"Kenapa kau ingin Lansonia, akan kau apakan dia?"
"Akan kunikahkan dia dengan anakku."
"Aku tidak akan sudi kalau anakku harus menikah dengan anak dari bajingan sepertimu!"
~~~~
Arsenka memperhatikan perempuan yang sudah resmi menjadi istrinya den...
“Nanti siap-siap,” ucap Arsenka dengan nada bicara yang begitu datar.
Saat tahu kalau Arsenka menyuruhnya untuk bersiap-siap dengan seketika membuat Lansonia mengernyit dan kemudian teringat akan kejadian waktu itu. “Ke mana?” Lansonia bingung ke mana akan pergi nantinya, karena ia mengira kalau saat Arsenka menyuruhnya untuk bersiap-siap maka nanti akan pergi. “Perebutan tender lagi?” lanjut tanya Lansonia dengan nada bicara yang sedikit naik sebab merasa kesal.
Arsenka melirik ke arah Lanosnia dan menatapnya sejenak. “Kalau iya?” Arsenka ingin tahu bagaimana respons Lansonia kalau memang sekarang akan ada perebutan tender lagi.
Bibir Lansonia terdiam bungkam dan kemudian kepalanya menggeleng pelan. “Gak papa sih, cuma kenapa harus kayak gini sih?” Lansonia merasa bingung kenapa saat ada perebutan tender dirinya baru diajak, sementara kalau urusan biasa dirinya tidak pernah diizinkan untuk ikut campur. “Kasian tahu sama dia,” lanjut Lansonia dengan penuh kejujuran. Lansonia merasa tidak enak akan hal itu.
“Kasihan, karena dia mantan?” Sebuah senyuman miring mengiringi kalimat tanya yang baru saja Arsenka lontarkan, ia sengaja menyudutkan Lansonia di sini.
Lansonia terdiam bingung, apa yang baru saja Arsenka tanyakan memang benar, tapi kalau dirinya menjawab iya dari pertanyaan yang sudah Arsenka ucapkan, dirinya juga tidak enak akan hal itu. Mau bagaimana pun ia harus bisa menempatkan diri kalau sekarang dirinya sudah berstatus sebagai istri dari Arsenka, ia menatap Arsenka sejenak.
“Tidak. Kita akan ke Italia,” sambung Arsenka.
Kedua bola mata Lansonia membulat besar sebab ia merasa kaget mendengar kalimat Arsenka yang menyatakan kalau sekarang mereka akan pergi ke Italia. “Are you serious?” tanya Lansonia. Sampai saat ini ia masih membelalakkan matanya tidak menyangka.
Arsenka hanya menganggukkan kepalanya dan kemudian melangkahkan kakinya untuk berjalan keluar, sebelum Arsenka berhasil keluar tangannya ditarik oleh Lansonia. Lansonia memang berniat untuk menahan Arsenka sebab ada sesuatu hal yang ingin dia tanyakan sekarang dan hal ini ada hubungannya dengan keberangkatan mereka ke Italia.
“Kenapa mendadak, ada apa di sana? Kau ada bisnis di sana?” Lansonia merasa tanda tanya akan hal ini, ia merasa tidak yakin kalau tujuan dari keberangkatan mereka adalah untuk pergi liburan. Tidak ada sedikit pun terlintas dalam benak Lansonia kalau Arsenka mengajaknya untuk liburan.
Arsenka mengukirkan senyumannya. “Bersenang-senang.” Cara Arsenka berbicara begitu enteng membuat Lansonia semakin tidak mengerti dengan semua ini, ia semakin curiga dengan Arsenka. Sebenarnya ada apa ini? Apa rencana yang Arsenka miliki dibalik dirinya mengajak Lansonia untuk pergi ke Italia secara mendadak?
*****
09:43 am, Los Angeles.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Sebuah pesawat yang bertuliskan Arsenka Diego Sacalorskafmendarat di Bandara yang tak jauh dari Mansion Sacalorskaf. Ini kali kedua Lansonia melihat nama lengkap Arsenka setelah kali pertamanya saat di acara pernikahan mereka, selama ini dia lebih sering mengetahui kalau suaminya bernama Arsenka Sacalorskaf, tanpa ada kata Diego di sana.
Melihat nama Arsenka membuat Lansonia teringat akan sesuatu hal, ia menjadi memikirkan hal itu dengan cukup serius. Satu lembar foto yang sudah dia temukan menjadi satu-satunya hal yang mendadak ia ingat sekarang, tapi dirinya sendiri tidak tahu kenapa dirinya menjadi teringat akan foto itu.
Tidak terlalu lama memikirkan itu, Lansonia tersadarkan oleh orang yang sudah mengingatkannya untuk berjalan masuk ke pesawat pribadi milik Arsenka. Tidak ingin ada sebuah kecurigaan timbul dari Arsenka, akhirnya ia melangkahkan kakinya mengikuti langkah kaki Arsenka.
01:13 pm, Sky.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Lansonia melirik ke arah di mana suaminya berada. Sekarang mereka sudah terbang lebih dari 5 jam. Saat memandangi langit yang terlihat dari jendela, membuat Lansonia kembali memikirkan apakah ada sesuatu hal yang menjadi tujuannya ke sini atau tidak. “Sebenarnya apa rencanamu mengajakku ke Italia?” tanya Lansonia.
“Liburan.” Dengan begitu enteng Arsenka menjawab, tapi masih tetap meninggalkan sebuah kesan tidak percaya dalam diri Lansonia. “Menikmati kemenangan di atas kekalahan tunanganmu. Eh—mantan.” Seringai Arsenka tercipta dengan begitu jelas yang membuat Lansonia menelan ludahnya kasar.
*****
Milan.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
“Kalau kau masih mengantuk, lanjutkan.” Arsenka melihat kalau sedari tadi Lansonia tengah menahan kantuknya. Kali ini Arsenka tengah baik, ada apa?
Lansonia memperhatikan Arsenka sejenak. “Kalau aku tidur di mobil seperti ini, nanti leherku sakit.” Tidak ingin jika nantinya ia kesulitan untuk beraktifitas, karena ia merasakan sakit pada lehernya sehingga ia sedari tadi menahan rasa kantuknya.
Arsenka mengangkat kedua bahunya dengan begitu acuh. “Terserah.” Tidak ada sebuah solusi yang keluar dari mulut Arsenka, ia semula sudah menyarankan Lansonia untuk tidur. Sekarang Lansonia menolaknya karena tidak ingin lehernya sakit, maka ya biarkan saja. Tidak ada sebuah inisiatip dari Arsenka untuk menawarkan bahunya sebagai bantalan untuk Lansonia tidur.
07:31 am.
“Ngapain kau bersandar di ba— Tidak sempat melanjutkan kalimatnya, Arsenka sudah melihat Lansonia yang tertidur dengan begitu pulas. Ia memperhatikan raut wajah istrinya dengan begitu teliti, ia memperhatikan bibir peach milik Lansonia yang terlihat indah, face skin Lansonia yang terlihat begitu mulus.
Wajahmu indah, tapi tidak dengan masa lalumu.
Dengan perlahan tangan Arsenka membetulkan posisi tidur Lansonia, ia sekarang tidak ada sebuah niat untuk membangunkan Lansonia. Sepanjang perjalanan ia membiarkan bahunya menjadi tempat sandaran untuk Lansonia tidur, bahkan saat Lansonia mulai terbangun karena mobil melaju dengan kecepatan yang tidak stabil, Arsenka mengelus puncak kepalanya dan membuat Lansonia kembali tertidur pulas.
Arsenka begitu lembut sekarang, kenapa pada biasanya Arsenka tidak demikian?