ia memakai bajunya yang tersimpan di sofa lalu membawa dirinya untuk berbaring tanpa menyentuh dot sama sekali.

Ia tidak ingin melakukan apapun bahkan sekedar mengeluarkan sepatah dua patah kata. Ia hanya ingin berdiam diri tanpa ada yang mengganggunya.

Ada sesuatu yang membuat dirinya seperti sekarang. Ia tidak ingin melampiaskan kemarahannya hingga membuat orang lain lelah. Ia harus melampiaskannya dengan tidur dalam waktu panjang.

Lama ia memejamkan mata, namun perasaan kantuk itu tak kunjung datang dan membuatnya pegal. Ia pun duduk dan bersandar pada kepala ranjang. Tak ada kegiatan apapun yang ia lakukan. Ia hanya melamun, berkutat dan beradu argumen dengan isi pikirannya sendiri.

Sehingga pintu yang terbuka memecahkan lamunannya. Denaz menghampirinya "Makan dulu yuk" ajak Denaz seraya mengelus rahang Dezan.

Dezan tidak menolak. Mereka pun segera melahap makanan yang sudah Denaz siapkan. Enak. Sangat enak. Lidah Dezan merasa nyaman dengan rasa dari makanan itu. Namun matanya tidak bisa memberikan sorot apapun. Hanya tatapan kosong yang terpancar dari mata indah itu.

Denaz sedari tadi menyadari keterdiaman Dezan. Ia memberanikan diri untuk bertanya "Kenapa? Ga enak ya?"

Dezan menoleh "Enak" balasnya.

"Kok diem mulu? Mau di suapin?" Dezan menggeleng lalu melanjutkan melahap nasi yang ada di hadapannya. Denaz memilih abai sekarang. Biarlah Dezan makan terlebih dahulu. Setelah itu, ia akan bertanya apa yang mengganggu pikirannya.

Dezan selesai terlebih dulu. Ia bangkit dan mencuci piring bekasnya sendiri. Setelahnya, ia kembali masuk ke dalam kamar. Ia duduk di kursi kerjanya dan membuka ponselnya yang sudah lana tidak ia sentuh.

Tangannya yang hendak membuka pin terurung. Ia membaca notifikasi yang muncul di layar kunci. Tangannya meremas ponsel itu. Karena tak tahan, ponsel mahal milik Dezan terbanting dan memantul hingga ponsel itu benar benar diam di depan pintu.

Dezan mengacak rambutnya frustasi. Denaz yang baru saja membuka pintu terkejut melihat ponsel Dezan tergeletak. Ia memungutnya lalu menghampiri Dezan yang menunduk dengan tangan yang memegangi kedua sisi pelipis.

Ia mengusap bahu kokoh pria itu "Kenapa?" Dezan tidak menjawab membuat Denaz yang penasaran itu membuka ponsel yang tadi tergeletak tak berdaya.

Ia paham sekarang. Ia mengangkat kepala Dezan dan mengarahkan wajah Dezan agar berhadapan dengan wajahnya.

"Mau kesana?" Dezan memalingkan wajahnya.

"Ayo, aku temenin. Biar kamu ngomong langsung, ga di pendem terus terusan kaya gini"

"Gamau"

"Yaudah kalo gamau, tapi gimana kalo kamu ga ngomong? Mami bakal terus terusan panggil kamu abang, karena mami pasti mikir kalo kamu oke oke aja mami panggil abang."

Spoiled Husband [NEW VERSION]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang