Extra Chapter I

1.5K 20 0
                                        

2 Bulan kemudian, tepatnya tanggal 11.

Melihat Arsenka yang berpenampilan rapi kemudian menatapnya dengan tatapan yang begitu dingin serta menusuk membuat Lansonia mengerti apa maksud dari semua itu.

"Aku akan memenuhi apa yang aku ucapkan. Aku rela mati ditanganmu hari ini, tapi ada sesuatu permintaan untukmu yang aku harap bisa dikabulkan." Tidak lama dari itu, Lansonia melangkahkan kakinya.

Lansonia langsung berlutut tepat di hadapan Arsenka, yang mungkin hanya berjarak 17 cm, dari sepatu milik Arsenka. Lansonia menghiraukan harga dirinya, di hadapan suaminya.

"Aku mohon ... jangan paksa aku ke sana, apalagi diseret paksa oleh body guard-mu. Aku lebih rela kalau kau yang menyeretku, karena aku tidak ingin ada laki-laki lain yang menyentuhku ... selain Suamiku."

Manik Lansonia berkaca-kaca. "Kamu tidak perlu mencurigai diriku yang akan kabur dari hukumanmu, karena aku sama sekali tidak berniat untuk menghianati Suamiku." Nada bicaranya benar-benar rendah.

"Pasangkan saja borgol serta rantai sesukamu pada diriku, termasuk jika kamu ingin merantai leherku, aku ikhlas asal kau yang melakukannya." Perlahan Lansonia menaikkan pandangannya, menatap wajah datar Suaminya.

Dengan begitu dalam, Lansonia menghirup udara yang terasa jauh dari kesegaran. Lansonia menjatuhkan kedua telapak tangannya yang tak lama kemudian diikuti oleh kepalanya yang menunduk.

Harga diri sudah jauh dari pikiran Lansonia, dia mencium kaki Arsenka yang sudah terbalut oleh sepatu kulitnya. Arsenka merasakan kalau kepala Lansonia menyentuh kakinya, tapi Arsenka sama sekali tidak ada niat untuk melarang orang yang padahal berstatus sebagia Istrinya untuk melakukan itu.

"Aku, Lansonia Alodi ... Armens. Memohon maaf kepadamu, Tuan Arsenka Diego Sacalorskaf, atas semua kesalahan yang sudah aku lakukan selama aku hidup."

Kalimat itu terucap dengan begitu serius tanpa menaikkan pandangannya yang dalam artian Lansonia masih bersujud tepat di kaki Arsenka. Permohonan maaf itu terucap tulus dari dasar hatinya.

"Akan kumaafkan setelah aku membunuhmu." Kalimat singkat yang keluar dengan nada dingin setelah sedari tadi Arsenka tidak membuka mulutnya berhasil membuat tubuh Lansonia melemas bersamaan dengan bulu tubuhnya yang berdiri.

Setelah mendengar jawaban dari Suaminya, Lansonia bangkit dari posisi bersujudnya yang kemudian menganggukkan kepalanya. Sudah tidak mungkin jika Arsenka akan memaafkannya secara percuma.

Lansonia kemudian berdiri, dia berbalik badan dengan kedua tangan yang secara tulus dia biarkan di belakang, agar memudahkan Arsenka memasangkan borgol ke tangannya.

Tidak memikirkan siapa perempuan tersebut, Arsenka memasangkan borgol itu di kedua tangan Lansonia, bahkan dia benar-benar menuruti apa yang sudah Lansonia ucapkan, dia memasangkan rantai di lehar Lansonia.

Tidak terlalu ketat, tapi hal ini cukup membuat hati Lansonia terluka, pasalnya dia diperlakukan seperti tahanan yang mempunyai sebuah kesalahan begitu besar oleh orang yang berstatus sebagai Suaminya. Hal ini terasa jauh lebih menyakiti hati serta mentalnya.

Arsenka mendorong Lansonia untuk berjalan dan dengan begitu nurut, Lansonia melangkahkan kaki dengan tangan Arsenka yang memegangi bahu Lansonia, keluar dari kamar ini dengan perasaan yang bercapur aduk.

Sakit, sesak, semuanya memenuhi perasaan hati Lansonia. Dia benar-benar sudah tidak ada harga dirinya di hadapan Suaminya dan sekarang dia tengah berusaha membuat dirinya rela 100% untuk menerima semua yang akan Suaminya lakukan.

Melihat ada orang yang berstatus sebagai Ayah mertuanya, membuat Lansonia menghentikan langkah kakinya. Lansonia menatap sopan Ayah mertuanya sejenak, seolah ada hal yang ingin dia sampaikan.

Lansonia melirik ke arah Arsenka, memberikan tanda bahwa dia ingin berbicara terlebih dahulu. "Ayah, aku mau minta maaf untuk semuanya." Kalimat itu diiringi dengan senyuman Lansonia.

