Bomb Controller

1.3K 20 0
                                        

Street 06:49 pm.

"Tuan, Basecamp kita kembali diserang

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

"Tuan, Basecamp kita kembali diserang."

Mendengar sebuah penuturan yang seperti itu membuat Arsenka memutar bola matanya malas. "Bisa tidak kalian memberikan sebuah kabar yang baik untukku?" Arsenka merasa begitu kesal saat mendapatkan kabar seperti ini, padahal dirinya tengah dalam keadaan yang lelah.

Arsenka baru pulang dari Rumah Sakit melihat kondisi Ibunya, terlebih sebelum ia mengunjungi Ibunya ia sudah melakukan banyak pertemuan dengan klient besar untuk membahas sebuah kerja sama serta rencana baru dalam kerja sama yang tengah mereka jalin.

Orang itu tahu kalau diri Arsenka memang sedang tidak seperti biasanya. "Mohon maaf Tuan, bahkan ada kabar buruk lainnya yang belum saya sampaikan." Orang itu tidak bisa menyembunyikan satu kabar yang tidak bisa dikategorikan sebagai kabar baik.

Arsenka menyisir rambunya acak yang menunjukkan seberapa frustrasinya dia sekarang. "Katakan!" Meskipun dirinya tengah lelah dan tidak ingin mendengar sebuah kabar yang buruk, tapi dirinya juga harus tetap mengetahui kabar ini.

"Di tengah perjalanan ada sekelompok orang yang sepertinya berasal dari kelompok berbeda menyerang Bos— Kalimat orang itu dengan seketika terhenti sebab Arsenka yang langsung bertanya, "Maksudnya Ayahku?" Ia bertanya seperti ini sebab ia bingung dengan banyak orang yang sering memanggil Bos selain kepada Ayahnya, tapi untuk kaali ini ia lebih punya pikiran ke arah sana.

"Iya."

Ah, kenapa pria itu tidak bisa menjaga dirinya?

Arsenka begitu bertanya-tanya kenapa Ayahnya tidak bisa menjaga dirinya, padahal ia mampu memimpin sebuah kelompok besar dan melindungi beberapa aliansi yang berada di bawah naungan The Pinthes. Sebenarnya hal ini cukup relevan, tapi saat ia mempunyai pemikiran yang sedang tidak baik, maka hal seperti ini menjadi Arsenka pertanyakan.

"Mr. Robert sekarang tengah dialihkan dan mendapatkan sebuah penangan terlebih dahulu. Orang yang memimpin penyerangan dari pihak The Pinthes adalah Mr. William dan Mr. Levin. Jadi, apa yang ha—

Lagi-lagi kalimat orang itu terhenti sebab Arsenka yang langsung berbicara, "Kalau diriku tidak datang, tetap lanjutkan." Arsenka tidak yakin kalau dirinya ingin ke sana.

Ada sesuatu hal yang ingin dia cari terlebih dahulu dan ia rasa hal ini jauh lebih penting dibandingkan dengan ikut mengurusi penyerangan itu. Alasan lainnya, karena sudah ada kedua pamannya.

*****

Calistefy Hosfital 07:27 pm.

Beberapa orang pria yang berdiri di depan sebuah pintu Ruangan membungkukkan tubuhnya dan juga menundukkan kepalanya memberikan sebuah penghormatan saat orang yang mereka hormati tengah melangkahkan kakinya menuju ke arahnya

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Beberapa orang pria yang berdiri di depan sebuah pintu Ruangan membungkukkan tubuhnya dan juga menundukkan kepalanya memberikan sebuah penghormatan saat orang yang mereka hormati tengah melangkahkan kakinya menuju ke arahnya. "Tuan, Ayah Tuan ada di da—

Hari ini Arsenka menjadi suka memotong kalimat orang lain. "Saya tahu." Arsenka langsung berjalan masuk dengan lantah yang cukup teratur.

Tujuan dari langkah kaki Arsenka sekarang adalah menuju ke arah di mana Ayahnya berada. Sampai di depan Ayahnya, Arsenka menatap Ayahnya dengan tatapan yang datar sehingga membuat orang yang ia tatap mengernyitkan keningnya.

"Kenapa kamu menatap Ayah dengan tatapan yang seperti itu?" tanya Robert dengan nada yang cukup serius, pasalnya Asenka menatap dia dengan tatapan yang begitu serius.

"Ayah, anakmu tak punya waktu banyak jika harus merawat kedua orang tuanya yang terbaring di Rumah Sakit." Arsenka bercibir dengan cukup santai disertai dengan sebuah senyuman yang begitu lebar, ia tidak serius dengan kalimatnya. Arsenka seperti ini sebab ia ingin mengecimus Ayahnya yang sekarang sedang terluka.

 Arsenka seperti ini sebab ia ingin mengecimus Ayahnya yang sekarang sedang terluka

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Robert menatap anaknya dengan tatapan yang cukup serius. "Katakan apa maumu sekarang, dibanding dengan mencemooh Ayahmu." Robert seolah tahu ada sebuah maksud di balik kalimat yang sudah anaknya ucapkan. Ia sudah paham betul bagaimana karakter anakny.

"Jelaskan dengan singkat kejadian yang membuat Ayah seperti ini." Arsenka ingin tahu tentang hal ini lebih jauh, karena ia tidak ingin langsung bertindak sebelum mendapatkan sebuah penjelasan yang cukup.

Robert melemparkan tatapan pada asistennya. "Jadi seperti ini kejadiannya Tuan, awalnya kami berniat untuk ke Basecamp melihat penyerangan itu, tapi di tengah jalan ada sebuah bom yang meledak tepat saat mobil yang Ayah Tuan tunggangi lewat. Sebelum bisa keluar dari dalam mobil sudah banyak tembakan yang dilayangkan, seperti itu Tuan."

"Bom? Tepat? Bom waktu?" Arsenka mengira-ngira dengan cukup mendalam. "Pengendali bom waktu La Scietto bukannya Lansonia?" tanya Arsenka.

Ia begitu ingat siapa orang yang menjadi pengendali bom waktu di dalam kelompok La Scietto sebab ini merupakan salah satu alasan yang membuat dirinya menikah dengan Lansonia, sebab ia ingin The Pinthes mempunyai seorang pengendali bom waktu yang handal.

"Bisa saja seperti itu Tuan, sebab saat tadi juga ada wanita yang terlibat saat baku tembak tersebut sebelum akhirnya orang itu melarikan diri."

Apa yang dijelaskan oleh orang ini adalah sebuah kenyataan yang sudah terjadi di mana dirinya masih mengingat dengan jelas kejadian tadi. Ia tidak begitu terluka sebab orang yang menjadi sasaran dari banyak peluru, bahkan bom waktu adalah Tuannya.

Robert menggelengkan kepalanya setelah ia teringat akan sesuatu. "Bukan. Untuk kali ini orang yang mengendalikan bom tersebut sepertinya bukan Istrimu. Ayah sebelumnya menyuruh Istrimu untuk meretas keamanan di Bank milik Gevody, kelompok yang bekerja dalam bidang penjualan kupu-kupu malam."

Robert yakin kalau Lansonia tidak mempunyai keberanian lebih untuk kabur dan lebih memilih untuk menjadi orang yang mengendalikan bom waktu tadi.

Arsenka malah mengernyit bingung. "Kalau bukan dia, siapa orang yang cukup handal dalam mengendalikan bom waktu?" Mendengar kalau bom itu meledak tepat saat mobil Ayahnya melintas, membuat sang pengendali bom tersebut ketahuan kalau ia orang yang cukup handal.

Robert tersenyum miring saat ia ingat siapa orang yang mampu mengendalikan bom waktu dengan cukup baik, selain dari Lansonia. "Orang yang melakukan semua ini sama dengan orang yang sudah membuat Ibumu tidak sadarkan diri sampai sekarang." Mendengar hal ini membuat emosi Arsenka kembali muncul.

"Kamu mau ke mana?!" Robert bertanya setengah berteriak saat anaknya dengan begitu saja melangkahkan kaki untuk keluar dari Ruangan ini.

"Aku sudah tidak mempunyai kesabaran yang cukup. Wanita itu sudah membuat my Mom terbaring tidak sadarkan diri, sekarang dia membuat Ayah seperti ini. Nyawa dia harus menjadi balasannya," beber Arsenka yang dipenuhi oleh amarah yang begitu menggebu.

"Jangan sampai kamu menjadi korban dia selanjutnya." Robert begitu tidak ingin kalau hal ini sampai terjadi, anaknya adalah satu-satunya orang yang tidak boleh terluka sekarang, sebab semuanya akan menajdi berantakan kalau ada sesuatu petaka yang terjadi pada anaknya. "Tapi, apa yang ingin kamu perbuat?"












Sebenarnya siapa yang susah mengendalikan bom waktu itu?

Siapa yang sudah membuat Zenna dan Robert seperti ini?

Apa mungkin ...?

LOVE IS DANGEROUS : DEBILITATINGTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang