Cambukan demi cambukan Arsenka lakukan tanpa belas kasihan. Arsenka begitu tidak memikirkan siapa yang ada di hadapannya serta pengorbanan apa yang sudah Lansonia lakukan untuknya, karena yang ada dalam benak Arsenka ada sebuah dendam yang memuncak.
Lansonia terdiam sambil memikirkan sesuatu yang begitu dia rasakan. Dengan begitu serius Lansonia merasakan rasa sakit dari efek cambukan Arsenka dari awal sampai akhirnya dia mengetahui pola cambukan Arsenka.
"Kumohon jangan cambuk perutku!" teriak Lansonia saat menyadari kalau Arsenka mencambuknya dari bawah dan berjalan naik.
Plek!
Kalimat Lansonia bersamaan dengan cambukan tersebut yang tepat mengenai perutnya, sehingga larangan yang yang sudah teriakkan tidak ada gunakan. Rasa sakit begitu dia rasakan sekarang.
UO!
Lansonia dengan seketika muntah bersamaan dengan caira kental berwarna merah keluar dari mulutnya. "Arh! Erhh—hh! Arhh!" erang Lansonia dengan begitu kencang.
Sedari tadi Arsenka mencambuknya, tapi Lansonia tidak sampai berteriak seperti ini, bahkan dia merasa kalau dia sudah mencambuk Lansonia lebih kencang dari ini, tapi kenapa Lansonia baru berteriak sekarang?
"Kau boleh mencambukku di mana saja sesuka hatimu, bahkan jika kau ingin mencambukan rantai itu di mukaku, tapi ku mohon ... jangan di perutku ..." pinta Lansonia dengan nada bicara yang begitu lirih.
Alis Arsenka naik. "Kenapa?" tanya Arsenka dingin. Ada sebuah rasa penasaran dalam diri Arsenka setelah dia mendengar Lansonia yang memohon dengan nada bicara yang begitu lirih.
Lansonia menarik napasnya dengan begitu dalam bersamaan dengan rasa sakit yang sedang mengalir dalam dirinya. "Yang mempunyai kesalahan dan pantas untuk mmenerima hukuman darimu adalah diriku, bukan dirinya." Lansonia kembali meringis kesakitan, bahkan dasi Arsenka saja sudah bahas dipenuhi oleh air matanya.
Mendengar kalimat tersebut membuat Arsenka terdiam, ada sebuah hal yang mendadak terlintas dalam pikiran Arsenka saat mendengarnya. "Apa yang kau maksud?" tanya Arsenka yang ingin mendengar sebuah penjelasan dari Lansonia.
"Because there's baby in my tummy."
Degh!
Arsenka begitu terdiam mendengar apa yang sudah Lansonia ucapkan, dia terasa kehilangan oksigen yang akan dia hirup sampai akhirnya dia berhenti bernapas sejenak, bahkan jantungnya juga berhenti berdetak saat itu juga.
"I'm pregnant ..." lirih Lansonia sambil menahan rasa sakit yang terasa begitu berlipat.
Kedua manik Arsenka membulat. "Jangan kau katakan kalau diperutmu ada anakku." Arsenka akan merasa begitu terpukul kalau kalimat itu dia dengar keluar dari mulut Lansonia mengingat apa yang sudah dia perbuat.
Lansonia terdiam sejenak, rasa sakitnya seolah terlupakan begitu saja. "Kalau bukan anakmu, lalu anak siapa? Aku tidak pernah bersetubuh dengan laki-laki, selain dirimu!" beber Lansonia yang kemudian kembali mengerang kesakitan.
"DAMN! Why you so STUPID! ARHK!" erang Arsenka yang kemudian melemparkan rantai itu ke sembarang arah.
Arsenka langsung melangkahkan kakinya ke arah di mana Lansonia berada, melepaskan dasi yang semula menutupi mata Lansonia bersamaan dengan air mata Lansonia yang jatuh menelusuri pipi mulusnya. Arsenka juga membuka rantai yang semula mengunci tangan Lansonia cepat.
Deru napasnya semakin tidak teratur, dia tidak sebodoh itu untuk memahami maksud dari kalimat Lansonia. Pikirannya bercampur aduk sekarang, terlebih melihat darah mengalir keluar yang membuat paha Lansonia berlumuran darah.
Tidak memikirkan apa yang sudah dia perbuat sebelumnya, Arsenka langsung memangku Lansonia. Pergi dari tempat ini menaiki anak tangga tanpa memikirkan betapa beratnya tubuh Lansonia sekarang.
"Siapkan mobil sekarang!" seru Arsenka sambil menatap Ayahnya yang sekarang sedang duduk di sofa menatap layar laptopnya.
"Dia sudah meninggal?" tanya Robert dengan begitu entengnya. Sama sekali tidak ada yang tahu kalau Lansonia sekarang tengah hamil, sehingga tidak ada yang menghentikan rencana Arsenka.
Napas Arsenka semakin memburu sekarang. "Kalau dia meninggal akan ada satu Sacalorskaf yang meninggal!" jelas Arsenka dengan penuh penekanan.
Mendengar hal tersebut membuat Robert langsung bangkit dan melangkahkan kaki ke arah di mana Anak serta menantunya berada. "What do you mean?" tanya Robert kebingungan.
"Bisa tidak kalau kau bertanya sambil berjalan keluar mempersiapkan mobil?!" tanya Arsenka yang begitu membentak Ayahnya, sebab sudah kesal dengan sikap Ayahnya.
Lansonia menutupi kupingnya yang terasa sakit mendengar suara Arsenka yang begitu membentak, terlebih dia begitu dekat dengan bibir Arsenka. "Bisa tidak kalau kamu tidak usah teriak-teriak? Telingaku sakit," ucap Lansonia dengan begitu santai.
Arsenka tidak memikirkan apa yang sudah Lansonia ucapkan, dia langsung melangkahkan kakinya bersama dengan Robert menuju ke mobil dan Arsenka ingin kalau Ayahnya yang mengemudikan, karena tidak mungkin dia membiarkan Lansonia dalam keadaan seperti ini di belakang sendirian.
"Apakah dia sedang mengandung?" tanya Robert di tengah perjalanan. Ia merasa curiga akan hal ini, terlebih sudah mendengar kalau akan ada satu Sacalorskaf yang mati.
Mendengar pertanyaan tersebut, Arsenka berdecak kesal. "Iya, ada Cucumu dalam perutnya." Kekesalan serta penyesalan bercampur menjadi satu dalam diri Arsenka.
Mengetahui hal itu, membuat Robert juga merasa emosi. "Kalau sampai Cucuku kenapa-kenapa kau yang harus bertanggung jawab!" ujar Robert menatap sinis Anaknya dari kaca.
"Pada akhirnya aku yang disalahkan." Arsenka semakin merasa kesal akan hal ini. "Padahal semuanya gara-gara perempuan bodoh ini yang tidak mengaku kalau dia sedang mengandung," lanjut Arsenka sambil menatap Lansonia kesal.
Robert kembali menatap Anaknya. "Kau Suaminya, tapi kau tidak tahu kalau dia sedang mengandung Anakmu. Suami macam apa dirimu?" sindir Robert yang benar-benar kebingungan dengan Anaknya.
Ssttt
Melihat Suaminya yang hendak membuka mulut untuk menjawab perkataan Ayahnya, membuat Lansonia menempelkan tangannya menutup muluk Suaminya.
"Ingat. Dia adalah anakmu, aku yakin dia juga sepertimu—kuat. Dia tidak akan kenapa-kenapa, apalagi yang tidak sengaja melukainya adalah Ayahnya." Di sini Lansonia berusaha untuk tenang agar Suaminya tidak semakin emosi.
Lansonia perlahan menempelkan dua telunjuknya yang kemudian dia menarik bibir Arsenka agar tercipta sebuah lengkungan di bibir Arsenka. "It's your baby," ucap Lansonia lembut.
Melihat Istrinya yang begitu tenang, membuat sebuah rasa tenang sedikit menghampiri dirinya. Arsenka mencoba uuntuk menstabilkan emosi yang ada dalam dirinya, karena emosinya tidak akan berdampak apa-apa, sebab semuanya sudah terjadi.
*****
Calistefy Hospital
Arsenka menatap serius Lansonia yang sedang terbaring di atas ranjang Rumah Sakit. "Kalau sampai bayiku kenapa-kenapa, akan kubunuh kau sekarang juga." Tatapan Arsenka begitu serius.
Seorang Dokter melangkahkan kaki masuk ke Ruangan dengan membawa beberapa kertas serta hasil USG kandungan Lansonia, dari ekspresi yang Dokter itu pasang tidak terlihat tanda-tanda kalau Bayi dalam kandungan Lansonia kenapa-kenapa.
"Dok, bagaimana keadaan bayi saya?" tanya Arsenka langsung. Begitu terlihat kalau Arsenka menyayangi bayi dalam kandungan Lansonia, sampai sedari tadi dia mengatakan kalau yang ada dalam kandungan Lansonia adalah bayinya.
KAMU SEDANG MEMBACA
LOVE IS DANGEROUS : DEBILITATING
Romance"Kenapa kau ingin Lansonia, akan kau apakan dia?" "Akan kunikahkan dia dengan anakku." "Aku tidak akan sudi kalau anakku harus menikah dengan anak dari bajingan sepertimu!" ~~~~ Arsenka memperhatikan perempuan yang sudah resmi menjadi istrinya den...