Melihat bagaimana Anaknya memperlakukan Lansonia, membuat Robert terdiam sejenak, terlebih melihat rantai besi yang melingkar di leher mulus Lansonia, membuat Robert mempunyai pikiran kalau Anaknya benar-benar kejam—melebihi dirinya.

Pada akhirnya Robert menganggukkan kepalanya. "Iya," jawab Robert dengan begitu singkat. Tidak ada yang ingin dia bicarakan, terlebih disamping Lansonia ada Anaknya yang tengah berdiri dengan tatapan yang datar.

"Aku permisi Yah," pamit Lansonia sopan sambil menundukkan kepalanya yang kemudian kembali melangkahkan kaki yang diikuti oleh langkah kaki Suaminya.

Di Rumah ini kebetulan sedang tidak ada Keyli juga Jarnovak, karena mereka sedang pergi berlibur. Arsenka tidak ingin kalau Adiknya mengetahui apa yang dia lakukan, karena dia tahu kalau Adiknya begitu menyayangi Lansonia seperti menyayangi Kakaknya sendiri.

Langkah kaki Lansonia terhenti dan ternyata Arsenka membawa dirinya ke Ruang tahanan, Ruangan yang pernah beberapa kali dia tempati dan menjadi Ruangan di mana Arsenka menghukum dirinya.

Arsenka melepaskan borgol besi tersebut dan kemudian memasukan pergelangan tangan Lansonia kepada borgol besi yang terpisah, membuat Lansonia berdiri dengan tangannya yang tertahan oleh rantai besi tersebut.

Tidak semudah itu ternyata untuk menyetabilkan perasaannya, karena saat datang ke Tempat ini, terlebih diborgol seperti sekarang di Ruang tahanan membuat sebuah rasa takut yang begitu besar menyelimuti diri Lansonia.

Bret!

"Arh!" erang Lansonia saat Arsenka baru saja mencambukkan rantai besi itu kepada kakinya. Lansonia refleks berteriak kesakitan bercampur dengan rasa kaget.

Melihat Arsenka yang mengubah tatapannya menjadi tajam, membuat Lansonia menundukkan pandangannya. "Maaf ... aku tidak sengaja menyakiti telingamu." Lansonia kemudian menundukkan pandangannya.

Plek!

Bret

Bltk!

3 cambukkan Arsenka layangkan yang masih mengincar kaki Lansonia, ternyata Arsenka tidak berniat untuk membunuh Lansonia secara langsung, tapi dia berniat untuk menyakitinya sampai akhirnya dia mati secara perlahan.

Semula Lansonia mempunyai pikiran kalau Arsenka akan langsung menembak dada atau kepalanya, tapi ternyata tidak. Menyakiti sampai mati jauh lebih memuaskan, dibandingkan dengan langsung membuatnya mati.

Selama Arsenka mencambuknya, Lansonia sekuat mungkin menahan suaranya agar dia tidak berteriak. Lansonia mengukirkan senyumannya saat melihat wajah Suaminya yang sekarang tengah menyiksa dirinya.

Lansonia tersenyum bukan sebab dia suka dengan apa yang Suaminya lakukan, melainkan pada akhirnya dia mencapai titik di mana sebentar lagi dia akan dimaafkan oleh Arsenka yang berstatus sebagai Suaminya.

Benar-benar begitu tulus cinta Lansonia pada Arsenka, sehingga hal sesakit ini saja dia abaikan, asalkan Arsenka mau memaafkan dirinya dan tidak lagi mempunyai dendam padanya. Namun, kenapa Arsenka tidak bisa mencintainya?

Melihat sebuah ketulusan dalam manik indah Lansonia, membuat Arsenka melepaskan dasi miliknya yang akan dia gunakan sebagai penutup mata Lansonia, dengan penuh keikhlasan, Lansonia memejamkan matanya saat Arsenka hendak menutup matanya.

"Aku sangat mencintaimu," ucap lembut Lansonia tepat di samping telinga Arsenka saat Arsenka mengikatkan dasinya sebagai penutup mata Lansonia.

Bret!

Bret!

Bltk!

Cambukan demi cambukan Arsenka lakukan tanpa belas kasihan. Arsenka begitu tidak memikirkan siapa yang ada di hadapannya serta pengorbanan apa yang sudah Lansonia lakukan untuknya, karena yang ada dalam benak Arsenka ada sebuah dendam yang memuncak.

Lansonia terdiam sambil memikirkan sesuatu yang begitu dia rasakan. Dengan begitu serius Lansonia merasakan rasa sakit dari efek cambukan Arsenka dari awal sampai akhirnya dia mengetahui pola cambukan Arsenka.

"Kumohon jangan cambuk perutku!"

Plek!

Sedari tadi Arsenka mencambuknya, tapi Lansonia tidak sampai berteriak seperti ini, bahkan dia merasa kalau dia sudah mencambuk Lansonia lebih kencang dari ini, tapi kenapa Lansonia baru berteriak sekarang?

"Kenapa?" tanya Arsenka dingin.

LOVE IS DANGEROUS : DEBILITATINGTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang